Bab 40 {REVISI}

9.9K 187 1
                                        

Kau yang telah menorehkan banyak luka, namun kau juga yang menoreh banyaknya cinta di hidupku.

-Viola-

Waktu berlalu begitu cepat. Aku bersyukur Tuhan tidak mengijinkan waktu berputar kembali.

-Rasello-

...........

Tangan Viola menyentuh batu nisan yang bertuliskan Liana. Sementara Rasello berada di belakangnya, menatap dengan sendu.

Viola tak tahu harus merasa sedih atau marah. Namun satu hal yang ia yakini, perasaan ini bukan sesuatu yang mudah ia pahami.

Angin berembus pelan, menyapu ujung rambutnya. Nama itu terukir jelas di hadapannya. Nama seorang yang sangat ia kenal, seseorang yang pernah mengalahkan posisinya disamping Rasello.

“Aku datang sebagai apa sekarang?” gumam Viola lirih.

Sebagai teman yang ditinggalkan, atau sebagai istri dari pria yang pernah kamu cintai?

Viola menarik napas panjang, lalu berlutut perlahan di depan makam itu. Ingatannya kembali pada masa lalu, saat ia percaya sepenuhnya pada Liana, tanpa rasa curiga, tanpa prasangka apa pun.

“Aku pernah iri sama kak Liana,” ucapnya jujur. “Kak Liana mendapatkan kak Ello saat itu. Saat aku sangat mengharapkan cintanya.”

Ia tersenyum tipis, senyum yang rapuh.

“Tapi aku gak pernah menyangka, kak Liana juga ada di hari saat aku hampir kehilangan nyawa.”

Dadanya terasa sesak. Bukan karena luka lama, melainkan karena kebenaran yang baru ia ketahui.

“Aku mengerti, apa yang membuat kak Liana melakukan itu.” lanjutnya pelan.

Viola menunduk. Jemarinya mengepal di atas lutut.

“Aku gak pernah berniat mengambil apa pun dari kak Liana. Aku cuma jatuh cinta… seperti yang pernah kak Liana lakukan.”

Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah, lalu menatap kembali nisan itu.

“Sekarang aku hidup bersama kak Ello, sementara kak Liana beristirahat di sini. Mungkin ini gak adil bagi kak Liana.”

Viola berdiri, menyentuh nisan itu sekali lagi lebih lembut, tanpa amarah.

“Aku memilih memaafkan kak Liana.” ucapnya tenang. “Bukan karena semuanya udah benar, tapi karena aku mau melanjutkan hidup tanpa membawa luka ini.”

"Tidur yang nyenyak kak Liana... Aku tau, kak Liana akan mendapatkan apa yang kak Liana inginkan di sana."

Ia dan Rasello melangkah pergi, meninggalkan makam itu dalam keheningan sore.

Di belakangnya, nama Liana tetap terukir sebagai bagian dari masa lalu yang menyimpan cinta, kesalahan, dan kenangan yang tak akan sepenuhnya hilang.

............


Viola terbangun saat cahaya matahari menyelinap lembut ke wajahnya. Hal pertama yang tertangkap oleh indera penglihatannya adalah sosok Rasello yang masih terlelap di sampingnya. Tanpa sadar, senyum kecil terbit di bibirnya.

Teduh dan tampan.

Ia menatap suaminya beberapa saat, menikmati raut wajah itu sebelum perlahan melepas pelukannya. Viola bangkit dengan hati-hati, tak ingin mengganggu tidur Rasello.

Ada banyak hal yang ingin ia siapkan sebelum suaminya berangkat kerja. Namun baru beberapa langkah ia melangkah, dadanya tiba-tiba terasa nyeri.

Viola terhenti. Ia lupa meminum obatnya semalam.

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang