Unconditional love pt2

818 69 20
                                        

Sudah hampir 1 bulan singto tinggal di rumah krist, kini kaki singto juga sudah sembuh, lukanya membaik dan dia sudah lancar berjalan.

Setiap hari singto berada di rumah, sedangkan arthit sekolah, ibunya bekerja begitu juga dengan krist. Singto benar-benar hanya merasa seperti beban di sana.

Keluarga krist benar-benar baik padanya. Singto kesulitan untuk kembali ke kota karna di desa krist tak ada yang mempunyai ponsel, mungkin signal juga tak ada.

Pukul 3 sore krist pulang berkerja, dia mencari keberadaan singto di belakang rumah karna krist tahu singto pasti berada di belakang. Di lihatnya singto tengah duduk di sebuah kursi kayu sembari melihat burung yang berkicau di temani beberapa ayam.

"Sing"

"Kamu sudah pulang krist?"

"Ya, perkerjaan ku sudah selesai" ucap krist.

"Kenapa minggu lalu kamu pulang larut?"

"Terkadang perkerjaan ku cepat selesai, tapi kadang juga bisa lembur" ucap krist.

"Aku membelikan ini untuk mu" ucap krist sembari memberikan gorengan yang di belinya di pinggir jalan tadi.

"Terima kasih" ucap singto sambil tersenyum manis.

Krist tersenyum membalas senyuman singto, salahkah krist jika dia merasa nyaman dengan kehadiran singto di rumahnya? Dia senang saat pulang kerja bisa melihat senyum manis singto, dia merasa dia di sambut oleh seseorang yang special saat pulang berkerja untuk melepas penatnya.

"Kapan kamu mengajak ku ke tempat air terjun itu, jika aku sudah ke sana aku ingin kembali ke kota" ucap singto.

"M-mungkin nanti jika aku tak sibuk" ucap krist.

"Atau jika kamu sibuk, aku bisa kembali ke kota tanpa harus ke sana dulu"

"Bukankah sudah ku katakan tak ada transportasi untuk ke kota dari desa ini?"

"Carikan aku ponsel, aku akan menghubungi teman ku agar mereka menjemput ku" ucap singto.

Krist gelagapan mendengar itu, di desa mereka ada telpon umum dan letaknya di pasar namun krist mengatakan tak ada alat komunikasi di desa agar singto tak dapat menghubungi temannya. Apa krist salah menahan singto agar tak pulang dengan cara itu?

"Kenapa kamu ingin pulang?" Tanya krist.

"Asal ku di sana, teman-teman ku pasti mengkhawatirkan selama 1 bulan ini"

Krist sudah tahu jika singto tak memiliki orang tua lagi, singto sudah menceritakan itu kemarin.

"S-sing... J-jangan pulang dulu" ucap krist sembari mendekatkan tubuhnya membuat singto sedikit menjauh.

Kenapa suasananya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan sekarang?

"k-kenapa?"

"M-maksud ku tak perlu terburu-buru, kamu bisa berada di sini sampai kapan pun kamu mau. Aku, ibu dan arthit tak keberatan sama sekali"

"Jangan krist, aku sudah terlalu banyak menyusahkan kalian. Apa lagi kamu terpaksa harus tidur di lantai selama satu bulan ini. Bukankah lantai itu dingin? Siangnya kamu harus berkerja dan malamnya kamu kedinginan"

"Apa aku pernah mengatakan jika aku keberatan? Aku tak keberatan sama sekali" ucap krist.

Singto menatap wajah krist yang berada di sampingnya, keduanya saling menatap dalam diam dan mungkin juga sedang bertengkar dengan isi kepala masing-masing.

"Kamu cantik" ucap krist tiba-tiba.

Wajah singto memerah mendengar itu, kenapa krist tiba-tiba mengucapkan itu?

Oneshot KSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang