Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak ada mimpi buruk yang lebih kejam selain kehilanganmu. Kembali, dan biarkan aku terbangun dari semua ini
-Rasello-
....
“Bagaimana?” suara Rasello terdengar dingin, tapi getarnya mengkhianati kegelisahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
“Maaf, Tuan. Kami belum menemukannya.”
BRAKK!
Meja kerja itu digebrak keras. Para bodyguard bayarannya tersentak.
“Gak berguna!” bentak Rasello dengan emosi yang tak lagi tertahan. “Gimana bisa sampai sekarang kalian belum juga nemuin Ola?!”
Napasnya memburu. Dadanya naik-turun tak beraturan.
Sejak Viola menghilang, Rasello diam-diam mengerahkan orang-orangnya untuk mencari. Tanpa sepengetahuan keluarga. Tanpa seizin siapa pun.
Ia mencari dengan satu keyakinan bodoh, selama ia belum menyerah, Viola masih mungkin ditemukan.
Namun hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu kosong.
Tak ada jejak.
Tak ada kabar.
Viola seakan lenyap ditelan bumi atau mungkin, dunia memang tak pernah merestui dirinya untuk kembali menemukan gadis itu.
Para bodyguard undur diri saat Rasello mengibaskan tangan, mengusir mereka dengan satu gerakan lelah.
Begitu ruangan itu sepi, Rasello menjatuhkan dirinya ke kursi. Tangannya mengusap kasar wajahnya, seolah ingin menghapus kelelahan, rasa bersalah, dan ketakutan yang menumpuk bersamaan.
“Lo ke mana sih, Ola…” lirihnya, nyaris seperti bisikan doa yang tak pernah dijawab.
Kepalanya menunduk. Untuk pertama kalinya, Rasello merasa benar-benar kalah.
“Sayang…”
Suara itu membuyarkan lamunannya.
Rasello mendongak tepat ketika Liana melangkah. Liana langsung mendekat, menggenggam lengannya dengan manja terlalu manja untuk suasana setegang ini.
“Sebentar lagi perayaan kelulusan kita,” ucap Liana dengan senyumnya. “Dan setelah itu pertunangan kita. Ayo antar aku ke butik, sekalian pilih cincin.”
Rasello menarik lengannya pelan, lalu berdiri.
“Kamu bisa sama Mami,” katanya datar. “Aku lagi sibuk.”
“Tapi aku maunya sama kamu,” Liana mendesah, nada suaranya mulai merajuk. “Ini penting buat aku, Ello.”