21; kontrak

79 6 4
                                        

"Ayah pulaang!" seru Kyungsoo sambil melepas sepatunya. Dengan semangat, pria itu masuk ke dalam rumah.

"Ayaaah!" gadis kecil berusia empat tahun berlari menghampiri Kyungsoo.

Kyungsoo dan anak-anaknya kini sudah tak lagi tinggal di dorm. Kyungsoo telah membeli sebuah rumah di daerah yang sama dengan rumah lama Jihan, namun ukuran rumahnya tidak sebesar rumah Jihan. Menurut Kyungsoo, dorm terlalu sempit untuk ditinggali anak-anaknya. Apalagi, Kyungsoo sendiri memang tak terlalu suka tinggal di apartemen, dia lebih suka tinggal di rumah. Namun, selama tiga tahun setelah kepergian Jihan, Kyungsoo merasa anaknya akan lebih terurus jika tinggal di dorm karena di dorm ada banyak orang yang bisa membantunya menemani dan menjaga anak-anaknya. Namun beberapa bulan yang lalu, Kyungsoo merasa anak-anaknya sudah cukup besar jadi Kyungsoo rasa dia sudah bisa menjaga anak-anaknya sendiri—dengan bantuan Pak Kim tentunya. Soora dan Daehan pun sudah besar dan sudah bisa merawat diri mereka sendiri. PR terbesar Kyungsoo sekarang hanya Soojin yang masih berusia empat tahun.

"Hai anak ayah!" sapa Kyungsoo. Wajahnya tampak berseri-seri. "Ayo panggil kakak-kakakmu, kita makan diluar"

"Asyik!" Soojin berseru girang. Anak itu langsung berlari ke dapur karena kedua kakaknya sedang berada di dapur. Kyungsoo menyusul tak lama setelahnya.

"Kita mau makan diluar, yah? Dalam rangka apa?" tanya Soora begitu Kyungsoo tiba di dapur. Sebelumnya Soora dan Daehan sedang mengobrol ketika Soojin datang menghampiri.

"Dalam rangka... ayah sudah bebas!" seru Kyungsoo.

Soora mengerut keningnya bingung. Namun sedetik kemudian, matanya langsung membulat. "AYAH BEBAS? AYAH SUDAH BEBAS DARI PERUSAHAAN PINK YANG MENYEBALKAN ITU?!" serunya heboh.

"HAH? AYAH SUDAH BUKAN PEGAWAI DISANA LAGI?!" Daehan ikutan heboh begitu dia paham topiknya.

Kyungsoo mengangguk semangat. "Makanya kita harus rayakan!"

———

Keluarga kecil itu kini duduk di sebuah restoran Korea. Kyungsoo sibuk memanggang daging sapi, sementara ketiga anaknya asyik menatap daging-daging tersebut dengan penuh minat. Setelah daging sapi itu matang, Kyungsoo meletakkannya di piring anak-anaknya. Mereka makan dengan perasaan senang, terlebih karena Soora dan Daehan pun paham perjuangan dan kesulitan ayahnya di perusahaan itu.

"Berarti kontrak ayah sudah selesai? Ayah benar-benar terlepas dari perusahaan itu?" Daehan memulai pembicaraan sambil membungkus dagingnya dengan daun perilla.

"Sudah. Hari ini tanggal expirednya. Mulai besok kontrak ayah sudah selesai, tidak berlaku lagi" jawab Kyungsoo.

"Bukannya ayah sudah dua kali tanda tangan kontrak dengan perusahaan itu, ya? Kan ayah sudah 15 tahun disana. Kenapa baru sekarang ayah tidak lanjutkan kontraknya? Kenapa enggak lima tahun yang lalu?" tanya Soora penasaran. Ditatapnya sang ayah yang duduk di hadapannya.

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu meletakkan sumpit yang sebelumnya dia pegang. "Karena ayah nggak mau kalian kenapa-kenapa" ujarnya sambil melipat tangan di meja. "Kalian tahu tidak? Kontrak ayah yang pertama berakhir waktu Soojin sudah ada di perut ibu kalian. Ayah nggak mau kalian yang terkena imbas kalau ayah tidak lanjutkan kontraknya. Takutnya kalian yang diganggu, apalagi waktu itu identitas kalian belum diketahui publik kan. Untung kontrak yang kedua hanya lima tahun, tidak sepanjang yang pertama"

Soora terdiam sebentar, lalu lanjut bertanya. "Kalau sekarang, ayah sudah tidak takut?"

Kyungsoo menggeleng. "Kalau sekarang, mereka nggak akan berani mengusik kalian. Nanti publik yang marah kalau mereka macam-macam"

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang