Pukul 08.15
Salma berlari sekuat tenaga sembari melihat ke kiri kanan apakah ada Beca yang lewat. Hampir setengah perjalanan ia tempuh berlari-larian.
Tidak lama kemudian muncul sebuah Beca. Salma naik dan langsung mendesak tukang Becaknya agar buru-buru membawanya ke tempat kerjanya.
08.24 Salma sampai di toko. Ia mengendap-ngendap masuk dengan langkah perlahan. Saat meletakkan tasnya di atas meja, ia bertemu pandang dengan Ranty. Salma lalu meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya, mengisyaratkan kode kepada Ranty agar Ranty diam alias tutup mulut.
Tiba-tiba Ati yang awalnya tertidur, tangan yang menopang pipinya tergelincir dan membuat ia akhirnya terbangun.
"Belum datang si Salma?" Ucap Ati meluruskan badannya sambil membuka mata perlahan menatap ke arah etalase Oppo. Ranty langsung melempar kain lap ke tangan Salma.
"A a, Kaka ketiduran Sal" Ucap Ati tersenyum saat bertemu mata dengan Salma, setelah melihat kain lap di tangan Salma dan menatap etalase-etalase sudah mengkilap. Ati lalu berpindah tempat, tidur ke lantai 2.
"Huh" Ucap Salma dan Ranty buang napas lega.
Setelahnya Salma lalu mengambil Sapu, karena mengelap sudah di kerjakan Ranty sebagian untuk yang garis besarnya, sebagian lagi adalah tugas Rony untuk yang meja kasir, service dan area sekitarnya. Ranty ke belakang untuk makan pagi. Syifa pun berada di belakang juga. Sedang yang lainnya masih di lantai 3 atas.
Salma merasa ia harus segera menyelesaikan piket menyapu secepat mungkin. Ia takut Ati tiba-tiba muncul kembali dan menyadari toko baru akan di sapu di jam yang hampir menunjukkan pukul setengah 9 ini. Padahal biasanya mereka sudah selesai menyapu di jam 8 pas.
Salma pun mempercepat gerakannya dari biasanya. Karena terlalu buru-buru ia pun tidak menyadari kakinya tergores sudut etalase Samsung yang baru saja sampai. Awalnya ia tidak merasakan apa-apa, hanya merasa perih sedikit di ujung jempol kaki kanannya. Ia terus menyapu sampai selesai.
Saat Salma ingin mengantarkan sapu tersebut ke tempatnya, Ranty datang dari belakang setelah ia selesai makan.
"Kakimu Salll" Ucap Ranty tiba-tiba dengan nada shock dan cukup mengejutkan.
Salma pun sontak menatap ke arah kakinya. Dan terlihatlah jempol kaki kanannya sudah seperti di celupin cat merah.
"Hakh?"Salma tercengang menatap bekas pijakannya tercecer darah.
"Aduhhh" Salma berdecak melihat lantai yang berceceran darah.
"Lo duduk dulu sana" Ranty buru-buru memaksa Salma masuk.
"Tapi ini?" Tunjuk Salma ke lantai yang harus di lap.
"Udah gue aja yang bersihin. Sana lo duduk aja di dalem" Ucap Ranty dengan cukup panik.
Salma pun menurut langsung masuk ke dalam barisan etalase. Ia duduk di lantai belakang etalase.
Ranty langsung ke belakang dan muncul dengan membawa kain.
"Ini brentiin dulu darahnya Sal. Sobekin pake pisau ini terus ikat dulu jempol lu, darahnya ga berhenti-berhenti itu" Ucap Ranty miris melihat kaki Salma.
Setelah memberikan kain itu ke Salma. Ranty lalu lanjut membersihkan darah yang tercecer di lantai teras depan tadi.
Rony masuk toko dengan membawa kain lap yang ia bawa dari kamar mandi belakang. Ia mulai mengelap bagiannya, area kasir.
Sebelumya ia tidak menyadari apa yang terjadi karena Salma duduk di lantai, belakang etalase Oppo dan tidak terlihat oleh Rony. Namun saat Ranty bolak-balik tak karuan. Rony pun mulai menyadari ada hal yang tidak beres terjadi disana. Namun Rony saja tetap melanjutkan pekerjaannya dan tidak bertanya apapun kepada Ranty.
Ranty kembali lagi menatap keadaan Salma.
"Udah gimana Sal?" Tanya Ranty masih berdiri.
"Kukunya lepas kak. Ternyata kuku kita tebal loh kak. Nih coba kaka pegang" Ucap Salma dengan entengnya.
"Ya Allah Sal, ayo ke rumah sakit" Ucap Ranty hampir menangis menerima kuku pemberian Salma.
"Gausahlah kak, cuma gini doang kok, masih bisa dipasang kok. Sinih" Pinta Salma menagih kembali kukunya.
Ranty dengan sangat hati-hati memberikannya kembali. Air matanya mulai menetes.
Salma menempelkan kembali kuku jempolnya yang sudah terpisah kembali ke jempolnya lagi layaknya seperti memasang anti gores hp.
"Gampang kok masangnya, tapi ditunggu darahnya agak keringan ya supaya dia agak mengental biar kukunya bisa lengket lagi" Ucap Salma seolah menjelaskan tutorial cara memasang kuku yang benar.
"Astagah Sal, Lo fikir kuku lo itu maenan lo mainin kayak gitu, itu kuku asli, daging lo udah keliatan itu. Ampun deh gue Sal sama lo. Ampunnnnn. Nanti infeksi gimana, lo mandi gimana" Ranty merepet abis-abisan sambil menangis.
"Ya gini kak Ran. Tinggal angkat kaki aja"
"Serah lu lah. Lu pulang aja dulu kalo nggak, biar gue anterin" Ranty pun menghapus airmatanya. Ia malu sendiri karena Salma biasa saja.
"Eh jangan. Ntar mamakku pingsan"
"Siapa yang ngga pingsan liat darah sebanyak ini" Tunjuk Ranty ke kain panjang yang sudah berwarna merah tersebut.
"Udah. Gue pel depan dulu" Pamit Ranty kini sudah lebih tegar.
"Thankyou ya kak Ran" Ucap Salma tersenyum.
"Iyahhh" Ucapnya masih nada kesal.
Rony tidak begitu jelas mendengar percakapan Salma Ranty karena Rony berada di area kasir sedang Salma dan Ranty di belakang etalase Oppo dengan Salma yang tidak terlihat sama sekali. Namun kehisterisan Ranty sudah ada sinyal bagi Rony kalau Salma sedang dalam kondisi yang kurang baik di balik etalase Oppo tersebut.
Rony berjalan ke teras mengelap etalase Oppo paling depan dan di sanalah Rony pun melihat semuanya. Kaki Salma yang dibalut kain yang hampir berwarna merah dan kain panjang di depan Salma juga seluruhnya hampir berwarna yang sama karena darah. Rony dan Salma bertemu mata. Salma dengan tatapan meminta perhatian, seolah ia ingin ditanya di khawatirkan oleh orang yang paling ia harapkan. Salma tidak berucap apapun namun matanya seolah mengatakan "Aku sakit Ron"
Namun Rony tidak bereaksi apapun. Ia kembali ke belakang, menaruh kain lap dan semprotannya lalu duduk di kursi meja kasir seolah tidak terjadi apapun.
Salma terdiam.
Kaki yang awalnya tidak terasa apapun kini terasa begitu perih untuknya.
"Kenapa Sal?" Tanya Ranty yang tiba-tiba datang sudah melihat Salma meneteskan air mata tanpa suara.
"Kan udah gue bilang pasti nanti perih. Ayo ayo ke rumah sakit"
Kepala Salma ia gelengkan lemas mengatakan tidak usah. Namun air matanya terus-menerus menetes.
Ranty mendekat, duduk tepat di depan kaki Salma. Dengan perlahan ia mengganti kain yang membungkus kaki Salma dengan kain baru dengan cukup hati-hati. Salma membiarkannya dan hanya termenung memikirkan tatapan Rony tadi yang begitu dingin.
Seharian Salma merasakan sikap dingin Rony yang semakin lama semakin terasa. Rony tidak datang ke etalase Oppo sama sekali. Seharian ia hanya duduk di meja kasir, pergi ke belakang untuk makan dan ke lantai dua untuk sholat.
Bahkan tidak sekalipun Rony menatap ke arah etalase Oppo. Salma yang terus-menerus melihat ke arah Rony tidak pernah bertemu mata dengan Rony. Rasanya Salma ingin sekali menangis. Dadanya sesak karena menahan air matanya turun kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHONE PROMOTER
AcakDisaat kamu berfikir ingin memberikan yang terbaik, kamu malah menjadi yang terburuk.
