Chapter 29. Ujian 'Lisensei pahlawan sementara' Bag-II

1.7K 200 12
                                        

Persyaratan untuk lulus di ujian pertama ini adalah dengan mengenai sasaran yang telah di tentukan. Kami masing-masing di beri beberapa bola sebagai alat untuk mengenai sasarannya, sementara itu sasaran terakhir yang di kenai akan otomatis di hitung menjadi pemenang nya bagi orang yang melempar.

Sasaran yang di simpan sendiri harus di tempat terbuka, contohnya telapak kaki maupun ketika tidak di perbolehkan. Aku sendiri memiliki satu di pundak kiri, satu di dada kanan dan satu di perut. Total ada 3 sasaran yang harus di targetkan.

Nah, di ujian ini kita tidak di untungkan sama sekali. Pasalnya, karena festival olahraga saat itu. Semua orang pasti telah mengetahui berbagai Informasi tentang Quirk kami masing-masing. Jadi ada baiknya jika kita terus bekerja sama dan berkumpul menjadi satu kelompok, karena tidak menutup kemungkinan kalau sekolah lain tidak akan menyerang kita.

Tapi ..., Meskipun tau kerja sama sekarang sangat penting, tetap saja aku berpisah dari mereka. Sebenarnya bukan berpisah sih, lebih tepatnya di pisahkan oleh pihak musuh yang memiliki jangkauan area serangan yang luas. Membuat kami tercerai berai.

"Sekarang ..., Aku ada dimana?" Di area perkotaan ini sangat ramai, semua orang saling bertarung satu sama lain. Tidak, sepertinya mereka tidak bertarung secara sendiri-sendiri, mereka bertarung dengan berkelompok.

Untuk saat ini, aku masih mengamati mereka di gang sepi ini. Tanpa di ketahui oleh siapapun, mengamati jika ada celah yang bisa ku targetkan. Maka itu akan menjadi lebih mudah tanpa harus menguras tenaga lebih.

Namun yang menarik perhatian ku adalah lelaki botak sebelumnya yang bernama Inasa, dia berada di atas gedung dengan senyum lebarnya. Memainkan Quirk angin miliknya, menerbangkan banyak bola-bola itu dan menghantamkannya ke arah jalanan yang di penuhi dengan murid-murid dari sekolah lain yang bertarung.

Bola-bola itu dengan acak menghantam ke tanah dengan kecepatan yang tinggi. Sedangkan aku menghempaskan tangan ku untuk mengeluarkan api hitam agar menghalau beberapa bola yang menyasar ke arah ku.

[Akhirnya, ada juga yang lulus ... Tunggu!?!?!!! 120 peserta telah gugur!?] Panitia sepertinya terus mengamati semua yang kami lakukan.

Ternyata Quirk angin milik si botak kuat juga ya. Setelah pengumuman itu di keluarkan, sepertinya lelaki bernama Inasa itu mendapatkan pesan pribadi dari panitia lain.

Aku mengamati jalanan sekitar, memiliki banyak siswa yang memiliki target merah.

"Wahhh, semuanya benar-benar di habisi oleh dia. Aku tidak kebagian satupun." Ucapku sambil mengamati sekitar. Mereka semua bangun dengan wajah lesuh karena tau telah gugur.

"Sial! Padahal ini adalah ujian terakhir ku!"

Aku mendengar beberapa rengekan dari semua murid yang telah gugur. Oh, sepertinya di sini juga ada ya murid dari tahun ketiga.

Untuk sekarang pergi dulu dari sini, aku harus mencari target kalau tidak aku tidak akan bisa lulus dari ujian ini.

[Temponya sangat cepat, sekarang kita punya 52 ...emm bukan, 53 orang yang telah lulus. Jika ada satu orang yang telah mengalahkan dua orang, itu berarti sudah ada 230 orang yang telah gugur! Dan sekarang sudah 54 orang! Percepat langkah kalian dan selesaikan!]

Ohh, sudah setengah nya ya, ternyata cepat juga ya. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan mereka? Kuharap mereka dapat lulus dalam ujian ini.

"Yah, tidak ada waktu untuk menghawatirkan orang lain. Aku harus segera mencari orang–!"

Serangan tiba-tiba datang kepadaku, melompat untuk menghindarinya. Aku tiba di atas bus hancur.

"Itu reaksi yang sangat cepat, padahal aku menyerang dari belakang mu."

Rimuru X Boku no Hero.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang