"T-Tunggu! Aku tidak terlalu mengerti ... J-jadi maksudmu, Quirk petir hitam dan api hitam itu bukan milikmu!?" Midoriya masih berusaha untuk tenang sambil bertanya.
Aku mengangguk dengan tenang.
"Inheritance, hebat ... Kau bisa mendapatkan Quirk orang–."
"Hebat? Dari mananya itu terlihat hebat?"
"T-tidak, maksud ku ... Kau bisa mewarisi Quirk milik orang lain menjadi milikmu sendiri? ... Benarkan?" Midoriya bertanya kaku saat aku menatapnya.
"Saat pertama kali muncul, mungkin aku di anggap Quirkless karena Quirk ini sulit untuk di sadari. Lagian siapa juga yang mau memberikan Quirk miliknya sendiri kepada orang lain dengan cuma-cuma!?"
"Ahh ... Maaf ..."
"Yah, meskipun begitu aku tidak pernah mengalaminya, mungkin lebih tepatnya sudah tidak mengingat nya." Memeluk lutut ku sendiri, Midoriya di buat kembali bingung.
"Eh? Apa maksudmu!?"
"Dua tahun yang lalu, seorang pahlawan pro menemukan ku yang tak sadarkan diri di sebuah pantai. Mereka bilang saat itu aku terbawa arus ombak sehingga membuatku berada di tepi pantai. Setelah aku di bawa ke rumah sakit, dokter bilang kalau aku mengalami amnesia permanen."
"Tidak mungkin ..."
"Yang aku tau saat itu, hanya nama ku saja. Aku tidak dapat mengingat apapun. Dokter hanya bilang kalau aku memiliki Quirk ganda, yaitu petir hitam dan api hitam. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud dengan 'Quirk' namun setelah keluar dari rumah sakit. Aku mulai menyadari kalau ada banyak jenis kekuatan yang ada di dunia ini. Salah satunya adalah miliku."
"Kau hilang ingatan ..., Lalu bagaimana kau bisa menjalani hidup? Keluarga mu? Apa kau juga melupakannya? Jangan-jangan, pada saat itu kau bilang kalau tidak memiliki orang tua. Itu hanya dugaan mu saja karena tidak mengingat mereka?" Tanya Midoriya.
"Memang semua nya masih ambigu, aku tidak dapat mengingat jelas mereka, suara, maupun wajah mereka semuanya. Aku tidak dapat mengingatnya. Aku mulai bekerja sampingan di super market hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupku, dan tinggal di apartemen yang kecil hasil tabungan uang yang ku kumpulkan. Namun satu tahun kemudian, aku mulai menyadari sesuatu yang aneh dalam tubuhku. Itu adalah 'Quirk' milikku. Bukan Quirk hitam atau pun api hitam yang pemberian, namun Quirk asli miliku sendiri. Setelah menyadari keberadaan Quirk milikku, aku merasakan kalau kedua Quirk ini adalah peninggalan dari kedua orang tua ku. Meskipun sedikit tidak masuk akal, tapi aku mengetahui kalau mereka sudah tidak ada melalui kedua Quirk yang mereka tinggalkan. Entah karena insiden apa. Aku tidak mengetahui nya sama sekali."
Midoriya masih duduk, mendengarkan cerita ku dalam diam. Aku bisa melihat rasa simpati lewat ekpresi nya.
"Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan saat itu, meskipun aku tau kedua orang tua ku sudah tidak ada. Aku tidak tau harus berbuat apa saat itu. Haruskah aku menangis? Tapi untuk apa? Bagiku yang kehilangan ingatan, mereka sudah seperti orang asing. Tidak ada momen-momen yang mengingatkan ku tentang mereka sama sekali, lalu untuk apa aku menangis?"
"Rimuru-san..."
"Nah dengarkan saja dulu. Lalu satu tahun kemudian aku bertemu dengan mu dan All Might di pantai dekat tempat aku menyewa apartemen."
"Ah, pada saat itu ya."
"Ya, pada saat itu, aku di sambut dengan sapaan yang sangat tidak biasa."
Midoriya tiba-tiba membeku. "Aku benar-benar minta maaf soal kejadian di masa lalu!" Dia menundukkan kepalanya.
"Itu masa lalu, jadi tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu memikirkannya. Saat itu, aku tidak tau apa yang di pikirkan oleh All Might saat melihat Quirk milikku. Dia malah menyarankan ku untuk masuk ke sekolah U.A. Karena penasaran jadi aku melakukannua saja, lagian aku tidak memiliki kegiatan khusus. Tidak di sangka, ternyata sekolah begitu menyenangkan. Aku dapat bertemu dengan kalian semua, meskipun banyak sekali rintangan yang kita lalui semasa sekolah. Namun semuanya begitu menyenangkan saat aku bersama kalian. Setelah insiden penculikan Kacchan dan pensiunya All Might. Aku mendengar kalau U.A membuat sebuah asrama. Entah kenapa, saat itu aku merasa bersemangat. Tinggal bersama teman-teman, makan bersama, mandi bersama, berkumpul bersama, bermain bersama. Itu seperti mimpi, aku biasanya menjalani hari-hari ku sendirian. Jadi, aku sangat berterimakasih kepada All Might yang telah memberikan saran untuk masuk ke sekolah ini."
" ... "
"Hidupku menjadi berubah 180 derajat setelah masuk ke akademi ini."
"R-Rimuru-san!! Kau tersenyum!!" Midoriya panik saat wajahnya memerah.
"Oh maaf."
"T-tidak, maksudku, itu hal yang bagus jika kau merasa seperti itu. Setelah bersama Rimuru-san dalam waktu yang cukup lama, aku mulai menyadari kalau kau bukan lah seseorang yang tanpa emosi. Namun kau hanya saja sulit untuk mengekpresikan emosi apa yang sedang kau rasakan. Aku juga tidak menyangka kalau Rimuru-san ternyata banyak bicara."
"Kasar sekali."
"Ahaha maaf maaf, entah kenapa. Aku hanya senang saja. Saat aku pertama kali bertemu dengan mu, ku pikir kau adalah orang yang dingin dan tidak banyak bicara. Jadi, entah kenapa ... Aku merasa canggung saat itu jika berada di dekatmu. Jadi ini lah maksudnya dengan 'Tak kenal maka tak sayang', mungkin orang lain akan berpikiran sama dengan ku yang saat itu pertama kali bertemu. Namun aku yakin teman-teman juga memahami sifat asli mu, kau hanya ... Sedikit kaku ... Lebih terbuka lah sedikit kepada kami. Teman-teman mu jika kau memerlukan sesuatu."
"Kau menyayangi ku?"
Midoriya yang sedang menggaruk kepala bagian belakang... membeku dalam sekejap, sebelum seluruh wajahnya merah padam.
"Bu-bukan itu maksudku!! Kau tau .., itu hanya kata pepatah. Pepatah, ya pepatah." Midoriya mati-matian menjelaskan kesalahpahaman.
"Mengejutkan, aku mendapatkan pengakuan dari Midoriya. Haruskah aku senang?"
"Ku bilang bukan seperti itu!!"
"Aku tau ... Aku hanya sedikit menggodamu." Aku bangun sambil menepuk beberapa debu yang menempel.
"Sepertinya kita harus segera pergi, waktu untuk memakai tempat latihan ini sudah habis. Maaf, bukannya latihan, aku malah membuatmu mendengar kan ocehan ku."
"Tidak, aku juga merasa sangat senang ketika Rimuru-san sudah mulai terbuka."
Keluar dari tempat latihan, hari ternyata sudah mulai agak gelap. Kami berjalan menuju asrama bersama.
"Ngomong-ngomong Rimuru-san ... Ini mungkin tidak penting ... Tapi ..." Midoriya menggaruk pipinya sendiri dengan sedikit semburat merah yang ada di pipinya.
"Hmm?"
"Kau terlihat cantik ketika tersenyum, jadi ada baiknya kalau kau lebih banyak tersenyum lain kali."
"Hmm!? Deku-kun!? Apa maksudmu!?"
"Uraraka-san!!" Midoriya melompat kaget saat Uraraka ada tepat di belakangnya. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan Tsuyu.
"A-ada dengan wajahmu!! Menyeramkan!!"
"Apa maksudmu dengan 'Rimuru-san terlihat cantik saat tersenyum'!? Hmm!?" Balas Uraraka, mulutnya tersenyum. Namun sepertinya senyuman itu memang menakutkan.
"T-tidak ... Itu ..."
"Kalian dari mana?" Mengabaikan mereka berdua, aku menghampiri Tsuyu yang membawa kantung plastik kecil.
"Kami membeli beberapa makanan di super market. Dan kebetulan bertemu kalian. Ochako sebenarnya ingin mengagetkan kalian berdua, namun entah kenapa dia malah jadi seperti itu-gero. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sebelumnya?"
"Kami hanya bicara tentang masalah magang nanti." Ucapku sambil melaraskan kecepatan jalan Tsuyu, sedangkan Midoriya dan Ochako berada di depan kami. Entah mereka sedang berdebat apa, namun wajah Midoriya memerah. Sepertinya Midoriya masih belum bisa menangani kegugupannya jika dia terlalu dekat dengan seorang gadis.
"Ehh, Rimuru-Chan sudah memiliki target agensi mana yang akan di masuki?"
"Ya."
"Dimana?"
"Rahasia."
"Gero-gero."
Kami akhirnya berjalan bersama menuju asrama. Satu hal lagi yang ku lewati.
Maaf Midoriya.
Bersambung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimuru X Boku no Hero.
FantasiaRimuru kembali ke bumi dengan cara yang tidak dia ketahui. Tapi, bumi itu bukanlah bumi yang dulu Rimuru tempati. Rimuru nerf. Rimuru Fem, karena female Rimuru de bes :v
