Mencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih.
Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entah mana kisah yang lebih menyakitkan. Apa kisah Romeo memperjuangkan Juliet atau Romeo yang melupakan Rosaline. Namun keduanya memiliki alasan yang sama. 'CINTA'
Namun cinta tidak selalu tentangsiapa yang diperjuangkan, atau siapa yang akhirnya dimiliki. Ada cinta yang hanya datang untuk meninggalkan luka. Ada cinta yang tak pernah mendapat nama, tak pernah dipilih, tapi menanggung sakit paling dalam.
......
Rerumputan hijau membentang luas seperti samudra. Berbagai bunga berdiri indah di antara hamparan hijau itu.
Kupu-kupu berterbangan lalu hinggap di kelopak bunga, menghisap madu dari sarinya. Di sinilah Viola berada. Hatinya terasa tenang saat menghirup udara di tempat itu.
Namun ada sesuatu yang terasa aneh. Di mana sebenarnya ia berada? Apakah ada tempat seindah ini di dunianya? Tapi Viola tak terlalu memikirkannya.
Ia hanya tersenyum cerah sambil menyusuri bunga-bunga yang bermekaran, hingga seorang wanita bergaun putih menghampirinya.
“Viola…” panggil wanita itu.
Senyumnya mampu membuat Viola terpaku. Saat jarak mereka semakin dekat, wanita itu langsung memeluk Viola dengan erat.
“Putriku.”
Deg.
“M-Mama?” Viola bertanya ragu dengan suara bergetar.
“Iya, sayang. Ini Mama.”
“Mama…” Viola membalas pelukan itu. Wanita yang telah melahirkannya, namun seumur hidupnya tidak pernah ia lihat dan rasakan kasih sayangnya.
“Mama, Ola kangen Mama.” ucap Viola sambil terisak.
Laras melepas pelukannya, lalu mengelus kepala Viola dengan penuh kasih. “Mama juga,” ucapnya sambil tersenyum lembut.
“Kenapa Mama ninggalin Ola? Ola mau sama Mama.”
Laras tersenyum mendengar ucapan itu.
“Sayang, perjalanan hidupmu masih panjang. Mama selalu menunggumu di sini, tapi belum sekarang.”
“Kenapa? Ola mau sama Mama saja.” Viola kembali memeluk Laras erat.
“Sayang, kamu harus kembali.”
Viola menggeleng cepat. “Nggak mau! Ola mau sama Mama. Ola lelah di sana.”