"Sal" Panggil Ati.
"Apa kak" Jawab Salma.
"Sini deh" Pinta Ati agar Salma mendekat.
Salma langsung berjalan menuju kursi kasir.
"Coba deh kau fikir Sal. Si Rony, semalam order orbit. Kau tau Orbit kan Sal?"
"Tau kak. Wifi Telkomsel"
"Iya itu, dia order langsung ke si Reza, tanpa bilang apa-apa samaku. Karena si Reza cerita makanya aku tau, si Reza polos ngga tau kalo aku ngga tau. Berani-beraninya si Rony ini kayak gini. Biar dia tau, kalo bukan karena aku dia ngga bakal kenal sama si Reza."
Salma tidak menjawab apapun. Ia mematung. Matanya kosong, dengan wajah bengong, ia baru menyadari satu hal. Ia belum bertemu Rony sejak pagi.
"Aku lagi marahin dia habis-habisan ini di chatt"
"Rony emang kemana kak? Kenapa kakak nge chatt dia?" Tanya Salma heran. Salma mengira Rony di lantai 2, kamarnya.
"Dia libur, pulang ke rumahnya semalam pas kau off. Itulah sekalian dia bawa orbit itu, perangai macam apa itu, bermain di belakangku. Segitunya dia takut aku ambil untung kalo minta ke aku"
"Terus yang lebih parahnya, abangmu malah marahin aku, karena aku marahin si Rony"
Salma tidak begitu menyimak Ati, ia hanya fokus membaca layar Handphone Ati yang Ati berikan menunjukkan betapa marahnya ia dan bagaimana ia memarahi ponakannya.
Disitu terlihat Rony menjawab "Iya Tan", hanya itu. Padahal pesan yang di kirim Ati begitu panjang.
Salma tau betul kalo Rony tidak berniat membohongi atau membuat Ati marah. Salma berfikir Rony hanya tidak mau ribet. Semalam mungkin Bang Reza datang, lalu mengobrol dengan Rony. Rony kepikiran membelikan wifi untuk di rumahnya sembari ia bawakan ketika ia libur, makanya mungkin ia tidak melalui Ati. Karena Ati juga mungkin sedang berada di lantai 2 terus. Itu juga hal yang mungkin di fikirkan oleh Rio, makanya ia memarahi istrinya yang terus-menerus memarahi Rony di WhatsApp.
Seharian, Ranty melihat Salma, Ati, dan Rio melamun. Ketiganya memikirkan hal yang sama. Mereka takut Rony tidak kembali. Karena orang pendiam seperti Rony bukan tipikal orang yang menjelaskan. Tidak ada yang tau apa isi pikirannya.
_______________
Keesokan harinya,
Salma duduk sendirian berjaga di etalase Oppo. Di seberang, ada Hanggi dan Manda yang juga berjaga di etalase mereka masing-masing. Sedang Ati duduk menopang dagu dengan tangan di kursi meja kasir. Dan Ranty Syifa masih berada di lantai 3 sehabis mengerjakan piket masak pagi.
Tiba-tiba suara langkah kaki yang terdengar tidak asing di telinga Salma berdentak melangkah masuk. Salma langsung menatap ke arah sumber suara. Senyum sumringah pun langsung terpancar di wajah Salma saat melihat kedatangan Rony.
Rony begitu segar di mata Salma saat ini. Ia mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan celana jeans biru lengkap dengan pangkas barunya.
Rony membalas senyuman Salma dengan tersenyum pula. Semenginjakkan kakinya Rony ke dalam toko. Ia langsung ter-arah menuju ke Salma. Ia mengambil kursi panjang yang sebenarnya tidak begitu jauh, namun di dekatkan lagi agar tepat berada di depan Salma. Kini hanya etalase yang menjadi penghalang jarak keduanya yang beradu tatap.
"Kak Sal" Ucap Rony terlihat serius.
"Hm" Jawab Salma merespon Rony dan sekaligus tersenyum sekilas saat melihat Ayah Rony tiba-tiba muncul, berjalan masuk ke dalam toko melewati mereka. Senyum yang rada ragu Salma tampilkan, antara menyapa dan berfikir.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHONE PROMOTER
CasualeDisaat kamu berfikir ingin memberikan yang terbaik, kamu malah menjadi yang terburuk.
