Ada banyak hal yang tidak pernah kita siapkan dalam hidup. Tetapi pertanyaannya ... memang kapan sih manusia merasa siap? Bukankah kita tidak pernah siap dan hanya mencoba untuk menerima lalu menjalani—dalam artian memaksakan diri kita untuk siap? Bahkan kita lebih sering mendengar orang berkata "Siap tidak siap, harus siap." Dibanding orang mengatakan "Mempersiapkan diri jauh lebih penting." Kenapa? Tentu saja, mempersiapkan diri hanya untuk hal yang kita antisipasi, sementara memaksakan diri untuk merasa siap ... tentu saja untuk hal yang tak pernah kita duga akan muncul dalam hidup kita.
Maisy tahu bahwa manusia mengalami pertumbuhan, termasuk anaknya, namun ia tak pernah menyangka kalau putrinya—yang ia besarkan seorang diri itu sudah tumbuh sangat jauh, lebih jauh dari perkiraannya. Dalam benaknya, ia hanya berpikir bahwa suatu saat Freya akan menikah dan hidup terpisah darinya, ia tidak pernah memikirkan proses-proses pertumbuhan lain yang menyadarkannya bahwa ... ah, anaknya benar-benar sudah tumbuh dan beranjak remaja, hingga nanti dewasa.
Wanita itu masuk ke dalam kamar Freya, anaknya masih tidur, dan biasanya Maisy sudah mengomelinya habis-habisan karena susah dibangunkan, tetapi hari ini, Maisy membiarkannya. Ia duduk di samping ranjang Freya dan menatap anaknya lekat-lekat. Oh Tuhan, fokus bekerja dan melakukan yang terbaik untuk anaknya membuatnya tidak sadar bahwa anaknya sudah sebesar ini sekarang.
Ia beranjak dan keluar dari kamar Freya, masuk ke dalam kamarnya dan menatap Dion dengan matanya yang berkaca-kaca, "Gimana atuh yang, aku nggak tega," katanya.
"Nggak tega kenapa?" tanya Dion.
"Nggak tega lihat Freya, malah pengen nangis terus aku lihatnya. Aku pura-pura nggak tahu aja tetep gitu ya?" tanyanya.
Dion menghampirinya dan memeluknya hangat, "Kan memang ceritanya pura-pura nggak tahu?"
"Iya juga," sahut Maisy.
"Tapi kalau Freya lihat aku nangis, dia pasti tahu ya," jawabnya.
"Kalau gitu kamu bangunin dia aja kayak biasa, kan biasanya juga ngomel-ngomel," kata Dion.
Maisy menggeleng, "Kasihan, aku takut Menstruasinya Freya sakit, terus dia juga kan nggak perlu solat subuh. Ngapain dibangunin."
"Tapi kan kamu ceritanya pura-pura nggak tahu," kata Dion.
Nah. Benar juga. Kalau pura-pura nggak tahu, harusnya Maisy mengomeli Freya seperti biasanya bukan?
"Aduh, jadi mikir kalau aku kebanyakan ngomelin Freya sampai-sampai sekalinya nggak ngomel gini takut Freya curiga," gumamnya.
Dion tertawa, "Bukan aku yang bilang ya!"
****
Ayya masih sangat menikmati masa-masa kehamilannya selama lima bulan terakhir, tetapi begitu usia kehamilannya menginjak enam bulan dengan perutnya yang semakin membesar, Ayya mulai kewalahan. Satu hal yang sempat ia lupakan. Oh Tuhan.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar dan menunggu Juna selesai mandi, begitu suaminya keluar dari kamar mandi, wanita itu menghampirinya.
"Sarapan di luar mau nggak?" tanyanya tiba-tiba.
Juna berjalan menuju lemari seraya mengeringkan rambutnya. Ia tertawa, "Ayo! Makan kupat tahu ya?" tanyanya.
Ayya mengangguk dengan senang, "Mau yang di Simpang boleh?"

KAMU SEDANG MEMBACA
From Home
ChickLitDi sini ada tiga pasangan yang ... yah perpaduannya mungkin tak seperti pasangan-pasangan lainnya. Maisy dengan suaminya-Dion-yang brondong dan terlihat menggemaskan di matanya. Kaureen dengan suaminya-Kun-yang posesifnya membuat semua orang berpi...