BIG SIN III - Seven

438 26 10
                                        

Multimedia: Khumaira Azzahra dan Mauria Mahardika Sadewa.

*-----*

          Di dalam surau yang tampak temaram karena lampu yang kurang, terdapat banyak anak-anak dari usia lima tahun sampai remaja. Semua langsung menyambut Zahra dengan senyuman "Mbak Araaa" Dika terkekeh saat mendengar seorang gadis berusia sepuluh tahunan memanggil gadisnya menggunakan 'Ara'.

Mereka berjajar rapi menyalami Zahra satu per satu "Gimana? Udah ada yang hatam belum qurannya? Yang hatam acungkan tangan" suara Zara terkesan lucu saat mengajak mereka berbicara.

Beberapa dari anak-anak kecil mengangkat tangan "Ih hebat. Pinter-pinter ya semuanyaa"

Lagi, Dika hanya mampu memberikan senyum pada gadisnya. Pantas saja ia merindukan kampung halamannya. Banyak orang yang mencintainya di sini.

Ia pasti merindukan sejuknya aroma oksigen yang memenuhi paru-paru. Ia pasti merindukan tumpukan sawah yang tertata rapi baris per baris. Ia pasti merindukan air dingin nan segar dari pegunungan, dan ia pasti merindukan orang-orang yang juga merindukan dirinya.

Dika terduduk dalam diam dan hanya memperlihatkan Zahra memimpin pengajian. Ia tampak menggoreskan senyum yang manis pada setiap anak kecil yang menurut kepadanya.

Suasana perkampungan yang sangat kental. Pikir Dika saat ia melihat beberapa anak-anak bahkan mengaji dengan menggunakan bantuan lilin sebagai pencahayaan tambahan.

Rasanya seperti dejavu yang tak pernah ia ingat dimana memori ini sempat tercipta.

Dika yakin sekali kalau suasana seperti ini sempat terjadi kepada dirinya. Ia ingat suara tawa yang menggema dari seluruh isi ruangan. Gadis tomboy itu juga mengingat betapa temaramnya suasana itu, dan ia juga ingat perasaan hangat serta ramai seperti ini. Hanya saja, dimana?

Tak mungkin Dika pernah hidup di daerah seperti ini kan? Sejauh yang ia ingat, ia selalu hidup di perkotaan. Gadis tomboy itu bahkan tak pernah mengingat bahwa ia pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Tapi, kenapa rasanya sangat tidak asing?

Apa ia pernah kesini sebelumnya?




*--BIG SIN III 2023 By Riska Pramita Tobing--*




          Dika berjalan perlahan di antara gelapnya malam. Listrik di perkampungan Zahra masih tergolong cukup minim. Hanya ada beberapa rumah yang memiliki lampu, itupun hanya lampu berwarna oren yang biasa digunakan di toilet umum. Jalanan belum terpancari oleh cahaya yang cukup. Hanya diberi sedikit saja cercah dari obor-obor yang dinyalakan oleh setiap pemilik rumah.

Suara jangkrik tak begitu jauh dari pemukiman warga. Ada juga suara berisik dari anjing-anjing yang dibiarkan berkeliaran untuk menjaga sawah dari babi di malam hari seperti ini. Nuansa temaram yang cukup menyeramkan, tapi cukup tentram pula.

Jam yang melingkar di pergelangan tangan milik Dika berbunyi. Sudah pukul sembilan malam sekarang, tapi langit di atas bumi yang ia pijak masih saja terlihat cerah serta dipenuhi oleh bintang serta satu bulan yang tampak cekung kekurangan isi.

Ia sudah harus pulang ke rumah Zahra. Tapi kakinya membawa ia lebih jauh dari sana.

Ada sesuatu dari dalam diri si gadis tomboy yang membuat ia begitu penasaran terhadap rumah yang tak jauh darinya. Rumah yang bahkan tidak dihiasii oleh satu obor pun dari luar.

Dika tak yakin, tapi ia mencium aroma tak asing yang menggelitik ingatannya saat ia berada di halaman rumah itu. Seolah ia pernah menginjak halaman rumah ini sebelumnya. Tapi kapan?

Rumah yang terbuat dari kayu, sudah tampak rapuh dan tak terurus. Dika bahkan tak yakin kalau di dalam ada seseorang. Tapi ia bisa melihat ada satu cahaya temaram yang dihasilkan dari lilin di tengah rumah.

Tangan berisi milik Dika terulur secara otomatis tanpa berpikir untuk mengetuk pintu yang bahkan sudah berlubang. "Assalamualaikum" ujar si tomboy dengan suara parau.

Tak ada jawaban.

Sudah ia duga. Pasti tidak ada siapa-siapa di sini.

"Waalaikumsalam"

Suara itu...

Dika melirik pada suara familiar yang datang tak jauh darinya. Ada seorang wanita senja yang tampak kurus dengan senyum keibuan tercetak di bibirnya yang kering. "Ada apa nak?" suara perempuan itu terdengar gemetar di setiap perkataannya, tapi Dika melihat ada sosok tak asing yang pernah ia lihat sebelumnya dari wanita di hadapannya. Siapa dia?

Kepala milik si tomboy terasa pening seketika. Apa ini? Siapa dia? Kenapa Dika bisa mengenal aroma dan senyumnya? Siapa wanita ini?

Bruk.

*--*

     Terdengar suara langkah cepat di atas kayu yang bergetar karena langkahnya. Entah langkah siapa, tapi Dika berani menjamin kalau langkah tersebut mendekat ke arahnya.

Tak lama kemudian, ada usapan lembut di lengannya sebelum akhirnya terasa sesuatu yang dingin di atas keningnya. Itu pasti Zahra. Pikir gadis tomboy itu dalam bawah sadarnya.

"Bangun nak. Jangan buat Khumaira khawatir"

Dika tersentak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Barusan itu Ibunya.

Dengan tatapan nyalang, si gadis tomboy mencoba mencari ke seluruh isi ruangan yang tampak temaram untuk menemukan tidak ada siapapun di sana kecuali wanita senja tadi dan Zahra serta dirinya.

Dika tidak mungkin salah. Itu Ibunya. Suara itu adalah suara Ibunya.

Ia sering kali mendengar suara itu di dalam mimpi.

Itu benar-benar Ibunya.

"Kamu nggak kenapa-napa kan?" saat merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya, Dika melirik pada gadis cantik di sampingnya. Ia tampak khawatir.

Dika memejamkan mata sambil menghitung dari satu sampai lima. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Apa itu barusan?

"Mauria" seru Zahra pelan sambil memegang tangan milik si tomboy sehingga membuat si empunya jadi tersenyum pada gadisnya.

Dika menggeleng kecil "Tak apa. Aku baik-baik saja"

"Kenapa kamu di rumah Ibu Rahma?"

Oh, jadi wanita itu Rahma.

Si tomboy kebingungan sekarang. Ia juga tidak tahu alasan kenapa dirinya menginjakkan kaki ke sini.

Dika menggeleng jujur pada Zahra "Aku juga nggak tahu" balasnya seadanya.

Zahra mengerutkan kening dengan disertai kekehan kecil "Ada-ada aja kamu. Ayo pulang, sudah malam. Sepertinya kamu kelelahan sampai pingsan seperti ini"

Dika pingsan?

"Jadi ngerepotin Ibu Rahma deh" Zahra masih mendumel di sampingnya, tapi tatapan si tomboy terfokus pada wanita senja di hadapannya.

Wajah wanita itu terlihat sangat familiar.

"Heyy, ayo pulang. Udah malam. Kok malah melamun?"

Sedikit terkekeh, Dika kemudian mengangguki ujaran Zahra lantas segera berdiri secara perlahan.

Kepalanya masih sakit, tapi ia sudah mampu menahannya sekarang. Tak apa, setidaknya ia bisa berjalan ke rumah Zahra dan tidak merepotkan orang lain lagi.

"Bu, Ara pamit ya. Maafin temen Ara udah ganggu Ibu" kata si cantik sambil merengkuh lengan milik Dika dan membiarkan si tomboy mengikutinya dari belakang.

"Hati-hati nak"

Wanita itu..

Dia mirip dengan almarhumah Ibunya.

*-----*
Riska Pramita Tobing.

BIG SIN III Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang