Bab 23 {REVISI}

21.2K 858 135
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.......

Enam Tahun Kemudian…

Tidak terasa, enam tahun telah berlalu sejak Viola menetap di negara ini. Selama itu pula, tak sekalipun ia kembali ke tanah kelahirannya.

Entah karena takut, atau karena memang sudah merasa cukup nyaman di sini tanpa bayang-bayang perasaan yang dulu sempat menghantuinya.

Meski sesekali, rindu tetap datang. Rindu pada orang-orang yang pernah mengisi hidupnya di masa lalu.

“Ola, istirahatlah,” ujar Emma sambil melirik tajam ke arah Viola. “Kalau jantungmu kambuh lagi bagaimana? Dokter terapis mu sudah bilang, kondisi jantungmu makin melemah.”

“Aku masih punya banyak stok obat.” jawab Viola sambil terkekeh ringan.

“Kau ini benar-benar gila kerja...” keluh Emma.

“Setidaknya ini mengisi waktu luangku,” sahut Viola tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

Emma mendengus, lalu menutup laptop itu dengan tegas. “Isi waktu luangmu dengan berkencan. Bukan bekerja. Ini justru membuat kondisimu semakin buruk.”

Viola tersenyum lembut. Inilah yang ia sukai dari Emma, perhatiannya tulus caranya peduli tidak pernah setengah-setengah.

Setiap kali bersama Emma, Viola selalu teringat pada Rasella. Meski Emma dua kali lebih cerewet dibanding sepupunya yang dingin dan hemat kata, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama pengertian.

“Kau cerewet sekali,” gumam Viola sambil menenteng tasnya dan melangkah keluar dari ruangannya.

“Mau ke mana?” tanya Emma.

“Berkencan.” jawab asal Viola.

“Benarkah?” Mata Emma berbinar antusias.

Ia memang selalu bersemangat setiap kali membayangkan Viola berkencan. Selama mereka berteman, Emma tidak pernah sekalipun melihat Viola menjalin hubungan atau bahkan sekadar mendekati seorang pria. Padahal, begitu banyak pria yang mencoba mendekatinya.

Namun, semuanya selalu berakhir sama---Viola menolak dengan halus, lalu menjaga jarak. Seolah ada tembok tak kasatmata yang sengaja ia bangun.

Emma tidak pernah tahu alasannya. Viola tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya. Ada rasa kecewa, tentu saja karena Viola begitu membatasi dirinya.

Namun Emma memilih memahami. Baginya, Viola tetaplah sahabat yang tulus. Berbeda dari teman-teman lamanya yang hanya memanfaatkan status dan kemewahannya.

“Aku ikut, ya,” ujar Emma sambil menyamakan langkah. “Siapa tahu pasangan kencanmu bawa temannya.”

“Mau ke mana kan, Troy?” tanya Viola santai.

“Troy akan kujadikan pusat,” jawab Emma percaya diri. “Sekarang aku harus mencari cabangnya.”

Viola merangkul bahu Emma. “Dasar playgirl.”

Ello Untuk Ola {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang