Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
............
"Kak Ello, jangan diemin Ola terus dong. Ola mau pergi," bujuk Viola pelan, mendekati Rasello yang tengah merajuk seperti anak kecil.
Kepergian Viola kembali ke apartemen bersama Emma memang atas permintaan Mami Vee dan Papi Hans.
Mereka ingin Viola tinggal terpisah sementara, hingga hari pernikahan tiba. Sebuah tradisi keluarga yang tentu saja langsung ditolak mentah-mentah oleh Rasello.
Ia ingin Viola tetap tinggal di mansion. Baginya, berpisah walau sementara terasa menyesakkan.
Berkali-kali Rasello menghalangi langkah Viola, namun kali ini Viola memilih mematuhi keinginan kedua calon mertuanya.
"Kak Ello, ini cuma sementara. Nanti juga Ola balik lagi ke sini," ucap Viola sabar.
"Nggak. Lo harus tetap di sini," kekeh Rasello, melipat kedua tangannya di dada.
Viola mengembuskan napas kasar. Menghadapi Rasello yang merajuk jelas bukan perkara mudah. Hingga akhirnya, sebuah ide licik terlintas di kepalanya.
"Kak Ello..." Viola memasang wajah melas, mengalungkan kedua tangannya di leher Rasello.
Rasello seketika membeku. Matanya terpaku pada wajah Viola yang sialnya.... Terlalu imut untuk ditolak.
"Boleh ya Ola pergi? Lagian kita kan masih bisa video call," ucapnya sambil memamerkan puppy eyes andalannya.
Sial... kenapa Ola imut banget. Rasello menelan ludah dengan susah payah.
Belum sempat ia menarik napas lega, sebuah kecupan mendarat di pipi kirinya.
"Kak Ello... boleh ya?"
"Nggak!"
Viola tidak menyerah. Ia kembali mendekat dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Rasello, membuat wajah pria itu memerah.
"Ah sial!" gerutu Rasello, menyerah. Ia menarik pinggang Viola ke dalam pelukannya, menyusupkan wajahnya di ceruk leher Viola. "Lo selalu berhasil ngeruntuhin perintah gue."
Akhirnya, ia mengizinkan Viola pergi tentu saja dengan syarat. Viola wajib menelpon dan melakukan video call kapan pun dan di mana pun ia berada.
Awalnya Viola menolak. Itu terdengar berlebihan. Tapi Rasello bersikeras. Bahkan mengancam akan melarangnya pergi jika ia menolak.