"Rony mana?" Tanya Ati saat memasukkan kabel cas ke port usb handphonenya yang lowbat karena ia pakai berjam-jam scroll watch Facebook dan menonton drama Turki.
"Masih di atas kayaknya Kak" Jawab Manda.
"Dari sholat ashar tadi? belum turun-turun juga? Ini udah jam 6 loh. Dua jam, dia sholat ashar?" Amuk Ati dengan menegaskan tiap kata yang ia lontarkan.
"Kecapean mungkin Kak. Belum terbiasa" Refleks, bela Salma.
"Iyya mungkin" Ucap Ati santai mengangguk-anggukkan kepalanya.
Semua orang saling menatap.
"Tumben" Batin Syifa
Semua karyawannya heran dengan sikapnya yang tiba-tiba damai. Biasanya, kalau Ati sudah marah, ia tidak akan langsung diam kalau belum mengeluarkan semua unek-unek nya ke semua orang di sekitarnya, paling tidak satu jam.
"Belum terbiasa memang diah! karena ya di rumahnya juga dia ngga ada kerjaan kan! Orang yang ngerjain kerjaan rumah semuanya mamaknya. Kalo aku, anak kayak gitu, udah abis itu ku repeti! Nggak akan aman itu ku buat" Cerocos Ati tiba-tiba, sambil berkacak pinggang.
"Halah, kirain tadi udah aman" Bisik Hanggi.
"Biasalah kak namanya anak cowok" Ucap Salma berusaha menenangkan emosi bosnya.
"Ngga kau tengok itu si Rey? Dia libur, itu cuci baju! Baju kami semmuah dia itu yang cuci!" Ucap Ati makin marah.
Orang luar yang melihat, mungkin mengira Salmalah yang sedang di marahi. Karena Ati terlihat melampiaskan semua emosinya ke Salma.
"Ada yaa orang kayak gitu. Orang belain ponakannya, malah dia buruk-burukin. Perkara istirahat sebentar doang, lagian toko juga ngga rame. Marah-marah pula dia ke kak Salma. Padahal Kak Salma niatnya mau nenangin dia" Cibir Manda ikut geram, ia berbisik ke Hanggi dan Syifa di barisan etalase mereka.
Salma yang berada di etalase opponya sendirian, tidak menjawab. Dia hanya menatap, sekedar menghargai lawan bicaranya.
"Kemarin juga, aku tawarin dia jadi promotor biar dia berduit. Kau tau apa jawab dia Sal?"
Belum sempat Salma mengeluarkan satu kata, Ati sudah menjawab sendiri pertanyaannya.
"Engga usyah dulu Tannn" Lanjut Ati memperagakan ucapan Rony dengan memajukan bibir bawahnya dan menggerakkannya ke kiri-ke kanan.
Ia melakukan hal itu antara kesal karena Rony menolak tawarannya atau membuat lelucon untuk mencairkan suasana karena ia sadar ekspresi Wajah Salma sudah terlihat dingin.
"Jangan sampailah anak itu denger" Batin Salma menatap tajam ke arah Ati. Ia tidak berkomentar. Namun sorot mata dan ekspresi wajahnya memberitahu bahwa ia tidak cocok dengan arah pembicaraan ini.
"Harusnya kan udah ada tambahan modal, buat dia nanti buka toko di tempat mereka" Lanjut Ati lagi, masih kesal.
"Satu lagi. Dia itu minim banget attitudenya. Kemarin, pas aku suruh dia bantuin kau Sal. Dia cuman jawab Iya" Ucap Ati ke Salma.
"Iya doang loh. Ngga ada sopan santunnya" Kali ini Ati mengarahkan pandangannya ke barisan Hanggi, Syifa dan Manda, karena ia merasa Salma sudah tidak cocok dengan arah pembicaraan ini. Ati mengalihkan pandangannya ke barisan Hanggi, Syifa dan Manda untuk meminta persetujuan mereka atas sakit hati yang ia rasakan karena perlakuan keponakannya tersebut.
"Namanya juga bocah" Batin Salma.
"Terus, langsung ku telpon itu mamaknya. Kau ajari dulu anakmu itu, ku bilang sama kakakku mamak si Rony" Lanjut Ati masih mengarahkan pandangannya ke barisan Hanggi, Syifa dan Manda. Mereka bertiga terlihat menyimak dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHONE PROMOTER
RandomDisaat kamu berfikir ingin memberikan yang terbaik, kamu malah menjadi yang terburuk.
