Part 31

1.3K 221 20
                                    

Selasa,


Kaureen terbangun dengan rasa pusing yang menyerang kepalanya. Ia memaksakan dirinya untuk bangun, namun tubuhnya juga tak nyaman karena semalaman ia tidur di atas sofa. Wanita itu mencoba menegakkan posisi duduknya namun ketika berhasil duduk, ia terperanjat karena Kun sudah berada di sana, tepat di hadapannya.

"Ya ampun!" katanya.

"Pusing kan?" tanya Kun, tidak. Terdengar seperti tuduhan, bukan pertanyaan.

"Kenapa malah tidur di sini?" nada suara Kun membuat Kaureen menghela napas. Masih pagi dan mereka harus berdebat? Yang benar saja!

"Malem ngerjain di sini," jawabnya.

"Sampe jam berapa?"

"Nggak tahu, aku nggak lihat jam."

"Bagus. Kerjain aja itu kerjaan sampe kamu capek, sampe kamu sakit, sampe kamu nggak bisa bangun!"

Ada nada sindiran yang tajam dari ucapan yang barusan Kun lontarkan kepadanya. Kaureen menghela napas dan menatapnya, "Bisa nggak, kita tunda pembicaraan ini setidaknya sampai kerjaan aku selesai?"

"Oh, silakan. Pekerjaan kamu kan memang lebih penting dari apapun."

Setelah mengucapkannya, Kun beranjak dari tempatnya begitu saja. Meninggalkan Kaureen yang kini hanya bisa menjambak rambutnya dengan frustrasi.


****


"Aku happy banget waktu kamu minta dibekelin pagi ini."

Ayya mengucapkannya seraya memasukkan lunch box untuk Juna ke dalam tas.

"Full banget soalnya hari ini. Aku lagi mual makanan di luar, pengen masakan rumahan," ucap Juna.

"Udah aku masakin yang paling enak!"

Ayya menyerahkan tasnya pada Juna, disambut oleh senyuman lebar dari wajah Juna, "Makasih ya! Nanti aku fotoin pas makanannya udah abis."

"Nggak difotoin juga nggak apa-apa."

"Tapi pengen kan?" goda Juna. Ayya menahan senyumnya. Bagaimana ya, memang rasanya senang sekali kalau masakannya dihabiskan oleh Juna. tidak, bukan Juna saja, melainkan semua orang yang memakan masakan buatannya. Ayya akan senang kalau mereka menghabiskannya.

"Aku pergi dulu ya!" pamit Juna.

Ayya tersenyum. Ia mengantarnya sampai pintu dan melambaikan tangannya dengan riang. Juna yang melihatnya tersenyum bahagia. Pria itu menghampirinya dan mencium hidungnya, membuat Ayya protes kepadanya, "Kok cuman idung doang?"

Juna tertawa, "Sisanya nanti malem."

"WOY!"

Pria itu masih saja tertawa, ia masuk ke dalam mobil dengan wajah cerahnya. Juna mengemudikan mobilnya keluar dari blok perumahannya dan begitu lewat ke rumah Kun. Waduh, rasanya ingin memamerkan kebahagiaannya pagi ini. Pria itu terkikik, hendak membunyikan klakson, tetapi sosok Kun yang berada di sana membuatnya mengerutkan kening karena kebingungan.

"Udah mulai bapak-bapak kah si Bang Kun? Nongkrongnya pindah ke pagi?" gumamnya.

"Tapi kurang menjiwai ah. Nggak ada kopi, koran, sama burung," sambungnya.

From HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang