Extra part khusus dibuatkan untuk kalian. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih telah membaca kisah ini🤍
...........
"Papa!"
"Papa!"
"PAPA!! BANGUNN!"
Panggilan dari tiga malaikat kecilnya mengganggu tidur Rasello. Ia membuka mata dan sudah di suguhkan dengan Kaycia di atas tubuhnya bersama Karl di belakang Kaycia dan Keenan duduk disampingnya.
Rasello tersenyum hangat melihat satu persatu wajah mungil mereka.
"Ada apa, hm? Ini kan masih jam tujuh pagi." Ucapnya melihat jam di atas nakas.
"Papa, ini udah tiang (siang)... Waktunya jenguk Mama." seru Kaycia.
"Oh iya, Papa lupa. Kalian tunggu Papa di bawah ya, Papa mau siap-siap."
"Siap kapten!" Serentak triple K.
Rasello menggelengkan kepala, tersenyum lirih. Sudah empat tahun ia hidup seperti ini tanpa Viola disampingnya.
Setelah siap-siap, Rasello menemui tiga malaikat kecilnya yang sudah menunggu di bawah. Ia menuntun mereka menuju mobil.
Kaycia yang ceria, Karl yang jahil dan Keenan anak satu-satunya yang memiliki sifat seperti dirinya, Cuek. Mungkin sifat cueknya melebihi dirinya. Tidak seperti kedua anaknya yang lebih mirip seperti Viola.
"Huaa Papa, kak Kalel (Karl) copot kuncilan Cia!!" Rengek Kaycia yang tengah di usili Karl.
"Cia, nama aku kalel bukan kalel!"
"Karl." Keenan membenarkan ucapan Karl yang sama-sama salah juga. Kedua adiknya masih belum begitu pasih dalam pengucapannya, berbeda dengannya.
"Sama aja! Pokoknya kak Kalel halus pacang (pasang) lagi... Cia gak mau tau!"
"Gak mau! Cia halus benel dulu nyebut nama aku, nanti balu aku benelin."
"Papa... Papa... kak Kalel gak mau pacang kuncilan Cia lagi..."
"Karl..." Panggil Rasello memperingatinya yang tengah menyetir mobil. Ia menempatkan ketiga anaknya di belakang.
"Kalel gak bisa pasang kuncilan, hehe..." Cengir Karl.
"Biar aku aja, sini." Ucap Keenan.
"Emang kak Keen yang paling baik... Gak kayak kak Kalel! Cia malah (marah) sama kak Kalel. Wlee,"
Keenan dengan telaten memasang tali rambut Kaycia. Sedangkan di satu sisi, Rasello tersenyum melihat interaksi ketiganya dari kaca depan.
Mobil berhenti pelan di depan gerbang pemakaman. Pagi itu langit cerah, terlalu cerah untuk tempat yang selalu Rasello datangi dengan dada setengah runtuh.
Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk ketiga anaknya. Keenan menggenggam tangan Karl, sementara Kaycia meraih jari Rasello dengan tangan kecilnya.
“Pegangan ya, jalannya pelan.” ucap Rasello lembut.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit nisan-nisan putih. Angin pagi berembus tipis, menggoyangkan daun-daun kering yang jatuh di sekitar. Rasello berhenti di satu makam dengan batu nisan marmer sederhana bertuliskan:
Viola Larasati Rahardian.
“Udah sampai.” bisiknya pelan.
Kaycia langsung melepaskan tangannya dan berjongkok di depan pusara. Karl dan Keenan ikut duduk di sampingnya. Rasello berdiri sebentar, menatap nama itu lama sebelum akhirnya ikut berlutut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ello Untuk Ola {END}
Teen FictionMencintai sepupu sendiri? Itulah yang dialami oleh Viola yang mencintai sepupunya, Rasello. Namun, cinta yang begitu mendalam dari Viola hanya dianggap sebagai adik. Tidak lebih. Kisah mereka semakin rumit ketika Rasello memutuskan untuk diam-diam m...
