Bab 30 {REVISI}

15.4K 388 52
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


...........

“Nah, itu adegan film The First You yang benar-benar bikin terharu. Gue gak nyangka lo juga nonton film itu.”

“Film itu lagi booming, pasti banyak yang nonton,” jawab Liam. “Kalau gue sih pas---”

Liam tiba-tiba memeluk Viola.
“Ulangi lagi kalimat yang tadi.” pintanya pelan.

“Yang tadi?” Viola menatapnya bingung.

“Iya. Coba ulangi.”

I love you,” ucap Viola, mengulang dialog dari salah satu adegan film tersebut.

I love you too. Kalimat itu hanya mampu terucap dalam hati Liam.

“Ini scene favorit gue, waktu si cewek akhirnya berani mengungkapkan perasaannya, dan cowoknya membalas dengan pelukan sambil bilang kalau dia juga cinta.” ujar Liam.

Viola tersenyum geli lalu melepaskan pelukan itu. “Lo gak lagi modus, kan?”

Liam memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menyembunyikan tangannya yang gemetar. Ia tersenyum lebar. “Sekali-kali boleh lah modus. Lagian modusnya ke lo.”

“Huh,” Viola mendecih pelan. “Makasih udah bawa gue ke bukit tadi.”

Liam mengangguk, lalu menunduk sebentar sebelum menatap Viola lekat. “Ola… apa di hati lo masih ada ruang?”

“Ruang?” Viola mengernyit bingung.

“Iya. Kalau masih ada… boleh gak gue singgah di sana?”

Viola terdiam. Ia bahkan sempat berpikir Liam sedang membahas film lain.

“Gue cinta sama lo.”

Akhirnya Liam mengatakannya, tanpa bercanda, tanpa selubung apa pun. Tidak ada salahnya mengungkapkan perasaan sebelum terlambat. Dan tidak ada salahnya berharap, meski hanya sedikit.

“Hahaha… bercanda lo gak lucu, Liam,” tawa Viola terdengar canggung. “Ini bagian dari The First You juga?”

“Kali ini gue serius.”

Tawa Viola terhenti.

Liam menggenggam tangan Viola dan meletakkannya di dadanya. “Lo ngerasain gak detak jantung gue?”

Ia memeluk Viola kembali, menyandarkan kepalanya di dada gadis itu. “Dengar?”

Viola terdiam. Detak jantung Liam terdengar cepat, terlalu cepat untuk sekadar bercanda.

“Setiap gue dekat sama lo, detaknya selalu kayak gini,” lanjut Liam lirih.

Ia lalu mengangkat wajah Viola, menatapnya penuh harap. “Kasih gue kesempatan buat ada di hati lo.”

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang