Bab 26 {REVISI}

20K 777 31
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.............

Semua menunggu operasi Viola selesai. Kegelisahan dan kegundahan menyelimuti mereka yang setia menanti di depan ruang operasi.

Tidak ada yang berbicara, hanya doa-doa sunyi yang dipanjatkan dalam hati. Mereka berharap, semoga semuanya berjalan lancar dan Viola baik-baik saja.

Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter yang menangani Viola keluar dengan wajah tenang.

"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Rasello cemas.

"Pasien baik-baik saja. Operasinya berjalan dengan sukses."

"Syukurlah..." lirih Rasello.

Semua yang ada di sana menghela napas lega mendengar penuturan dokter.

"Ada pesan dari saya," lanjut sang dokter. "Jangan membuatnya syok. Kondisi emosionalnya sangat berpengaruh dan bisa berakibat fatal pada fungsi jantungnya. Dan satu lagi, jangan biarkan dia bekerja terlalu keras."

"Baik, Dok. Apa kami sudah bisa menjenguk?" tanya Rasello.

"Sudah, silakan."

"Baik, saya permisi."

"Terima kasih, Dok."

Mami Vee, Papi Hans, Rasello, dan Rasella serentak mengenakan perlengkapan safety sebelum masuk ke dalam ruangan Viola.

Di sana, Viola terlihat masih terpejam erat, wajahnya pucat dengan alat medis yang terpasang di sekitarnya.

"Cepat sadar, Ola," ucap Rasello pelan sambil mengelus kepala Viola dengan hati-hati.

Lima jam berlalu. Suasana masih sunyi. Hingga akhirnya, jari-jari Viola bergerak perlahan. Tidak lama setelah itu, kedua matanya perlahan terbuka.

Cahaya lampu rumah sakit terasa begitu silau di matanya saat ia berusaha menyesuaikan diri.

"I-ini... di mana?" lirih Viola lemah.

"Sayang..."

Viola menoleh ke arah sumber suara. "Mami Vee?"

"Mami di sini," jawab Mami Vee sambil mengelus kepala Viola lembut.

Melihat keluarganya berkumpul di sekelilingnya, senyum kecil terukir di wajah Viola. Kedua matanya berkaca-kaca. Rasa rindu yang selama ini ia pendam akhirnya tumpah.

"Kamu kenapa nangis, sayang?" tanya Mami Vee cemas.

Viola menggeleng, air mata tetap mengalir di pipinya. "Kangen kalian."

Mami Vee langsung memeluk lengan Viola dengan hati-hati. "Kami juga kangen sama Ola," ucapnya terisak. "Jangan tinggalkan kami lagi."

Papi Hans ikut mendekat, memeluk Mami Vee dan Viola. Rasello pun turut merangkul mereka, seolah tak ingin kehilangan momen itu lagi.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang