Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semua orang yang duduk di meja makan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tak ada satu pun yang membuka suara, seolah keheningan menjadi bahasa yang paling jujur pagi itu.
Sendok dan garpu bergerak pelan, nyaris tanpa suara. Hingga akhirnya, Papi Hans memecah suasana. Ia meletakkan sendoknya di atas piring, lalu mengangkat wajahnya.
“Ello, Ola…” panggilnya pelan.
Panggilan itu membuat Rasello dan Viola serempak mengangkat kepala.
“Iya, Pi?” jawab mereka bersamaan.
Papi Hans menatap keduanya bergantian. Tatapannya tenang, namun serius. “Kalian saling mencintai?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa basa-basi.
Viola dan Rasello terdiam. Keduanya saling berpandangan, canggung dan gugup. Bagaimana mungkin Papi Hans bisa mengetahui perasaan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat? Padahal mereka tidak pernah mengatakannya secara terbuka.
“Ke-kenapa Papi bilang begitu?” tanya Viola dengan suara gugupnya.
“Kami mendengar pembicaraan kalian semalam.”
Viola refleks membulatkan matanya. Tubuhnya menegang. Perlahan ia menunduk, bersiap menerima amarah atau mungkin kekecewaan karena telah lancang menaruh perasaan pada sepupunya sendiri.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Papi Hans tersenyum tipis, seolah memahami ketakutan yang membebani gadis itu. “Kamu tenang aja, Ola. Kami nggak akan marah,” ucapnya lembut. “Kami cuma ingin membicarakan sesuatu yang serius. Bukan untuk ikut campur, tapi karena bagi kami… ini penting.”
Viola mengangkat wajahnya perlahan.
“Papi dan Mami akan membicarakan pembatalan pernikahan kalian dengan keluarga Liana dan juga Liam.”
“Serius, Pi?” Rasello langsung bersinar. Wajahnya sulit menyembunyikan kebahagiaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
“Iya. Papi serius.”
Tanpa berpikir panjang, Rasello bangkit dari kursinya lalu memeluk Mami Vee dan Papi Hans secara bergantian. “Makasih, Mi… Pi,” ucapnya tulus, disertai kecupan singkat di pipi keduanya.
Viola memandang pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Hatinya hangat, namun juga terasa mengganjal. Inilah yang ia harapkan sejak dulu. Tapi bersamaan dengan itu, bayangan wajah Liana muncul di benaknya.
Bagaimana perasaan Liana nanti?
“Ola,” panggil Rasello sambil menoleh padanya. “Liat? Mami dan Papi setuju. Nggak ada yang nggak mungkin, dan nggak ada kata terlambat buat mulai lagi.”
Ia mendekat dan memeluk Viola.
Viola diam. Tangannya ragu-ragu, sebelum akhirnya membalas pelukan itu dengan pelan.