Bab 7 {REVISI}

15.9K 699 6
                                        

...........

El, udah siap?”

“Udah, Pi.”

Malam itu, Rasello bersama Papi Hans menghadiri pertemuan wali kota di perusahaan pusat keluarga Castelo. Mereka tidak berangkat berdua. Mami Vee, Rasella, dan Viola ikut serta.

Pertemuan itu bukan sekadar acara formal. Wali kota datang untuk membahas kerja sama strategis antara pemerintah kota dan perusahaan Castelo, terkait proyek pengembangan kawasan bisnis terpadu di pusat kota.

Keluarga Castelo dikenal sebagai pemegang saham utama dalam beberapa proyek infrastruktur dan properti elite, sehingga keterlibatan mereka menjadi kunci dalam rencana pembangunan jangka panjang kota.

Begitu pandangan Rasello jatuh pada Viola, langkahnya terhenti.

Gaun di atas lutut dengan atasan sabrina yang memperlihatkan bahu mulus itu membuat rahangnya mengeras.

“Kenapa pakai gaun pendek? Ganti.”

Viola menunduk sebentar, meneliti gaunnya sendiri. “Ini nggak pendek banget, kok.”

“Ganti, Ola.”

“Ck, cerewet,” gumam Rasella jengah. Ia tak mau ikut campur urusan kembarannya dan langsung melangkah menuju mobil yang sudah menunggu di depan mansion.

“Ola, ganti aja. Kita tunggu,” bujuk Mami Vee dengan nada tenang.

Viola tahu, kalau ia membantah maka urusannya akan panjang. Mereka bisa terlambat hanya karena perdebatan sepele.

Ia memanyunkan bibir. Gaun itu sudah ia siapkan sejak lama. Namun, seperti biasa, Rasello selalu punya alasan untuk melarang.

“Iya,” jawabnya pelan.

Sebelum berbalik, Viola menatap Rasello kesal. Tatapan itu dibalas dengan sorot mata tegas bukan marah, melainkan khawatir yang tak pernah diucapkan.

Rasello memang tak ingin Viola mengenakan pakaian terbuka. Bukan semata karena cemburu, tapi karena ia tahu betul kondisi tubuh adiknya. Udara malam bisa membuat Viola jatuh sakit karena imunnya terlalu lemah.

Setelah Viola berganti pakaian yang kini lebih tertutup, mereka akhirnya berangkat.


Begitu tiba di gedung acara, Rasello mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Lo harus di samping gue terus selama di sini.”

Viola mengangguk cepat, senyumnya langsung mengembang.

Perhatiannya yang sederhana itu cukup untuk memperbaiki mood Viola. Ia selalu menyukai cara Rasello menjaga meski caranya sering terasa menyebalkan.

Dengan gemas, Rasello menjitak kepala Viola. “Jangan kebanyakan senyum.” Ia menggandeng tangan Viola masuk ke dalam gedung. Papi Hans, Mami Vee, dan Rasella sudah lebih dulu menyusul.

“Kenapa?” tanya Viola sambil mengusap kepalanya.

“Senyum lo jelek.” ucapnya tanpa menoleh.

“Apa? Jelek?” Viola mendengus. “Cici sama temen-temen Ola bilang senyum Ola manis. Katanya bisa bikin diabetes.”

Rasello akhirnya menoleh.
“Makanya jangan senyum. Mereka ngomong gitu karena senyum lo bikin orang jadi penyakitan.”

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang