Bab 41 (END)

21.2K 269 53
                                        


Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa, sudah tiga bulan sejak Viola dan Rasello kembali dari honeymoon.

Pagi itu, wajah Viola tampak pucat dan tersiksa. Sejak dua hari terakhir, ia terus memuntahkan isi perutnya. Rasello yang melihat itu hanya bisa menghela napas prihatin.

Ia mendekat, lalu memijat lembut tengkuk Viola, berharap bisa sedikit meredakan rasa mual yang tak kunjung berhenti.

“Kak Ello bau… jauh-jauh!” keluh Viola sambil menutup hidung dan mendorong Rasello menjauh.

Rasello refleks mengendus tubuhnya sendiri. Tidak ada bau aneh. Tubuhnya justru masih wangi seperti biasa.

Viola memang benar-benar aneh akhir-akhir ini. Dua hari belakangan, setiap Rasello mendekat, ia selalu mengeluh soal bau. Setiap makan pun pasti berujung muntah.

“Kak Ello mending pakai ini,” ucap Viola sambil menyemprotkan parfum stroberi ke tubuh Rasello. Entah sejak kapan aroma itu menjadi favoritnya.

“Nah, sekarang wangi,” lanjutnya sambil mengendus puas.

“Ya ampun, Sayang. Aku mau berangkat kerja. Masa baunya stroberi?” Rasello cemberut.

“Jangan protes! Sana pergi kerja!” ketus Viola.

Rasello mengerutkan kening. “Kamu lagi datang bulan?”

Viola menggeleng. “Nggak. Kenapa?”

“Kamu dua hari ini gampang marah. Ditambah mual-mual terus, tingkah kamu juga aneh.”

“Kak Ello ngatain Ola aneh?!” Viola langsung berkacak pinggang, menatap tajam.

“Bukan gitu... Kamu cuma nggak biasanya seperti ini.”

Viola menurunkan tangannya. Wajahnya berubah serius, seolah mulai berpikir.

“Iya juga ya… belakangan ini Ola gampang kesel sama Kak Ello. Terus setiap makan pasti mual. Bau parfum Kak Ello juga bikin Ola nggak enak, padahal itu pilihan Ola sendiri.”

Rasello ikut terdiam, berpikir. Lalu ia memegang pundak Viola perlahan.
“Tunggu… kamu telat datang bulan?”

Viola terdiam cukup lama. Ia mencoba mengingat hitungannya, lalu menjentikkan jari. Matanya membesar. “Eh… iya. Udah dua bulan Ola telat.”

Mereka saling menatap. Pikiran keduanya mengarah pada hal yang sama. Viola mengangguk pelan. Rasello langsung tersenyum lebar dan memeluknya erat.

“Aku harap apa yang aku pikirkan benar,” ucap Rasello penuh harap.

“Ola juga,” balas Viola lirih.

“Kita ke dokter sekarang.”

“Tapi kerjaan Kak Ello? Bukannya hari ini ada rapat?”

“Bisa dialihkan ke sekretaris aku.” jawab Rasello mantap.

.......

Dengan perasaan cemas bercampur harap, Rasello dan Viola menunggu hasil pemeriksaan dokter. Detak jantung mereka seolah berpacu, menunggu satu jawaban yang akan mengubah segalanya.

“Bagaimana, Dok?” tanya Rasello gugup.

Dokter itu tersenyum hangat.
“Selamat. Kalian akan menjadi orang tua.”

Sejenak, dunia terasa berhenti. Rasello dan Viola tertegun, lalu senyum bahagia merekah di wajah mereka.

“Sayang… baby kita hadir,” ucap Rasello haru sambil mengelus perut Viola dan mengecupnya lembut.

“Terima kasih sudah hadir, Baby,” lanjut Rasello, senyumnya tak pernah lepas.

Viola ikut tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Penantian panjang itu akhirnya terjawab. Ia begitu bahagia, bahkan membayangkan kehadiran buah hatinya saja sudah membuat dadanya terasa penuh.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang