Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.........
"Kak, ini ..."
"Apa?"
"Cokelat yang kemarin Ola janji-in." Viola duduk di samping Rasello yang tengah bermain game di sofa.
"Thanks."
Rasello mengambil cokelat pemberian Viola kemudian kembali fokus pada game. Hari ini adalah hari tersantai bagi Rasello karena weekend. Jadi ia bisa seharian bermain game.
"Kak," panggil Viola.
"Hmm,"
"Kemarin kakak kenapa pulangnya malam? Abis nongkrong bareng kak Deo sama kak Ben?"
"Hmm," hanya deheman sebagai jawaban dari Rasello, seolah membenarkan ucapan Viola.
Kenyataannya ia kemarin pulang hingga malam karena menghabiskan harinya bersama Liana. Ia dan Liana telah merayakan valentine bersama. Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Viola.
Kak, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Viola.
“Lo masih sakit,” jawab Rasello tanpa menoleh dari iPad-nya.
“Itu dia. Justru karena Ola lagi sakit, kakak harus ajak Ola jalan-jalan biar sembuh.”
“Lain kali aja. Hari ini lo harus istirahat penuh.”
Viola menekuk bibirnya. “Ayolah, Kak. Ola suntuk di rumah. Ola udah mendingan, kok. Nih, liat…” Viola berdiri dari sofa dan meloncat kecil untuk meyakinkan Rasello.
“Ola, stop!” Rasello buru-buru menyimpan iPad-nya dan memegang pinggang Viola. “Jangan lompat-lompat. Nanti jantung lo kambuh.”
Viola tersenyum lebar, lalu melingkarkan tangannya di leher Rasello. “Makanya ayo jalan-jalan.”
Rasello menghela napas pendek, lalu mengacak rambut Viola. “Ck. Lo nyebelin. Gue nggak pernah bisa nolak lo.”
“Maksudnya kak Ello setuju?” mata Viola berbinar.
Rasello mengangguk. “Cepet ganti baju. Gue tunggu di mobil.”
“Loh, kak Ello nggak ganti baju?”
“Emang harus?”
Viola memperhatikan Rasello dari ujung kepala sampai kaki. Kaos hitam polos dan celana pendek hitam—sederhana, tapi tetap terlihat tampan.
“Kak Ello nyebelin,” rengek Viola. “Ola disuruh naik kuda-kudaan, mancing ikan bohongan, lempar kaleng, sama rumah balon. Itu buat anak kecil.”
“Yang penting aman,” jawab Rasello, menahan senyum.
“Tapi Ola pengen yang seru.”
“Nggak baik buat lo.”
Viola kembali memanyunkan bibirnya, jelas saja kecewa.
“Mau es krim?” tawar Rasello akhirnya.
Viola langsung mengangguk. “Mau.”
Mereka berjalan ke toko es krim, lalu duduk di pinggir danau.
“Kak.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat?”
“Buat hari ini.”
Rasello menoleh, lalu tersenyum tipis. “Iya.”
“Lo udah gede, makan es krim aja belepotan,” ujarnya sambil mengusap sisa es krim di bibir Viola.
Viola terdiam. Dadanya terasa aneh bukan sakit seperti biasanya, tapi berdebar tak karuan. Padahal hal seperti ini sering Rasello lakukan. Hanya saja kali ini rasanya berbeda.
“Kak,” panggil Viola pelan.
Rasello menoleh.
“Jantung Ola sakit.”
“Apa? Obat lo dibawa, kan?” Rasello langsung meraih tas Viola.
Viola menahan tangannya. “Bukan itu.”
“Terus?”
“Ini bukan sakit karena penyakit Ola.”
Rasello mengernyit. “terus?”
“Karena kak Ello.”
“Gue?”
Viola mengangguk. “Tadi kak Ello bersihin es krim di bibir Ola. Jantung Ola jadi berdebar.”
Rasello terdiam sejenak.
“Ya udah, lain kali gue nggak lakuin lagi.”
“Bukan gitu maksud Ola,” Viola menggeleng. “Ini karena Ola suka sama kak Ello.”
Rasello terdiam lebih lama.
“Kalau kak Ello ngerasa cinta, jantungnya juga bakal kayak gini, jedag jedug berdisko.” lanjut Viola polos.
Rasello menyentil kening Viola. “Jangan ngaco. Udah, ayo pulang.”