Semua orang terkejut saat melihat pahlawan api no.1 Endeavor berubah menjadi debu dalam sekejap. Apalagi Shoto yang memiliki wajah syok karena melihat ayahnya terbunuh di depan matanya sendiri.
Namun getaran besar mengalihkan pandangan kami, itu adalah Monster raksasa. Bawahan langsung dari All For one yang sedang menuju kemari, setiap langkah nya menimbulkan kerusakan dan gempa bumi yang kuat.
"Kerja bagus, Machia. Kau datang tepat waktu."
Shigaraki menyeringai saat dia masih berada di udara. Aku juga merasakan keberadaan orang lain yang ada di punggung monster raksasa tersebut.
"Mundur ... Kita harus mundur terlebih dahulu."
"Hah!?"
Mendengar perkataan ku, Shoto, Kacchan, dan Midoriya terkejut bukan main.
"Kita tidak bisa menghubungi pusat, para pahlawan pro yang lainnya juga sibuk mengurusi High end Noumu. Sekarang, para Penjahat itu sudah berkumpul. Untuk sekarang pilihan yang paling baik adalah mundur."
"Tunggu Rimuru ..., Kau yakin berbicara seperti itu setelah melihat banyak nya para pahlawan pro mati!?" Shoto melangkah dengan tatapan syok yang luar biasa, aku juga bisa melihat jejak kemarahan di matanya.
"Karena itulah kita harus mundur sekarang, kita tidak boleh menambah jumlah korban! Dan kau, Midoriya! Jangan pernah berpikir untuk menghentikan Shigaraki, lihat saja tangan mu. Kau sudah tidak bisa berbuat apa-apa."
Midoriya menatap tangannya dengan putus asa. Kacchan juga berkeringat karena tidak tau harus berbuat apa.
"Ayah ku ... Terbunuh di depan mataku sendiri ..., Dan kau meminta ku untuk mundur!?"
Bamm!
Mendengar ocehan dari Shoto, aku memukul kepalanya dengan keras sampai dia tersungkur ke belakang.
"Apa yang kau lakukan Kacchan, cepat bawa Midoriya untuk lari!"
"Ayo, sialan!"
Kacchan bereaksi atas perkataan ku, dia lalu menyeret Midoriya sementara aku menyeret Shoto.
"Cepat lari!!"
"Tapi..."
Shoto masih hendak memberontak, namun dia segera menyusul ku berlari. Meskipun air matanya mengalir, namun kakinya berlari mengikuti ku.
"Tidak akan ku biarkan. Machia, kejar mereka!"
Kita tidak bisa menghubungi kontrol pusat untuk mendapatkan perintah kembali, jadi tidak ada pilihan lain selain mundur untuk saat ini. Meskipun banyak para pahlawan yang gugur, kita tidak boleh menambah jumlah korban.
"Monster itu mengejar oi!!" Teriakan Kacchan terdengar, kami bertiga juga sekarang melihat ke belakang bersamaan. Machia yang telah membawa Shigaraki, mengejar kami dengan para penjahat lain yang ada di punggung nya.
Kita mengambil jalan lain, lalu siapa yang memberikan arahan pada para pahlawan pro yang bertarung bersama Noumu? Tidak perlu perdulikan mereka untuk saat ini.
"Dia akan menyusul!!"
"Target mereka adalah aku! Biarkan aku yang mengalihkan perhatian mereka!" Teriak Midoriya, hendak mengambil arah lain. Namun aku segera menahan tangannya, dan berlari ke arah Machia yang hendak mendekat. Larinya benar-benar sangat cepat.
"Serahkan padaku."
"Tunggu Rimuru!"
Aku sudah mengetahui siapa aku sebenarnya, bukan berarti aku tidak mau menggunakan kekuatan lain. Tapi aku memang tidak bisa. Tapi untuk kali ini, aku harus melakukannya. Turn Null, tolong pinjamkan aku sedikit saja. Hanya sedikit.
Jika harus di ibaratkan, itu seperti secangkir teh yang siap untuk di minum. Aku tidak meminum teh tersebut, melainkan hanya menghirup aromanya saja. Ini tidak bisa di sebut dengan Turn null karena aku hanya mengambil sepersekian persen saja.
Energi hitam samar menyelimuti tangan kanan ku.
Tiba di depan perut Machia, itu membuat para penjahat terkejut dengan kecepatan ku. Aku melayangkan pukulan tepat di perutnya.
Daya serangannya sangat kuat sampai-sampai membuat monster raksasa gigantomachia, tubuhnya retak dan hancur saat terpental jauh ke belakang dalam jangkuan lebih dari ratusan meter. Namun efek samping nya, tangan kanan ku juga meledak karena tekanan energi yang tidak dapat di tampung di tubuh ini. Tapi berkat mengorbankan tangan kananku, itu dapat membuat kita mengulur waktu untuk melarikan diri.
Seharusnya Machia juga terbunuh oleh serangan ku sebelumnya.
Tubuh Shigaraki telah terluka parah, All for One kehilangan bawaham terkuatnya. Aku yakin dia akan mundur terlebih dahulu di saat seperti ini. Ini juga menguntungkan kedua belah pihak.
"Rimuru!!"
Shoto panik saat melihat tangan kanan ku hancur tak bersisa hingga siku. Itu mengeluarkan darah segar yang sangat banyak.
Aku segera berlari ke arah Shoto dan mengambil perban dari pertolongan pertama yang ku bawa. Bukan hanya Shoto yang terkejut karena serangan ku, namun Midoriya dan Kacchan juga memiliki wajah syok.
Aku mengikat tangan kanan ku untuk menahan pendarahan dengan bantuan mulutku untuk mengikatnya.
"Oi, oi ... Yang benar saja ..." Kacchan sepertinya terkejut karena hal lain.
Aku melihat ke belakang untuk memastikan apa yang terjadi.
Itu ... Gelombang Decay Shigaraki!!
"Cepat lari!! Rimuru!"
Gelombang Decay miliknya lebih cepat dari pada sebelumnya. Shoto berlari ke arahku, sebelum dia menggendong ku dan berlari dengan bantuan api untuk mendorong tubuhnya. Melesat dengan lebih cepat. Kacchan juga menarik Midoriya, luka yang di derita Midoriya dapat memperlambat laju larinya.
Kacchan sendiri, mengatup Midoriya menggunakan kedua kakinya. Lalu ledakan yang sangat besar terjadi, mendorong tubuhnya jauh ke depan. Menjauhi gelombang Decay Shigaraki dengan sangat cepat.
Shoto juga melakukan hal yang sama, saat api dan es di satukan. Suhu yang dingin, saat mendadak di panaskan. Itu akan menciptakan ledakan yang sangat besar. Shoto juga mengeluarkan output maksimal. Membuat ledakan besar yang mendorong tubuhnya juga, sementara aku mati-matian memeluk lehernya agar tidak terjatuh. Tangan kanan ku sakit. Aku seperti akan pingsan kapan saja. Wajahku juga sudah memucat karena kekurangan terlalu banyak darah.
Shoto dan kacchan melakukan itu berulang ulang.
"Tunggu! Bagaimana nasib pada pahlawan yang sedang melawan Noumu? Burnin dan Kido juga ada di sana. Lalu, Aizawa-sensei dimana! Aku tidak melihatnya sama sekali!" Midoriya berteriak.
"Tidak tau, aku tidak tau!" Menutup wajahku di pundak Shoto, aku tidak berani menunjukan wajahku pada Midoriya.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu ..." Lirih Midoriya.
"Aku tidak tau! Nasib para pahlawan pro juga! Mereka akan selamat jika mereka beruntung! Aizawa-sensei... Aizawa-sensei sudah mati karena gelombang Decay pertama milik Shigaraki!! Dia sudah mati!!"
"Huh ...?"
Mereka bertiga terkejut mendengar teriakan ku.
"Aizawa-sensei ...?"
"Mati?"
"Tolong jangan bercanda ..., Rimuru-san." Suara Midoriya bergetar.
"Aku tidak bercanda! Aku sama sekali tidak bercanda. Dia sudah mati! Tepat di depanku!! Jangan memaksaku untuk berkata lebih jauh ... Tolong ... Dia sudah mati ... Karena ku ..."
Aku tidak tau harus mengekpresikan seperti apa perasaan ku saat ini, namun semua emosi yang saat ini ku rasakan. Itu tercampur aduk menjadi satu. Pandangan ku juga mulai tidak fokus.
Hanya ekpresi wajah putus asa dari Midoriya, yang terkahir kali aku ingat sebelum aku kehilangan kesadaran.
Sebenarnya ... Siapa yang harus di salahkan atas insiden ini terjadi?
Bersambung.
Menurut kalian, siapa yang harus di salahkan atas kekacauan ini terjadi?
Bisa aja pendapat kalian sama kaya Rimuru nanti di chapter selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimuru X Boku no Hero.
FantasíaRimuru kembali ke bumi dengan cara yang tidak dia ketahui. Tapi, bumi itu bukanlah bumi yang dulu Rimuru tempati. Rimuru nerf. Rimuru Fem, karena female Rimuru de bes :v
