Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Kali ini, aku akan mengalah.'
-Viola-
.............
Viola merawat luka Rasello dengan penuh ketelatenan, sakit di dadanya dihiraukan begitu saja.
"Biar gue lanjutin balutannya," ucap Rasello sambil mengambil alih perban dari tangan Viola. "Lo lebih baik segera minum obat."
"Ola nggak apa-apa," Viola hendak merebut kembali perban itu, namun Rasello menahannya.
"Gue bilang, minum obat."
"Oke." Viola akhirnya berdiri.
"Lo jangan lagi deketin Liam," ujar Rasello tiba-tiba.
Langkah Viola terhenti. Ia berbalik perlahan, lelah jelas tergambar di wajahnya. "Kak Ello gak berhak buat larang Ola dekat sama Liam, dia baik. Begitupun kak Ello, Ola...." Ia berhenti sejenak, "Ola gak melarang kak Ello buat berhenti berhubungan sama kak Liana."
Tangan Rasello berhenti membalut. "Gue nggak terima alasan lo. Ini perintah."
Viola mengepalkan tangannya. "Kak Ello egois."
"Masuk kamar dan minum obat lo," titah Rasello, mengabaikan ucapannya.
Viola masuk ke kamarnya. Namun ia tidak langsung berbaring atau meminum obat seperti yang diperintahkan.
Ia justru melangkah ke kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya memerah, menyimpan kekecewaan dan kesedihan yang begitu dalam.
Air mata menggenang saat ia kembali mengingat cintanya... cinta sepihak yang selama ini ia genggam erat. Bertahun-tahun ia mengejar perasaan itu, berharap suatu hari akan terbalas.
Namun pada akhirnya, ia tetap kalah.
Sepupunya memilih mencintai wanita lain. Sosok yang selama ini mengisi kekosongannya justru menjadi luka terbesar dalam hidupnya.
Sakit, kecewa, dan marah menyatu, menggores hatinya tanpa ampun.
Viola menyalakan keran air, membiarkan suara gemericiknya menutupi isak tangisnya. Tangannya menghantam dadanya berkali-kali, merasakan sesak yang tak tertahankan.
Ia tak pernah membayangkan mencintai seseorang bisa terasa sesakit ini. Andai ia bisa memilih, ia tak ingin Tuhan menciptakan cinta untuknya.
"Kenapa..." gumamnya sambil menatap bayangannya sendiri. Ia tampak begitu kacau.
Ia menggigit bibir bawahnya menahan gejolak emosi. "KENAPA?!" teriaknya seraya memukul dadanya lebih keras.
Pukulan itu semakin keras. Bukan untuk melukai tubuh, melainkan untuk membungkam hati yang terus berharap.