12; mengalah

92 7 0
                                        

Hari ini hari Minggu. Seperti biasa, Kyungsoo datang menjenguk anak-anaknya karena ini hari libur. Pria itu sedang duduk di ujung sofa sambil menonton televisi. Di ujung lainnya, ada Jihan yang tengah mengandung yang juga sedang menonton televisi. Sementara itu Soora dan Daehan duduk di karpet, keduanya sedang menggambar dan mewarnai di buku gambar masing-masing.

"Kakakk" ujar Daehan sambil menunjuk pensil berwarna biru yang tengah dipakai Soora.

"Kamu mau pinjam ini? Kakak masih pakai" kata Soora sambil menoleh sekilas lalu kembali fokus pada buku gambarnya.

"Aaaa mauuuu!" Daehan merengek.

"Ish kakak juga perlu!" Soora menggerutu.

Perdebatan kedua anak itu langsung menyita perhatian kedua orang tua mereka. Kyungsoo dan Jihan langsung bertatapan. "Kyungsoo, aku tau mereka belum bertengkar. Tapi maaf, aku angkat tangan duluan" kata Jihan sambil tersenyum tipis dan mengangkat kedua tangannya.

Kyungsoo tersenyum pasrah, membayangkan dirinya akan segera mengurus pertengkaran tak lama lagi. "Yah, silahkan masuk duluan Jihan" ujarnya. Jihan nyengir lalu segera pergi ke dapur.

Sepeninggal Jihan, Kyungsoo langsung menghampiri kedua anaknya dan ikut duduk di karpet.

"Ayaaahh!" rengek Daehan, berharap dibela ayahnya.

"Kenapa ini kenapaa?" tanya Kyungsoo.

"Ini Daehannya mau pinjam pensil warnaku, tapi aku kan masih pakai!" Soora cemberut.

"Kakak masih lama pakainya? Harus pakai yang warna itu?" tanya Kyungsoo.

Soora mengangguk dengan bibir bawah maju. "Ini tugas sekolahku ayah, dikumpulkan besok"

"Hmm" Kyungsoo manggut-manggut. "Eh ini ada warna biru juga loh, Daehan pakai yang ini aja" ujarnya sambil menggoyangkan sebuah pensil berwarna biru tua.

"Daehan maunya yang ituuuuu!" Daehan bersikeras sambil menunjuk-nunjuk pensil warna biru yang dipegang kakaknya. "Mau ituuuu" kini anak berusia tiga tahun itu menendang-nendang kakinya. Jihan yang berada di dapur diam-diam menguping.

"Daehan dengarkan ayah" Kyungsoo memegang kedua tangan Daehan. "Kan ada banyak warna yang lain, nak. Daehan pakai yang lain dulu, nanti kalau kakak sudah selesai Daehan bisa pakai"

"Maunya cekayanggg" Daehan ikut memajukan bibir bawahnya. Kini kedua anak Do itu sama-sama cemberut.

Hadeh. Kyungsoo hanya bisa mengeluh dalam hati.

"Daehan nggak boleh gitu. Nggak semua keinginan bisa dituruti, Daehan. Daehan harus belajar mengalah. Daehan dan kakak Soora itu saudara, kalian tumbuh besar bersama, kalian hidup bersama, jadi harus akur. Harus saling berbagi dan mengalah. Ingat itu ya" wajah Kyungsoo terlihat serius, membuat Daehan jadi terintimidasi. "Ayah nggak suka lihat kalian bertengkar"

Daehan tak menjawab. Anak itu hanya menatap Kyungsoo takut-takut.

"Daehan-ah!" terdengar panggilan sang ibu dari dapur. Tapi Daehan hanya menoleh ke dapur tanpa menjawab panggilan itu.

Merasa tak direspon, Jihan pun keluar dari dapur. Alisnya berkerut kala mendapati anaknya sedang menatap dapur tapi belum beranjak sedikitpun. "Sini Daehan" panggilnya lagi. Kali ini Daehan akhirnya bangkit dan menghampiri sang ibu. Jihan langsung menggandeng tangannya dan mengajaknya ke dapur.

Sesampainya di dapur, air mata Daehan sudah meleleh. Anak itu menangis tanpa suara, hanya meneteskan air mata dengan bibir cemberut. Wanita itu langsung berjongkok di hadapan putra bungsunya dan memegang kedua tangannya. "Daehan sedih?" tanya Jihan. Daehan mengangguk.

"Apa kata ayah?" tanyanya lagi, meski sebetulnya dia sudah dengar semuanya sendiri.

"Kata ayah... hayus mengalah..." kata Daehan dengan lidahnya yang masih cadel. Tangan mungilnya menghapus air mata di pipinya.

Jihan tersenyum tipis lalu mengelus punggung tangan Daehan yang halus. "Ayah tuh enggak marah, dia cuma pingin kalian akur. Kalian kan adik-kakak, masa berantem sih" ujar Jihan. "Sudah-sudah, tidak apa-apa. Setelah ini jangan lupa minta maaf sama kakak. Jangan sedih lagi ya" kata Jihan sambil mengelap pipi tembam Daehan yang basah, kemudian memeluknya. Ia usap-usap rambut tipis Daehan dengan lembut.

Jihan melepas pelukannya. "Daehan mau apa? Ibu bikinkan"

"Mau... yoti..."

"Roti isi apa? Cokelat?" tanya Jihan. Daehan mengangguk. Tak lama, Jihan sudah sibuk membuat roti cokelat untuk anak bungsunya.

Sementara itu, di ruang tengah tersisa Soora dan Kyungsoo berdua. Anak perempuan yang tadinya asyik menggambar itu menghentikan kegiatannya setelah adiknya dipanggil sang ibu ke dapur.

"Ayah, Daehannya jangan dimarahin dong" protesnya. Diam-diam ia merasa tak tega kala adiknya diceramahi didepannya.

"Ayah nggak marah, ayah cuma menasihati" jelas Kyungsoo.

Soora memicingkan matanya. "Wajah ayah seperti marah. Seram"

Kyungsoo menghela nafas. "Ayah betulan nggak marah Soora, percayalah"

"Nanti minta maaf sama Daehan ya ayah"

"Iyaaa" Kyungsoo mengiyakan. Soora pun kembali melanjutkan gambarannya.

Di dapur, roti isi cokelat sudah selesai dibuat Jihan. Ia juga memanggang roti itu sebentar supaya hangat. Setelah selesai, ia menyajikannya di meja makan bersama dengan jus melon.

Jihan ikut duduk di samping Daehan, menatap anaknya yang langsung fokus dengan roti isi cokelat kesukaannya. Sesekali, Jihan tersenyum kecil melihat anaknya. Tangannya bergerak membersihkan cokelat yang menempel di sudut-sudut bibir Daehan.

Daehan menoleh dan menatap sang ibu, lalu tersenyum manis. "Terima kasih ibu"

Jihan mengangguk, lalu tersenyum manis. "Jangan sedih lagi ya, ibu tidak suka melihat Daehan sedih"

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang