Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Dalam cinta, aku mendengar denyut kehidupan yang perlahan terjaga, bersemi di taman sunyi dalam batinku. Di sanalah takdir menulis dirinya sendiri, lirih namun pasti, mengalun sebagai harmoni yang menggetarkan jiwa tanpa meminta izin.”
-Viola-
..................
"Kak Ello, kak Liana kenapa?" tanya Viola ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kecelakaan," jawab Rasello dengan nada cemasnya.
"Karena apa?" Viola mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Itu semua ulah mantannya!" jelas Rasello, mencekal kuat stir mobilnya.
Ia terlihat kesal dan marah mengetahui bahwa Liama mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh mantan dari Liana.
Viola terkejut mendengar penjelasan tersebut, tak menyangka akan ada insiden seperti itu.
"Kasian kak Liana. Kak Ello bisa ceritain kronologinya gimana?" tanya Viola lagi dengan simpati.
"Gue belum tau kronologinya gimana, Rasella cuma ngasih tau itu doang,"
"Semoga kak Liana baik-baik aja," ucap Viola dengan doa yang tulus.
................
Setibanya di rumah sakit, Rasello langsung melangkah cepat menuju ruangan tempat Liana dirawat. Dari langkah dan raut wajahnya saja, Viola bisa melihat kecemasan yang tak ia tutupi.
Perasaan aneh menyelinap di dada Viola. Ia sempat berpikir buruk, namun segera menepisnya. Mungkin Rasello hanya khawatir bagaimanapun Liana adalah sahabatnya.
“Liana,” panggil Rasello begitu mereka masuk ke dalam ruangan.
"Ello…” suara Liana terdengar lemah.
Begitu Rasello mendekat, Liana langsung menangis dalam pelukannya. Tangis yang tertahan, rapuh, seolah semua ketakutan yang ia pendam tumpah begitu saja.
“Aku takut, El…” lirihnya.
“Ada gue,” jawab Rasello lembut, memeluknya lebih erat.
Hati Viola terasa perih. Bukan karena apa yang ia lihat, tapi karena cara Rasello mengatakannya dengan tenang, penuh perhatian.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanyalah bentuk kepedulian seorang sahabat. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak.