Ayya melambaikan tangannya dan tersenyum dengan riang saat Juna keluar dari mobilnya dan berjalan menghampirinya.
"Selamat sore mas, mau beli obat apa?" godanya, membuat Juna yang semula hendak masuk ke dalam, menggeser langkahnya dan berdiri di depan etalase apotek.
"Beli obat rindu, ada?" tanya Juna.
Ayya tertawa, "Ada. Mau level satu, dua, apa tiga?"
"Saya suka yang level paling atas Mbak. Level ekstrem."
Ayya menggelengkan kepalanya seraya tertawa, "Nggak boleh. Masih trimester pertama," jawabnya. Membuat Juna terkejut dan tertawa, "Mbak kali yang butuh obat rindu yang itu," godanya.
"IH! Apaan!"
"Pura-pura nggak ngerti, muka kamu udah merah," ledek Juna.
Ayya mengerucutkan bibirnya. Ia mengayunkan tinjunya ke udara, membuat Juna menatapnya, "Sini dong tonjoknya beneran kalau berani."
"Males ah, kamu mah heureuynya kuli," keluh Ayya.
Juna tergelak. Ia membuka pintu kecil dekat etalase, agar Ayya bisa keluar dengan bebas. Wanita itu tersenyum padanya dan menunggu Juna membetulkan pintu lalu menggandeng tangannya.
"Padahal dulu kamu berani mukul aku," kata Juna.
"Itu kan dulu."
"Kamu juga berani debat sama aku."
"Iya kan itu dulu. Namanya prinsip harus ditegakkan," kata Ayya.
"Sekarang nggak pernah ditegakkan lagi, udah nggak punya prinsip apa gimana?"
Mendengar pertanyaan Juna, Ayya mendelik tajam ke arahnya, membuat Juna tertawa dengan puas karenanya. Arrrrg! Kenapa sih Juna senang sekali menggodanya seperti ini?!
****
"Junaaaa, gasnya abis."
Juna yang baru saja duduk di atas sofa dan menyalakan TV menoleh pada Ayya yang kini berjalan ke arahnya. Wanita itu memakai celemek pink favoritnya dengan rambutnya yang ia gulung dengan asal. Ayya memang hendak memasak untuk makan malam mereka.
"Oke, aku ganti dulu sebentar ya," kata Juna.
Ayya mengangguk. Ia mengekori Juna, memperhatikan suaminya yang telaten mengganti gas di dapur mereka. Membuatnya tersenyum lalu kemudian terkikik. Oh Tuhan, padahal Ayya bisa melakukannya! Mengganti gas bahkan mengatasi gas bocor saja Ayya bisa. Sungguh!
"Jadi inget awal nikah," kekehnya.
Juna menoleh, "Kenapa?" tanyanya lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Kamu selalu bilang 'Bisa nggak, minta tolong aku?' hahaha. Lucu ya kalau dipikir-pikir."
Selesai. Juna menyalakan kompor untuk memastikannya berfungsi dengan baik lalu kembali mematikannya. Ia menatap Ayya dan menggeleng, "Sekarang bilangnya lucu, dulu ya kewalahan juga aku," kata Juna.
Ia menghela napasnya, "Awal kenal tuh yang parah banget."
****
Lima Tahun Yang Lalu
KAMU SEDANG MEMBACA
From Home
ChickLitDi sini ada tiga pasangan yang ... yah perpaduannya mungkin tak seperti pasangan-pasangan lainnya. Maisy dengan suaminya-Dion-yang brondong dan terlihat menggemaskan di matanya. Kaureen dengan suaminya-Kun-yang posesifnya membuat semua orang berpi...
