Perlahan Viola mengerjapkan mata ketika sinar mentari menyelinap masuk dan menerpa wajahnya. Aroma khas obat-obatan dan rumah sakit langsung menyergap indera penciumannya.
Orang-orang yang menunggunya segera menghampiri dengan wajah lega bercampur haru. Sudah dua bulan Viola terbaring koma, dan kini akhirnya ia membuka mata.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Mami Vee sambil mengelus lembut kepala Viola.
Viola membalasnya dengan senyum kecil.
"Kamu tunggu sebentar, Mami panggilkan dokter," lanjut Mami Vee.
Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Viola dengan teliti.
"Kondisinya sudah jauh membaik. Keluarga tidak perlu terlalu khawatir," jelas dokter itu. "Namun pasien harus istirahat total. Hindari stres dan kondisi yang bisa membuatnya syok."
"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Mami Vee.
"Sama-sama. Saya permisi dulu."
"Mami, aku---"
"Ola?!"
Pintu kamar terbuka. Rasello terdiam sejenak saat melihat Viola sudah sadar. Seketika itu juga ia berlari menghampiri dan memeluk Viola erat.
"Sayang..." panggilnya dengan suara bergetar.
Viola mengelus punggung Rasello.
"Aku senang... sangat senang kamu akhirnya sadar," ucap Rasello sambil melepas pelukan.
Ia mencium pipi Viola, lalu bibirnya, kedua mata, dan terakhir keningnya. Rasello menempelkan dahinya ke dahi Viola.
"Jangan buat aku ketakutan seperti ini lagi, Ola. Aku takut... takut kamu benar-benar pergi," lirihnya dengan suara pecah.
Viola menyentuh kedua pipi suaminya dan menghapus air matanya.
Rasello tersenyum kecil lalu kembali memeluknya.
"Kalian ngelupain Mami?" suara Mami Vee menyela.
Rasello dan Viola saling melepas pelukan dengan senyum canggung.
"Sini, Mi," ucap Viola sambil mengangkat kedua tangannya.
Mami Vee mendekat dan memeluknya penuh kasih.
"Oh iya, Kak Sella sama Papi ke mana?" tanya Viola.
"Papi lagi kerja. Sella masih di luar negeri."
"Kak Sella belum pulang juga?"
"Masih betah di sana," jawab Mami Vee.
Viola mengangguk pelan. Tangannya meraba perutnya, terasa sedikit nyeri.
"Kenapa? Sakit?" tanya Rasello khawatir.
"Sedikit." jawab Viola sambil tersenyum tipis.
Namun kenangan penembakan itu perlahan kembali. Jantungnya berdetak lebih cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Trauma itu masih tertanam dalam.
"Aku panggilkan dokter." ucap Rasello.
"Nggak usah, Kak," cegah Viola. "Ola nggak apa-apa."
"Kamu yakin?"
Viola mengangguk.
"Kak Ello... siapa pelakunya?" tanya Viola pelan.
"Kamu akan tahu nanti, setelah kondisi kamu benar-benar stabil," jawab Rasello tidak ingin Viola tahu dulu.
Viola mengangguk mengerti.
........
Hari-hari berlalu dengan cepat. Dua minggu sejak Viola siuman, ia masih harus menjalani perawatan intensif, terutama untuk kondisi jantungnya yang belum sepenuhnya pulih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ello Untuk Ola {END}
Fiksi RemajaMencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih. Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
