Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.........
Langit sore tampak muram ketika Viola melangkah masuk ke kafe kecil di sudut kota. Tempat itu sepi hanya ada beberapa meja kosong dan alunan musik pelan yang nyaris tidak terdengar.
Viola menarik napas dalam-dalam, jemarinya menggenggam tali tasnya.
Di sudut dekat jendela, Liana sudah duduk lebih dulu.
Wanita itu tampak lebih kurus dari terakhir kali Viola melihatnya. Wajahnya pucat, sorot matanya redup, seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal dalam waktu singkat. Rambutnya dibiarkan terurai, tanpa riasan berlebihan.
"Ka Liana..." panggil Viola pelan.
Liana mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.
Sejenak, tak ada yang bicara.
Liana tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ola," ucapnya lirih. "Duduklah."
Viola menarik kursi dan duduk di hadapan Liana.
"Makasih Kak udah mau ketemu," ucap Viola lebih dulu. "Aku tau ini mungkin gak mudah."
Liana mengangguk pelan. "Iya. Tapi mungkin... memang harus."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Viola bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Liana tak langsung menjawab. Jemarinya menggenggam cangkir kopi di depannya, seolah suhu hangatnya bisa menahan dingin di dadanya.
"Iya," jawabnya singkat.
Viola menghela nafas, ada perasaan bersalah yang menyelimuti dirinya. "Aku minta maaf, Kak. Aku benar-benar minta maaf. Kalau kehadiranku... kalau perasaanku ke Kak Ello... bikin Kak Liana sakit."
Liana terdiam lama. Lalu ia tertawa kecil.
"Ola," katanya pelan, "rasa sakit ini... bukan sepenuhnya salah kamu."
Viola menggeleng cepat. "Tapi aku tau aku bagian dari ini."
Liana menatap Viola lekat-lekat.
"Kamu tau rasanya," ucap Liana perlahan, "mencintai seseorang yang bahkan gak pernah sepenuhnya menjadi milikmu?"
Viola tercekat.
"Selama ini mencoba membangun hubungan kami untuk tetap terlihat baik. Tapi setiap saat, aku mulai menyadari satu hal. Ello gak pernah melihat aku sebagai kekasih. Dia terasa menjadi Ello sahabatku. Dan ternyata.... posisinya udah diisi oleh kamu."
"Aku gak pernah berniat ngerebut. Aku jatuh cinta tanpa sadar karena kak Ello satu-satunya yang selalu ada di sisi aku ketika semua orang pergi." ucap Viola diakhiri hembusan nafasnya.