Rasello menyandarkan dagunya di bahu Viola yang sedang sibuk dengan apron di tubuhnya. “Lo lagi ngapain malam-malam gini?” tanyanya santai.
“Ola lagi masak.” sahut Viola tanpa menoleh.
“Kan lo bisa minta maid.”
“Ini udah hampir tengah malam. Ola nggak enak minta mereka. Pasti lagi istirahat.”
“Itu kan emang kerjaan mereka.”
“Selama Ola masih bisa sendiri, ngapain nyuruh maid?” balas Viola tenang.
“Ya, ya… terserah,” gumam Rasello.
Tanpa aba-aba, ia mengecup pipi Viola.
Viola sontak terdiam. Tubuhnya kaku seketika, seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna kecupan itu. Jujur saja, semua ini masih terasa asing baginya.
Rasello terkekeh pelan melihat reaksi Viola. Kedua lengannya kemudian melingkar di pinggang Viola, membuat tubuh gadis itu semakin menegang.
“Pfft… lo lucu,” ucap Rasello menahan tawa, lalu kembali mengecup pipinya.
“K-kak Ello!” Viola gugup, mencoba mendorong Rasello menjauh, tapi cekalan itu tak mengendur.
“Hm?” Rasello menjawab santai.
“Le-lepas dulu… Ola mau simpan nasi goreng ke piring,” ucap Viola, jantungnya berdetak semakin cepat.
“Ya udah, tinggal lo taro aja,” ujar Rasello sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Viola.
“Kalau kak Ello gini, gimana Ola mau simpan nasi gorengnya?” gerutu Viola kesal.
Rasello akhirnya melepaskan pelukannya, lalu tertawa kecil melihat wajah Viola yang menekuk.
“Sini, gue aja yang siapin nasi goreng lo ke piring,” tawarnya.
Namun baru saja Rasello memegang apron untuk memindahkan nasi goreng, kakinya tersandung. Dalam sekejap, nasi goreng itu tumpah ke lantai.
Kedua mata Viola membola. Ia menatap lantai dengan perasaan campur aduk. Padahal ia sudah susah payah memasak untuk mengganjal perutnya yang keroncongan, dan kini semuanya berserakan.
Viola baru saja hendak melangkah, tapi Rasello langsung mencegahnya. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Viola dan menggendongnya, lalu mendudukkannya di atas meja makan.
Viola menatap Rasello dengan wajah terkejut. Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan sikap Rasello yang seperti ini, terlalu dekat, terlalu lembut.
Rasello mendekatkan wajahnya.
“Lo tunggu di sini. Biar gue ganti nasi goreng lo,” ucapnya.
Viola mengangguk pelan.
Sebelum mulai memasak, Rasello mengusap lembut kepala Viola, lalu mengacak rambutnya perlahan.
Beberapa menit berlalu. Viola menatap Rasello yang sibuk di dapur. Dalam hati ia ragu, selama ini Rasello bahkan hampir tak pernah menyentuh peralatan dapur.
“Lo pasti udah lapar banget, ya?” tanya Rasello sambil membawa panci berisi masakan.
Viola mengangguk cepat.
Rasello tersenyum, lalu perlahan membuka tutup panci.
“Tara~ sekarang lo bisa makan,” ucapnya bangga.
Namun saat melihat isinya, mata dan mulut Viola langsung membulat.
Selama puluhan menit menunggu, ternyata Rasello hanya memasak mi.
“Ayo makan,” ujar Rasello sambil menyerahkan sendok dan garpu.
“Makasih,” ucap Viola tersenyum, lalu mulai mencicipi mi itu.
Baru satu suapan, Viola langsung terbatuk. “Minum!” pintanya cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ello Untuk Ola {END}
Dla nastolatkówMencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih. Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
