Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.......
“Lo baik-baik aja?” tanya Liam saat melihat Viola duduk termenung sendirian di taman sekolah.
Viola mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.
“Gue gak yakin. Kepala lo ngangguk, tapi muka lo tetep ditekuk. Mana percaya gue.” sahut Liam santai.
Viola menghembuskan napas berat. Ingatannya kembali pada kejadian di toilet siang tadi. Ia berpikir keras bagaimana harus bersikap pada Rasello setelah ini.
Rasanya jauh lebih berat dibanding saat ayahnya pergi sebelas tahun lalu. Terlebih, setiap hari ia akan tetap bertemu Rasello.
“Gue cuma capek.”
“Karena Ello?”
“Hmm.”Viola mengangguk pelan.“Gue capek sama perasaan gue sendiri.”
Liam terkekeh kecil. “Capek-an mana sama gue yang punya saudara tiri yang benci gue, dan nyokap yang gak pernah peduli sama gue?”
Viola akhirnya menoleh. Bibirnya melengkung ke bawah. “Lo lagi adu nasib sama gue?”
Liam tersenyum, lalu mengangguk. “Selain adu nasib, gue cuma mau nyemangatin. Lo gak sendiri, Ola. Di luar sana selalu ada yang hidupnya lebih capek entah itu gue, atau orang lain.”
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Viola. “Lo bener, Liam. Gak seharusnya gue ngeluh terus.”
“Nah gitu dong. Lo lebih cantik senyum daripada cemberut.” ucap Liam dengan senyum tengilnya
Viola tertawa kecil mendengar itu.
“Mau ikut gue nanti malam?”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang mungkin bikin hati lo tenang.” jawab Liam.
“Mau!” Viola mengangguk cepat.
“Oke. Gue tunggu di halte depan mansion lo.”
.............
Malam harinya sesuai janji Liam siang tadi, Viola kini bersiap untuk pergi. Saat ia sedang merapikan rambut, Rasello masuk ke kamarnya sambil membawa segelas susu hangat.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Keluar bentar.” jawab santai Viola tanpa menoleh.
“Sama siapa? Kenapa harus malam-malam?” Rasello menaruh gelas itu di meja.
Viola tidak langsung menjawab. Ia meminum susu hangat itu perlahan. “Sama temen.”
Ia melangkah melewati Rasello, namun lengannya ditahan. “Udah malem. Gak baik. Tidur, dan gue juga udah peringatin lo gak boleh keluar malem selain sama gue dan Sela.”
Viola menarik lengannya dari Rasello, “Kak Ello gak usah khawatir. Kak Ello harus ingat perkataan Ola tadi siang di toilet.”