Bab 28 {REVISI}

12.7K 364 46
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


..........

“Ada penggelapan dana perusahaan, jadi gue harus ke kantor. Lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Sebentar lagi Sella datang,” pinta Rasello.

Viola mengangguk pelan.

“Ingat, jangan ke mana-mana.” ulang Rasello sambil mengusap lembut puncak kepala Viola.

Viola menghembuskan napas pelan. Mengapa sepupunya itu justru bersikap selembut ini? Bahkan terasa lebih lembut dibanding enam tahun lalu. Hatinya bergetar pelan dan justru itu yang ia takuti. Semakin dekat Rasello, semakin berbahaya untuk dirinya.

Tidak lama, Rasello pun pergi meninggalkannya seorang diri.

Beberapa menit kemudian, seorang suster datang untuk memeriksa kondisinya. Setelah pemeriksaan selesai, Viola meminta suster itu membawanya keluar dari kamar inap.

Ia merasa sesak jika terus berada di ruangan itu. Ia butuh udara segar, butuh ruang untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

Karena kondisi Viola dinyatakan stabil, suster itu menyetujui permintaannya.

Mereka pun berjalan menyusuri area rumah sakit sekadar mencari udara segar, sekaligus memberi Viola waktu untuk merapikan hati dan pikirannya yang berantakan.

Saat berjalan, pandangan Viola tak sengaja menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Sosok itu pun melihatnya di saat yang sama, tepat ketika mereka berpapasan.

“Sus, berhenti.” ucap Liam. Dialah sosok yang dikenali Viola.

“Bukannya itu Ola?” lirihnya sambil menoleh ke belakang.

“Sus, kejar perempuan yang itu.” tunjuknya. Suster pendamping Liam segera mendorong kursi rodanya mengejar Viola.

“Tunggu!” seru Liam.

Ia menghentikan Viola tepat di depannya. “Ola?”

Awalnya Viola menatapnya heran, lalu beberapa detik kemudian wajah itu terasa semakin jelas di ingatannya.
“Liam?” ucapnya tak percaya.

Dengan susah payah, Liam berdiri lalu memeluk Viola. “Akhirnya lo kembali...” ucapnya haru.

“Kenapa lo bisa di sini, Liam?” tanya Viola sambil melepas pelukan itu.

“Gue kecelakaan.” jawab Liam, lalu kembali duduk di kursi rodanya dengan bantuan suster.

“Ya ampun…”

“Lo sendiri kenapa bisa di sini?”

“Penyakit gue kambuh. Gue harus operasi.”

Liam mengangguk pelan, seolah mengerti. “Sus, bawa kita ke tempat yang agak sepi. Kami mau bicara.”

Para suster menurut. Tak lama, mereka meninggalkan Viola dan Liam berdua saja, sesuai permintaan mereka.

“Selama ini lo ke mana?” tanya Liam.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang