"Imo, aku titip Soora ya" ujar Kyungsoo pada Song Imo. Wanita itu hanya mengangguk sambil mengambil alih anak perempuan berusia tiga tahun yang sebelumnya berada di gendongan ayahnya itu. Semalam Soora ikut ayahnya ke apartemennya, dan hari ini bertemu dengan Song Imo di sebuah gedung yang buat Soora menyeramkan. Ada belasan pintu yang sudah dilihatnya sebelum mencapai pintu di depan tempat duduk Song Imo yang membuat ayahnya berhenti melangkah.
"Jihan sudah di dalam" jelas Song Imo. Kyungsoo mengangguk paham, lalu membelai rambut putrinya. "Soora baik-baik disini sama imo ya"
"Ayah... mau temana? Sooya itut!" rengeknya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"Soora disini dulu ya sayang, ayah ada urusan di dalam. Soora enggak bisa ikut" Kyungsoo tersenyum getir, lalu mencium kening Soora. Setelah itu, ia langsung membuka pintu di hadapan Soora, lalu masuk ke dalamnya. Soora hanya terdiam, menatap nanar kearah punggung sempit ayahnya, sampai akhirnya punggung itu menghilang dibalik pintu yang tertutup kembali.
———
"Dengan demikian, pengadilan telah mengabulkan gugatan cerai yang telah diajukan oleh penggugat, Shin Jihan, terhadap tergugat, Do Kyungsoo. Adapun hak asuh anak, Do Soora, tiga tahun, jatuh kepada ibu, Shin Jihan, sesuai dengan yang tertera dalam undang-undang"
Tok tok tok
Palu diketuk, pertanda putusan yang diucapkan oleh hakim tersebut sudah resmi. Pengadilan yang sudah lumayan menyita waktunya belakangan ini, akhirnya berakhir. Proses perceraian Jihan dan Kyungsoo tak memakan waktu lama, karena tak ada konflik besar diantara keduanya selama proses perceraian, keduanya sama-sama sudah setuju untuk bercerai. Tidak ada masalah terkait harta gono-gini maupun uang tunjangan. Tidak ada perebutan hak asuh juga diantara mereka berdua, jadi proses perceraian bisa berakhir dengan cepat.
Sejujurnya, Kyungsoo ingin memperjuangkan hak asuh Soora agar jatuh padanya. Namun, setelah beberapa kali berkonsultasi dengan pengacaranya, Kyungsoo memahami bahwa anak-anak dibawah umur harus dirawat oleh sang ibu, kecuali sang ibu tidak sanggup dan tidak mampu mengasuhnya. Dalam hal ini, Kyungsoo tahu Jihan sangat sanggup dari segi finansial. Meski Jihan tidak bekerja, Kyungsoo tahu Jihan punya banyak uang. Apalagi setelah perceraian ini, Kyungsoo yakin Jihan akan mulai bekerja setelah ini. Jihan hanya tak bisa menyanggupi untuk merawat anaknya sendiri, selain dari itu dia lebih dari sanggup. Selain itu, Kyungsoo juga berpikir soal jadwalnya yang padat. Kyungsoo pikir, dengan jadwalnya yang sangat padat, hidup anaknya lebih terjamin dan lebih aman bersama ibunya. Lingkungan rumah ibunya juga lebih mendukung untuknya.
Sambil menghela nafasnya, Kyungsoo bangkit dari duduknya. Dirinya langsung berhadapan dengan Jihan yang kebetulan juga baru bangkit dari tempat duduknya. Sambil tersenyum tipis, ia menyodorkan tangannya, yang disambut dengan jabatan tangan oleh Jihan. "Terima kasih untuk delapan tahunnya, ya. Lima tahun kita pacaran dan tiga tahun menikah, itu bukan waktu yang sebentar. Terima kasih... dan aku minta maaf atas segalanya. Aku memang brengsek"
Jihan ikut tersenyum tipis. "Aku juga terima kasih dan minta maaf. Maaf aku selalu menjadi bebanmu. Kamu memang brengsek, tapi aku enggak pernah menyesal sudah menikah denganmu. Oh iya, kamu boleh mengunjungi Soora kapanpun kamu mau. Sesuai kesepakatan kita sebelumnya, enggak ada pembagian khusus"
"Terima kasih" Kyungsoo mengangguk, kemudian ia teringat sesuatu. "Oh, ini" ujarnya sambil membuka map yang dibawanya, lalu menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Jihan. Jihan menerimanya dengan bingung, lalu mulai membacanya perlahan.
"Rumah itu untukmu. Sebetulnya rumah itu sudah atas namamu sejak sebulan yang lalu. Aku rasa cuma itu yang bisa kuberikan untukmu" jelasnya selagi Jihan membaca.
Mata Jihan membulat tak percaya. "Kyungsoo, aku gak bisa menerima ini. Itu rumahmu" katanya sambil kembali menyerahkan kertas itu kepada Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum, menolak menerima kertas itu. "Tolong terima, Jihan-ah. Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk memastikan kalau kamu dan Soora tinggal dengan baik dan nyaman" ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Jihan. "Oh ya, uang tunjangan aku kirim setiap tanggal satu ya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
FanfictionKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
