Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Viola hanya diam. Fakta tersialnya adalah ia sangat merindukan sosok yang dulu selalu bersamanya, selalu mengkhawatirkannya, selalu memanggilnya seolah Viola adalah pusat perhatiannya.
Ingatannya beralih pada sosok kecil ompong yang selalu tersenyum, melambaikan tangan, mengulurkan tangannya ketika terjatuh, bahkan menjadi garda terdepan saat anak-anak lain membully mengatakan bahwa ia adalah anak penyakitan, pembawa sial.
Itu adalah sosok yang kini sedang berdiri di depannya. Sosok yang membawa luka sekaligus cinta.
Tanpa Viola sadari, air matanya ikut jatuh mengalir begitu saja, mengikuti kejujuran hatinya yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Inilah yang paling ia takutkan dari pertemuan ini. Karena sekali saja ia bertemu Rasello lagi, hati, pikiran, dan cintanya akan kembali tunduk, kembali kalah dan kembali memilih sosok bernama Rasello.
Tapi tidak! Tidak seharusnya Viola membawa perasaan yang sama lagi. Ia takut, kecewa dan rasa sakit itu ia rasakan kembali. Terlebih, sepertinya Rasello akan menemui takdir baru dengan Liana.
"Oh My God, apakah karena pria ini Ola tidak pernah berkencan? Sweet sekali... Huaa andaikan di sini ada Troy." ucap Emma yang terlihat ikut terharu melihat dua insan yang tengah berpelukan, meski tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan berpikir bahwa pria itu alasan Viola menutup hatinya.
"Ekhem," dehem Liana berusaha menyadarkan Rasello dan Viola. Tapi Rasello tetap tidak ingin melepas pelukannya.
"Lepas..." Lirih Viola yang sudah berkeringat dingin akibat menahan sakit di dadanya terlalu lama.
Mendengar itu, Rasello langsung melepaskan pelukannya. Menyadari perubahan nada bicaranya.
"Obat lo...."
Viola tidak menjawab, hanya mengatur nafasnya agar teratur dengan baik sambil mengusap sisa air mata yang sempat turun.
Rasello mengangkat kedua tangannya, lalu menggenggam lembut pipi Viola. Jemarinya menelusuri wajah itu perlahan, seolah takut jika ia berkedip, sosok di hadapannya akan kembali menghilang.