Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
..............
Liam membawa Viola ke sebuah tempat yang tak jauh dari rumah Liana. Tempat itu sepi, cukup untuk membuat siapa pun merasa aman. Di sanalah Viola bisa bernapas sedikit lebih lega, meski dadanya masih terasa berat.
“Lo cinta sama Ello?” tanya Liam tanpa basa-basi. Ia bahkan tak menyebut nama itu dengan embel-embel Kak.
Viola mengangguk pelan sambil menatap lurus ke depan. Bibir bawahnya tergigit, menahan isak yang berusaha keluar. Tapi usahanya sia-sia.
Liam melihatnya dan memilih diam. Memberi Viola ruang. Membiarkan kesedihan itu turun perlahan.
Setelah napas Viola mulai teratur, Liam baru membuka suara. “Udah mendingan?”
Viola mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Makasih.”
“Lo secinta itu sama Ello?”
“Iya,” jawab Viola tanpa ragu.
“Ello tau perasaan lo?”
Viola mengangguk lagi.
“Berarti lo harus berhenti sekarang,” kata Liam datar. “Dia udah punya pacar.”
Viola menggeleng. “Gue nggak bisa. Gue udah terlalu bergantung sama Kak Ello. Cinta gue ke dia… terlalu besar.”
“Don’t be stupid,” Liam mendecak. “Nggak semua cinta harus dimiliki.”
“Lo nggak bakal ngerti,” sahut Viola lirih. “Kenapa cinta gue ke Kak Ello bisa sebesar ini. Sampai gue rela diem… dan nerima semua sakitnya. Lo nggak akan ngerti, Liam.”
Liam tersenyum miring. “Iya. Lo bener, gue emang nggak ngerti karena sepanjang hidup gue, gue nggak pernah ngerasain cinta.” katanya pelan.
Ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Tapi setidaknya gue nggak sebodoh lo.”
Viola menoleh cepat. Ada rasa bersalah di wajahnya.
Liam menatap Viola lebih dalam. “Sampai kapan lo mau kayak gini?”
Viola tersenyum. Hangat, tapi rapuh. “Sampai Kak Ello cinta sama gue.”
Liam terdiam sejenak, lalu terkekeh kecil. “Gue boleh ketawa nggak?”
Viola menatapnya bingung. “Kenapa?”
“Soalnya gue nggak nyangka lo sebodoh ini,” celetuk Liam santai.
Viola menunduk, bibirnya manyun. Ujung sepatunya menggesek tanah. “Terus gue harus gimana? Gue nggak mungkin lupa Kak Ello gitu aja. Dia satu-satunya yang gak bikin hidup gue kesepian.”
“Jadi pacar gue.”
Viola langsung menoleh kaget.
Liam tertawa kecil. “Becanda,” katanya cepat, melihat ekspresi Viola. “Lucu banget sih muka lo.”