Bab 29 {REVISI}

13.9K 359 64
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.












“Sialan! Kenapa gue terus mikirin Ola?” gerutunya sambil memukul kecil kepalanya sendiri. Sejak tadi, pikirannya tak pernah lepas dari sosok Viola.

Rasello bangkit dari tempat tidurnya lalu melangkah menuju balkon, mencoba menjernihkan pikiran. Ia menghirup dalam-dalam udara malam, berharap rasa gundah di dadanya sedikit mereda.

Apakah ini petunjuk dari hatinya? Haruskah ia memilih antara melanjutkan rencana pernikahannya dengan Liana, atau justru mencari tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan?

Berpikir mulai sekarang, jangan sampai menyesal.

Ucapan Rasella terus berputar di kepalanya. Sepanjang malam Rasello tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tak mampu terlelap sampai dini hari.

“Gue harus nyoba ini sama Ola. Apa gue benar-benar cinta sama dia, atau cuma sekadar sayang?” gumamnya ketika akhirnya menemukan secercah jawaban.

..........

Pagi harinya, sesuai dengan rencana yang ia susun semalam, Rasello memutuskan untuk menguji perasaannya pada Viola apakah hatinya benar-benar bereaksi atau tidak.

Tanpa berlama-lama melakukan aktivitas di mansion, ia langsung menuju apartemen Viola. Setibanya di sana, ia menekan bel beberapa kali, jelas terlihat tak sabar.

“Kak Ello?” ucap Viola terkejut saat membuka pintu.

Tanpa banyak bicara, Rasello mendorong Viola masuk ke dalam apartemen dan mengurungnya di antara tubuhnya dan dinding. Viola terpaku, terkejut sekaligus bingung. Ia tak mengerti mengapa Rasello tiba-tiba bersikap seperti ini.

Rasello menatap wajah gugup dan bingung itu lama sekali sambil meletakkan tangannya di dada sendiri. Benar saja, detak jantungnya mendadak berdegup kencang saat ia mengambil jarak lebih dekat dengan Viola.

Ini gila… kenapa gue baru ngerasain hal kayak gini sekarang? batinnya.

“K-kak Ello kenapa?” tanya Viola gugup, kedua tangannya menahan dada Rasello.

“Gue cuma mau mastiin sesuatu,” jawab Rasello, semakin mendekat.

Viola semakin bingung.

Rasello tetap memegangi dadanya, merasakan irama jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya tidak teralihkan sedikit pun, seakan tenggelam dalam manik mata indah di depannya.

Degup jantungnya semakin cepat saat matanya tanpa sengaja tertuju pada bibir ranum itu. Jakunnya bergerak pelan.

Tangannya tanpa sadar, meraih tengkuk Viola. Perlahan, Rasello memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Viola.

Menyadari apa yang akan dilakukan Rasello, Viola refleks mendorong dadanya hingga membuat pria itu tersadar dan mengumpat dalam hati.

Sial… hampir aja.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang