Part 23

1.1K 207 9
                                        

Ini sudah hari ketujuh ia dan Ayya tinggal di apartemen yang Ayya sewa, dan situasi di antara mereka tak juga terselamatkan. Ayya masih sama, wanita itu melakukan semuanya sendiri, ia tak pernah melibatkan Juna lagi dalam beberapa hal. Jangankan melibatkannya, mengajaknya bicara saja tidak. Juna sudah terbiasa mendengar cerita Ayya pagi-pagi dan begitu kehilangan momen itu, Juna benar-benar kewalahan. Mood nya sudah buruk sejak pagi, tentu saja, diperparah dengan Wajib Pajak kantornya yang banyak mangkir dari panggilannya.

Pria itu menatap seseorang di hadapannya dan berkata, "Bapak sudah saya panggil ke sekian kalinya tapi nggak pernah datang, WA saya juga tidak pernah dibaca, telpon saya sengaja tidak diangkat. Sekalinya mendapatkan surat sita begini, Bapak langsung menghadap. Saya rasa saya sudah menjelaskan sejak awal kalau semua masih bisa didiskusikan dan saya bisa memberikan kelonggaran, tapi kalau sudah begini, saya juga tidak bisa membantu apa-apa."

Pria di hadapannya hanya bisa menundukkan kepala, "Mohon maaf ya Pak Juna, saya juga sama-sama kerja, nanti saya bicarakan dulu dengan direktur saya."

Setelah mengucapkannya, mereka saling berpamitan. Juna mengantar Wajib Pajaknya sampai ke pintu kemudian berjalan kembali ke ruangan tamu. Ia melirik ponselnya, tidak ada pemberitahuan apapun di sana. Padahal biasanya Ayya selalu mengirimnya pesan, tapi sekarang? Ayya bahkan tak peduli lagi padanya.


Kamu gak tau ya segimana chaosnya kerjaan aku sekarang?


Juna menatap pesan yang ia ketik selama beberapa saat hingga akhirnya menghapusnya lagi dan memutuskan untuk tidak mengirim apa-apa pada Ayya. Ia keluar dari ruang tamu dan melihat Leni—teman sekantornya yang biasa menjual makanan favorit Ayya.

Senyuman tersungging di wajahnya. Juna punya ide sekarang.


Sweetheart, mbak leni jualan banyak bgt hari ini. Kamu mau dibeliin apa?


****


Juna meringis saat menatap ponselnya. Pesan yang ia kirimkan pada Ayya tidak sampai karena wanita itu memblokirnya. Padahal tadi pagi ia masih bisa mengirim pesan, sekarang sudah begini. Ya Tuhan, apa yang harus Juna lakukan sekarang? Apakah hubungannya bersama Ayya benar-benar sudah berada di titik penghabisan? Tidak. Tidak. Juna tidak mau.

"Wey! Halo bro!"

Juna melirik Dion yang baru sampai dan duduk di hadapannya. Pria itu membawa segelas kopi yang dia pesan. Iya, mereka janjian di coffee shop yang berada di apartemen Dion, sengaja supaya dekat menuju Ayya ataupun Maisy. Sebenarnya Dion tidak mau, katanya dia sedang asyik bersama Maisy, tapi Juna terus memohon-mohon padanya, aneh juga sih, tapi lebih aneh kalau dia terus menahan rasa penasarannya. Lebih baik tanya langsung saja bukan?

"Yonn ... gue harus gimana?"

Wajah Juna benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang kacau luar biasa. Jika tempo hari Juna masih bisa mengontrol dirinya, hari ini tidak. Dia benar-benar berantakan.

"Kenapa? Lo kelilit hutang?" tanya Dion. Setahunya, orang-orang yang punya raut wajah seperti itu kalau tidak kena tipu, ya kelilit hutang.

Juna menggeleng, "Ayya," ucapnya.

"Ayya kenapa? Kalian bukannya udah baikan?" tanyanya.

From HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang