Bab 27 {REVISI}

18.9K 797 63
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.....

“AAAHH!”

“Lo bisa pelan-pelan gak sih?” omel Liam. “Punggung gue belum pulih. Kasar banget jadi cewek.”

Punggungnya terasa semakin nyeri saat Rasella membantunya duduk, cara Rasella jelas jauh dari kata lembut.

“Cerewet,” balas Rasella singkat. Ia menyodorkan mangkuk. “Nih, makan.”

“Aaa…” Liam membuka mulutnya, memberi kode agar disuapi.

Rasella hanya diam.

“Kenapa lo bengong?” tanya Liam. “Tadi lo nyuruh gue makan.”

Rasella mengangkat sebelah alisnya, jelas bingung. Dalam pikirannya, ia hanya menyuruh bukan berniat menyuapi.

“Lo kan punya tangan.”

“Lo kan perawat gue,” sahut Liam santai. “Jadi lo harus nyuapin gue.”

“Sejak kapan gue perawat lo?!”

“Sejak lo nabrak gue, cepet.... gue laper nih.”” jawab Liam tanpa dosa.

Rasella mengepalkan tangannya. Rasanya ingin sekali meninju wajah menyebalkan itu. Baru kali ini ia menemukan pasien se-bandel ini. Penyesalan karena sudah menolong Liam semakin kuat.

Dengan enggan, Rasella mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Liam perlahan.

“Lo kalau diliat-liat gini,udah cocok banget jadi istri gue.” ujar Liam di sela makannya.

Rasella langsung menatapnya tajam. “Gue pukul lo kalau sekali lagi bikin gue kesel!”

“Santai… santai… Gue cuma becanda.” Liam terkekeh.

Ia tersenyum kecil. Entah kenapa, wajah garang Rasella terlihat lucu baginya.

---

Malam harinya.

Sudah setengah hari Rasella berada di rumah sakit. Liam tidak mengizinkannya pergi, dan mau tak mau Rasella harus tetap tinggal. Ia bahkan terpaksa mengerjakan pekerjaan kantornya di sana.

Seperti sekarang.

Rasella fokus menatap layar laptop, sementara Liam sejak tadi hanya memperhatikannya sambil memegang sebuah apel.

“Sell,” panggil Liam. “Gue suntuk. Ajak gue keluar.”

“Gue sibuk,” jawab Rasella tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

“Lo mau gue tambah sakit gara-gara tidur terus dari tadi?”

Rasella menghembuskan napas kasar. Laptopnya ditutup dengan gerakan tegas.

“Ayo,” ucapnya singkat. Ia terlalu lelah untuk berdebat.

Rasella membantu Liam duduk di kursi roda. Liam belum bisa berjalan karena tulang punggungnya belum pulih. Dengan perlahan, Rasella mendorong kursi roda itu menuju taman kecil di area rumah sakit.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang