Chapter 18. Kemenangan pahlawan.

2.1K 209 12
                                        

Berlari di sekitar gang, aku mengamati dari atas atap sementara Shoto berada di bawah ku melewati beberapa gang kecil yang ada.

"Ketemu!"

Shoto segera melakukan serangan kepada pembunuh pahlawan yang hendak  menyerang Lida yang sedang berbaring di tanah. Aku tidak tau apa yang dia lakukan dengan berbaring di sana, sepertinya dia kesulitan untuk bergerak.

"Maaf terlambat!"

Setelah serangan yang di lancarkan Shoto menggunakan apinya, pembunuh pahlawan Stain itu mengambil langkah jarak aman agar tidak terkena jangkauannya.

Dentang!!

"Ohh, ketahuan ya." Padahal aku sudah berusaha untuk tidak terlihat menyerang nya dari atap, namun sepertinya itu percuma saja.

"Katana yang bagus, aku ambil ini."

Dia hendak merampas Katana ku dengan teknik rampasnya, namun aku segera menarik Katana ku dan menghentak tangannya menggunakan siku. Memutar dan menyerangnya kembali, namun dia menahan serangan ku lagi yang membuat percikan api keluar akibat bentrokan antara logam.

"Permainan katana yang bagus di sana gadis kecil. Kalian terus saja bermunculan."

Aku melompat beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak.

"Rimuru-san!"

"Rimuru-desu. Lagian kenapa kau tengkurap seperti itu?"

"Rimuru-kun, Todoroki-kun, kenapa kalian juga ada di sini." Lida dengan susah payah berbicara.

"Hmm, 'Kenapa?' itu juga yang ingin kami tanyakan. Midoriya bukanlah orang yang akan mengirim pesan tak jelas seperti itu."

"Ya, karena itulah kami segera pergi ke lokasi yang telah di tandai, dalam beberapa menit juga. Para pahlawan pro akan datang kemari." Shoto melanjutkan. Todoroki mengeluarkan Quirk es miliknya menyerang Stain, di susul dengan api miliknya. Itu hanya untuk pengalihan karena tujuan dia adalah untuk membawa seluruh orang yang ada menggunakan es miliknya. Ada Lida, Midoriya dan satu pahlawan pro yang sudah berada di belakang tubuhnya.

"Takan ku biarkan kau membunuh mereka, Hero killer." Shoto sudah bersiap dengan api yang ada di sisi kirinya.

"Todoroki-kun, Rimuru-san. jangan biarkan dia mendapatkan darah mu! Kemungkinan dia bisa melumpuhkan kita hanya dengan meminum darah kita! Itulah sebabnya kami tidak dapat bergerak!"

Jadi itu alasan kalian tengkurap bersamaan seperti itu.

"Terimakasih untuk penjelasannya, Midoriya!" Pantas saja dia memakai senjata tajam sebagai senjata utamanya.

Aku hendak berlari menyerangnya, namun sesuatu sudah berada di depan wajahku. Itu adalah pisau yang dia lempar saat aku lengah. Percikan api kembali muncul saat aku menangkis nya menggunakan Katana.

"Merepotkan, refleks yang tidak masuk akal."

Quirk miliknya tidak terlalu kuat, namun merepotkan. Sekali kena saja maka kekalahan kami sudah pasti. Tapi tidak mungkin bukan Quirk itu akan bekerja selamanya, pasti akan ada batas waktu sehingga mereka tidak dapat bergerak.

Petir hitam mulai mengelili tubuhku sekaligus menuju ke katana miliku, melesat dengan cepat. pedang kami beberapa kali berbentrokan. Serangan Shoto benar-benar bagus saat melihat sedikit celah sehingga berhasil sedikit memojokkan Hero killer yang tengah kamu lawan.

"Kek!!"

Sial, dia bermain katana bersamaan melempar pisau ke arah Shoto. Dia melompat ke sisi tembok dan menerjang ke arah Shoto dengan cepat, tubuhku bergerak dua kali lipat saat ingin menebas kepalanya. Apakah aku akan di hukum jika membunuhnya sekarang? Wahh, menjadi Hero benar-benar merepotkan.

Rimuru X Boku no Hero.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang