43

247 16 2
                                        

"Aku tahu kenapa mamak Bang Rony ngga ikut" Ucap Manda.

"Karena dia tau bakal ada drama" Jawab Syifa langsung.

"Betul" Setuju Manda.

"Mereka bakalan susah buat pergi kalo tadi mamak si Rony ikutan datang ke sini" Ucap Hanggi.

"Iyah. Tadi aja Bapaknya Bang Rony cuma diam aja, bisa sampe 3 jam. 3 jam, bayangin, 3 jam baru mereka bisa pergi. Gimana jadinya kalo ada mamaknya bang Rony, ada yang ngerespon. Apa ngga sampe malam itu. Bisa-bisa ngga pulang-pulang lagi mereka" Ucap Manda.

"Iya. Kenapa harus di tahan-tahan sih. Kan ngga mungkin juga bang Rony tiba-tiba berubah fikiran. Tiba-tiba ngga jadi pergi, sekalipun kak Ati nangis-nangis kayak gitu. Aku aja kalo udah sempat ku bilang mau pergi, ya pasti pergi. Ya karena malu lah kan ya. Apalagi modelannya kayak bang Rony itu. Sekali dia ngomong, ya udah bulet" Sambung Syifa.

Mereka bertiga bercerita di barisan etalase mereka berjaga. Salma dan Ranty juga berjaga di etalase seberang. Sedang Ati dan Rio sudah beranjak ke lantai 2 seperginya Rony tadi siang.

"Gimana ya kita seterusnya? Kayaknya kak Ati bakalan sering jaga kasir" Ucap Manda lemas.

"Iya. Kenapa ya aku degdeg-an tiap kak Ati mau masuk toko ya. Padahal aku ngga ngapa-ngapain loh, ngga berbuat hal yang buruk juga" Sambung Syifa dengan wajah lemas.

"Itu karena suggestingnya kak Ati. Soalnya tiap dia masuk toko, ada aja yang salah di mata dia. Ada aja bahan dia marahin kita. Perhitungan juga, selisih sedikit aja kak Ati langsung ngamuk. Lupa nyatet apalagi, merepetnya bisa sampe 3 jam. Kayak waktu itu kak Hanggi lupa nyatet casing. Kak Salma hampir resign gara-gara itu, dia ngga tahan di marahin. Padahal kak Hanggi yang kena marah, kak Salma yang nangis minta Resign. Cuma karena Bang Rio bujuk kak Salma makanya kak Salma ngga jadi Resign, akhirnya dia cuma ngambil libur" Ucap Hanggi.

"Ya gimana ngga lupa nyatet? Kadang tiba-tiba rame. Bisa kadang satu orang ngelayanin 3 pembeli dan itu bisa berturut-turut sampe berjam-jam, apalagi pas ada beli hp, prospek lagi. Gimana ngga lupa. Toko kita kan ada di pasar, ya ramelah" Ucap Manda lagi.

"Iya. Kak Ati ngga mau banget ngertiin kita sama sekali" Sambung Syifa makin lemas.

"Eh teringatnya, si Megan Megan itu kok ngga datang-datang ya?" Tanya Ranty tiba-tiba ke seberang.

"Ooh. Dia ngga jadi kerja kak. Kata Sales kami sih dia batalin pengajuan datanya karena mau daftar polwan"

"Ishhh. Abis bikin aku kerepotan waktu itu, baru dia ngilang seenaknya" Batin Ranty.

"Padahal udah bagus pengganggu hubungan kalian udah pergi. Kenapa kau malah ninggalin si Salma sih Ron??" Batin Ranty sembari menatap Salma yang terlihat baik-baik saja, meski hatinya remuk.

"Gue tahu lo tuh ngga baik-baik aja. Lu lagi ngelawan hati lo sekarang buat baik-baik aja. Ntar lo malah makin sakit loh Sal" Batin Ranty menatap iba kepada sahabat di sampingnya.

____________

Seminggu berlalu, semuanya berjalan seperti biasa. Yang berubah hanya piket Salma tak lagi ada yang membantu. Dan kasir lebih sering di jaga oleh Ati. Service kembali ke Rio. Jadwal Rio memancing berkurang jauh membuat ia juga merindukan sosok kehadiran ponakannya, Rony.

Sama halnya dengan Rio, semua karyawan di toko itu sangat menyayangkan kepergian Rony. Tapi hidup harus terus berlanjut. Seminggu kemudian, mereka pun mulai terbiasa. Mereka tak lagi mengingat Rony. Karena memang pada dasarnya, tidak begitu banyak interaksi yang Rony lakukan dengan mereka, hanya kasir lebih tenang ketika Rony yang menjaga. Terkecuali Salma.

Selama 6 bulan Rony bekerja di toko ini. Salmalah 24/7-nya Rony. Mereka berpisah hanya saat malam hari saja. Dari jam 11 malam sampai setengah 8 pagi. Selain itu, di mana ada Salma ada Rony. Di mana ada Rony ada Salma. Piket bersama, brand yang sama, menjaga etalase yang sama, makan bersama, jajan bersama, keluar toko bersama, kalaupun Rony service hp, mejanya masih lurusan etalase Oppo, tempat duduk Salma. Kalaupun Rony berjaga di kasir, mereka masih sering chattingan saling mengejek bercanda dengan jarak yang tidak begitu jauh.
Rony setiap di suruh keluar untuk suatu keperluan pun, pasti minta Salma ikut. Karena memang cuma Salma yang hafal jalanan kota ini, karena cuma ia warga lokal.

_____________

Minggu kedua. Tak lagi ada yang membahas Rony. Namun Salma baru merasakan life after breakup-nya. Setiap apa yang ia lakukan, kemana ia pergi. Selalu ada ruang tempat Rony. Selalu ada cerita antara ia dan Rony di setiap moment.

Di pagi hari, biasanya ia datang piketnya sudah di kerjakan Rony. Kini ia datang etalase-etalase di penuhi debu. Ia kebelakang mengambil kain lap. Ia teringat ada kain lap yang biasa di gunakan oleh Rony.

Ia duduk di etalase Oppo, biasa ada Rony di depannya. Ada pembeli yang ingin mengganti layar, dia hampir memanggil "Ronnnnn". Kebiasaannya langsung apa-apa ke Rony.

Saat jam makan siang. Ia kembali teringat ke Rony. Bontot yang ia pakai ini pernah ia berikan ke Rony saat Rony sakit. Ia mendatangi kamar Rony ke lantai 2, mengetuk pintu kamar Rony. "Ronn". Tidak ada sahutan, Salma membuka pintunya. Kamar Rony gelap, namun masih terlihat posisi Rony sedang tidur. Salma tahu Rony tidak benar-benar tidur, ia hanya tidak punya tenaga untuk menyahuti Salma. Salma lalu menaruh bontotnya di dekat pintu. "Ini ya Ron, lo harus makan" lalu Salma menutup kembali pintunya.

Salma pergi ke belakang, ia melihat bayangan dirinya dan Rony pernah makan bakso berdua di meja makan belakang ini.

Salma naik ke lantai 3, di tangga dari lantai 2 ke lantai 3 ini pun Salma dan Rony pernah bercanda, sampai stop kontak kak Ranty putus.

Salma masuk kamar mandi lantai 3 menangis sejadi-jadinya.

"Kok lu pergi sih Ron? Kok lu tega ninggalin gue?? Se engga berarti itu kah gue di mata lo, sampe lo seenaknya gini sama gue?? Gua harus gimana ke depannya ini Ronnnn??" Ucap Salma tanpa ada yang mendengar. Ia menangis sembari menahan dadanya yang mulai sesak karena menutupi kesedihannya semenjak kepergian Rony. Ia menderita sendirian di saat semua orang sudah melupakan Rony.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PHONE PROMOTER Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang