Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hatimu hanya harapan palsu, sementara perasaanku nyata... dan itu yang paling menyakitkan. -Viola
......
"Kak Sella... bawa Ola pergi dari sini," lirih Viola sambil menyandarkan kepalanya di pundak Rasella. Suaranya hampir tak terdengar, rapuh, seperti benang yang bisa putus kapan saja.
Rasella menggeleng pelan, matanya tegas meski hatinya bergejolak. "Nggak. Kalau lo pergi sekarang, siapa yang bakal ngurus lo? Bertahan sebentar. Tunggu gue lulus."
Viola menghembuskan napas panjang, seolah menahan sesuatu yang terlalu berat di dadanya. Ia mengangguk kecil. Pasrah.
.........
Di sekolah.
Hubungan Viola dan Rasello terasa asing sejak kejadian semalam. Bukan pertengkaran yang kasar, melainkan jarak yang begitu jauh. Mereka saling menghindar, saling pura-pura tak ada. Bahkan satu kata pun tak terucap di antara mereka sejak pagi.
"Sorry," ucap Liam pelan saat duduk di sebelah Viola.
"No problem," jawab Viola sambil tersenyum tipis.
"Gara-gara gue, hubungan lo sama Ello jadi begini."
Viola menggeleng pelan. "Tanpa kejadian itu juga... hubungan gue sama kak Ello emang udah bermasalah."
Liam terdiam sejenak, lalu berkata, "Maaf juga soal semalam. Gue ninggalin lo di bar. Kita nggak jadi ke tempat yang gue maksud."
"Nggak masalah," jawab Viola lirih. "Lain kali aja."
Liam tersenyum kecil, mengangguk. "Oh ya, nanti siang mau ikut nonton pertandingan gue?"
"Pertandingan?"
"Basket antar kelas. Dan... kelas kita dapet lawan kelasnya Ello."
Viola terdiam. Ia ragu antara ingin menjaga jarak atau sekadar berpura-pura baik-baik saja.
"Dateng aja," sela Cici yang baru datang. "Nanti lo duduk sama gue. Gue juga mau nonton."
"I-ya," jawab Viola ragu. "Gue ikut."
.........
Siang itu, tribun penonton dipenuhi sorak dari pendukung kelas masing-masing. Viola dan Cici duduk di bangku pendukung kelas mereka. Viola sempat tersenyum ketika Liam melambaikan tangan dari lapangan.
Ia membalasnya, lalu senyumnya runtuh ketika tatapannya bertemu dengan Rasello.
Tatapan itu tajam, dingin, dan penuh sesuatu yang tak bisa ia artikan.
Viola segera menurunkan tangannya dan membuang muka, seolah tatapan itu terlalu menyakitkan untuk ditahan.
Pertandingan dimulai. Sorak-sorai memenuhi ruangan. Skor menunjukkan 12 : 16, kelas Liam tertinggal dari kelas Rasello.