Ayya menatap barisan mobil-mobil yang berada di halaman kantor Juna seraya berdecak kagum. Dari mulai mobil biasa sampai mobil mewah ada di sana. Semuanya barang sitaan dan menunggu ditebus oleh pemiliknya. Kalau tidak ditebus, ya akan dilelang.
"Yang ini lucu," katanya.
"Mau?"
Suara Juna membuat Ayya terperanjat, "Kaget ih!"
"Kamu kayak maling aja," kata Juna.
Ayya tertawa, "Iya ya? Padahal cuman lihat-lihat."
"Mau?" tanya Juna sekali lagi.
Ayya menatapnya dan berkata, "Mau beliin?"
Juna mengangguk, "Ambil cicilan aja ke bank."
"Enak aja!" katanya.
"Tabungan kita kan buat baby kita sampe gede," ucap Juna.
Ayya menggelengkan kepalanya, "Nggak. Aku nggak butuh juga mobil, kan masih ada kamu yang bisa anter ke sana-sini."
Juna tersenyum senang mendengarnya, "Bener. Kamu sama aku terus pokoknya ya."
"Eh, ada Ayya?"
Sebuah suara membuat keduanya menoleh tiba-tiba, seorang pria muncul di hadapan mereka, salah satu teman kantor Juna.
"Eh, halo Mas Abid," sapa Ayya.
Abid—pria itu tersenyum, "Juna abis pecahin rekor tuh Ya. Kasih hadiah nanti di rumah."
"Wow! Rekor? Yang target penagihan itu?" tanyanya.
Abid mengangguk, membuat Ayya menatap Juna dengan binar di matanya, "Waa, akhirnya pusingnya kamu beres juga, jadi prestasi," kekeh Ayya. Mendengar pujian istrinya membuat wajah Juna sumringah, bahunya naik beberapa centi karena kebanggaan yang memenuhi dirinya.
"Tapi nih Ya, si Juna Mau dibikinin party sama bos kita malah nggak mau," ucap Abid.
Ayya menatap Juna untuk meminta penjelasan, sementara Juna hanya tersenyum.
"Apaan sih lo, lebay banget party-party an."
"Jir, dibilang lebay. Padahal sebelum nikah mah si paling party."
Ayya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sedangkan Abid pergi begitu saja, meninggalkan keduanya dengan suasana yang mulai berubah seketika.
"Apa harusnya aku nggak ke sini ya, biar kamu bisa party," sesal Ayya.
Juna meliriknya tajam, "Kamu ngomong apa? Nggak gitu. Kita kan mau ke dokter."
"Tapi aku bisa kok ke dokter sen—"
Ucapannya belum sempat ia selesaikan karena Juna sudah meraih tangannya dan membawanya pergi dari sana. Padahal Ayya datang ke kantor Juna susah payah, ia membujuk Juna dan mengatakan bahwa akan lebih cepat untuk mereka pergi ke dokter kalau Ayya yang ke kantor Juna ketimbang Juna yang menjemput Ayya lalu pergi ke klinik yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor Juna. Tapi apa ini? Ayya malah menyesal karena mendengar hal yang tak seharusnya ia dengar. Atau mungkin ... ia memang harus mendengarnya?
****
Freya pulang dengan isak tangis luar biasa saat Dion bahkan baru membuka pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Home
Chick-LitDi sini ada tiga pasangan yang ... yah perpaduannya mungkin tak seperti pasangan-pasangan lainnya. Maisy dengan suaminya-Dion-yang brondong dan terlihat menggemaskan di matanya. Kaureen dengan suaminya-Kun-yang posesifnya membuat semua orang berpi...
