Bab 21 {REVISI}

21.3K 846 54
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

....

Hujan turun begitu deras, disertai gelegar petir yang membelah langit malam. Suara itu seolah menjadi gambaran kekacauan di dalam mansion, kekacauan yang bersumber dari satu nama, Viola.

Rasello kehilangan kendali.

Vas kristal, meja antik, pigura mahal, semuanya hancur berantakan di tangannya. Amarahnya tak memilih sasaran. Para maid menjerit ketakutan, para penjaga pun tak luput dari bogem mentah Rasello yang membabi buta.

“ELLO, TENANG!”

Teriakan Rasella menggema, menghentikan tangan Rasello yang hampir kembali menghantam salah satu penjaga.

“GIMANA GUE BISA TENANG, HAH?!” Rasello meraung, dadanya naik turun tak beraturan. “OLA HILANG! OLA HILANG, RASELLA!”

Suaranya pecah. Matanya merah, napasnya tersengal, seperti seseorang yang tenggelam dan kehabisan udara.

“Gue tau!” Rasella mendekat, mencoba menahan lengannya. “Tenang dulu. Pikir pakai kepala dingin.”

“GUE GAK BISA, SELLA…” Rasello mengusap wajahnya dengan kasar. “Gue gak bisa.”

Saat itu, pertahanannya runtuh.

Setitik air mata jatuh di pipinya disusul yang lain. Rasello bahkan tak sempat menghapusnya. Dadanya terasa sesak, pikirannya dipenuhi bayangan terburuk.

Bagaimana kalau Viola sendirian?

Bagaimana kalau ia ketakutan?

Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya?

Ia tak sanggup memikirkannya.

Beberapa jam lalu, ia pulang dari perayaan ulang tahunnya bersama Liana. Awalnya ia hanya ingin melihat Viola sekadar memastikan gadis itu ada di mansion.

Namun langkahnya berubah menjadi lari, dan larinya berubah menjadi kepanikan ketika Viola tak ditemukan di mana pun.

Ia menghubungi Cici.

Ia menghubungi Liam.

Jawabannya sama, tidak tahu.

Bahkan Rasella yang sejak sore berada di kamarnya menggeleng saat ditanya. Terakhir ia melihat Viola di dapur.

Namun kepanikan Rasello benar-benar mencapai puncaknya saat ia membuka lemari pakaian Viola.

Kosong.

“Lo udah telepon Mami sama Papi?” tanya Rasello dengan suara serak.

“Udah, tapi mereka gak mau ngasih tau keberadaan Ola. Mereka malah minta kita berhenti nyari.” jawab Rasella pelan. Setidaknya rasa khawatirnya berkurang karena kemungkinan kedua orang tuanya tahu keberadaan Viola.

Ada jeda hening yang mencekam.

“SIALAN!” Rasello menendang meja di depannya hingga bergeser keras.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang