"Terima kasih banyak seonsaengnim. Saya pamit pulang ya" ujar Jihan sambil membungkuk kearah guru wali kelasnya. Wanita berkacamata itu tersenyum ramah dan ikut membungkuk singkat. Jihan pun keluar dari ruang guru bersama sang ibu.
Wanita itu tersenyum bangga lalu membelai rambut hitam Jihan yang indah. "Selamat ya nak, baru kelas satu sudah peringkat satu aja. Eomma bangga sekali" ucapnya. Jihan tersenyum manis. "Terima kasih eommaa" balasnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu. Keduanya mulai menjauh dari area sekolah. Rumah Jihan cukup dekat dengan sekolahnya, jadi biasanya dia memang selalu berjalan kaki.
"SHIN JIHAAAAN!" sebuah suara yang familiar berteriak lantang dari arah belakang. Jihan dan ibunya sontak menoleh, lalu agak jauh disana tampaklah seorang anak lelaki berseragam tengah berlari di jalanan yang menanjak. Wajah dan seragamnya tampak dibasahi peluh.
"Kyungsoo?" gumam Jihan heran. Sewaktu mengambil rapor tadi, Jihan tak bertemu dengan Kyungsoo sama sekali, apalagi mereka berbeda kelas. Alis Jihan berkerut heran melihat Kyungsoo yang lari-lari mengejarnya sampai penuh keringat, padahal yang Jihan tau Kyungsoo itu tidak suka berkeringat.
"Siapa? Pacarmu?" tanya ibu Jihan.
"Ih, bukan. Dia anak kelas sebelah, temanku" jelas Jihan. "Eomma duluan saja, aku mau bicara dengan dia dulu"
"Baiklah" tanpa bertanya lebih lanjut, ibu Jihan segera melanjutkan langkahnya, meninggalkan Jihan yang berdiam di tempatnya menunggu Kyungsoo, lelaki yang tak dikenal ibu Jihan sama sekali. Bahkan melihatnya pun ibu Jihan belum pernah, karena Jihan tak pernah mengajak Kyungsoo main ke rumahnya.
"Waeyo, Kyungsoo?" tanya Jihan ketika Kyungsoo sudah sampai di hadapannya.
Lelaki itu memegang lututnya, nafasnya tersenggal. Setelah mengatur nafasnya, Kyungsoo menegakkan tubuhnya dan menatap Jihan serius, membuat Jihan makin kebingungan. Kyungsoo menghela nafasnya. "Jihan! Ayo pacaran!" serunya tanpa ragu.
"Hah?" Jihan terkejut bukan main. Apa-apaan barusan itu? "Kamu mengajakku pacaran?" tanyanya berusaha meyakinkan.
"Iya!" jawab Kyungsoo.
"Nggak romantis sekali!" ejek Jihan.
"Nanti aku kasih yang romantis, tapi nggak bisa sekarang, soalnya mendadak. Nanti habis liburan"
"Yasudah kalau begitu pacarannya juga habis liburan saja"
"Nggak! Kita harus pacaran sekarang!"
"Memang kenapa sih?"
"Soalnya liburan ini aku di Australia"
"Ya terus kenapa?"
"Nanti ada yang ngajak kamu pacaran selagi aku nggak disini"
"PFFTT HAHAHAHAH" Jihan langsung tertawa kencang. "Kamu takut aku direbut orang?"
Kyungsoo mengangguk polos.
Jihan masih tertawa. "Yasudah, kita pacaran. Tapi ada syaratnya ya! Syaratnya kita harus terus berkabar. Kamu punya alamat email-ku kan? Kita berkabar lewat email ya"
"Oke!" Kyungsoo langsung mengangguk setuju. "Tapi kamu janji ya jangan lirik cowok lain"
"Iyaa. Kamu juga janji ya jangan lirik cewek bule disana!"
Kini Kyungsoo yang tertawa. "Iyaa, aku janji"
Dan begitulah, sesingkat dan sesimpel itu, keduanya menjadi sepasang kekasih. Jihan pada waktu itu tak benar-benar melihat Kyungsoo sebagai seorang laki-laki. Baginya Kyungsoo seperti adiknya yang harus ia jaga, meski pada kenyataannya Kyungsoo lebih tua dari Jihan. Bahasa Koreanya yang belum terlalu fasih membuatnya terlihat semakin lucu ketika mengajak Jihan berpacaran. Jihan tertawa dalam perjalanan pulangnya kala mengingat kejadian tak terduga tadi.
Ketika sampai di rumah, hanya ada ibunya di ruang tamu. Ayahnya belum pulang kerja. Jihan meletakkan tasnya di kamarnya, lalu langsung duduk di sofa ruang tamu bersama ibunya. "Eomma, tadi eomma tanya kan, Kyungsoo pacarku atau bukan?"
"Iya" sang ibu hanya mengangguk sambil menatap anaknya serius.
"Sekarang dia betulan jadi pacarku eomma, hahahah" Jihan tergelak.
"Kok bisa?" ibu Jihan terkejut, namun ia tersenyum tak sabar menanti cerita dari sang anak. Jihan langsung menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada sang ibu sambil tertawa-tawa. Ibunya juga ikut tertawa membayangkan kepolosan Kyungsoo. Dia jadi ingin cepat bertemu Kyungsoo dan berkenalan dengannya.
Jihan saat itu berfikir hubungannya dengan Kyungsoo hanya main-main. Dia pikir Kyungsoo tak serius, karena dirinya juga tak serius. Tanpa dia sadari, lama kelamaan dia betulan nyaman dengan keberadaan lelaki itu di sekitarnya, dan dia betulan jatuh cinta pada lelaki Korea yang tak fasih berbahasa Korea itu. Bahkan ketika dia melangsungkan pernikahannya dengan Kyungsoo sekalipun, dia masih tak bisa percaya bahwa dia benar-benar menikahi lelaki yang biasa ia lihat mengenakan seragam SMA, yang dipikirnya hanya iseng beberapa tahun lalu.
"Kamu pikir dulu aku bercanda, ya? Aku serius, Jihan. Sejak awal aku serius denganmu" ujar Kyungsoo di hari pernikahannya, tersenyum sambil menatap wanita yang telah sah menjadi istrinya.
Jihan hanya tertawa kecil, sambil menatap dalam kearah mata bulat suaminya. Meski mereka menikah karena Jihan hamil, tapi tak ada yang mereka sesali saat itu. Untuk beberapa saat, Jihan tetap menatap kearah mata Kyungsoo yang selalu menjadi favoritnya sejak pertama mereka bertemu. Mata bulat itu seperti menghipnotis Jihan, membuatnya jatuh semakin dalam setiap kali melihatnya, bahkan setelah bertahun-tahun bersama pria itu.
He fell first, but she fell harder.
Iya she fell harder cuma dia nggak tau aja setelah menikah ada badai apa yang menerjang rumah tangga mereka😭
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
Hayran KurguKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
