Part 8 - The Day I Found U | 2

1.1K 218 8
                                        

"Yang. Aku lihat IG-nya Freya, kan log in tuh di HP aku, ada yang spam like masa. Lihat deh, Namanya Angga."

Dion meraih ponsel yang Maisy tunjukkan padanya barusan, pria itu mengerutkan keningnya kemudian ekspresinya berubah cemberut, "Aku nggak suka ya anakku mulai digodain cowok. Aku aja belum jadi nomor satu buat dia."

"Nomor empat kali! Satu sampai tiga kan Ibu," sahut Maisy.

"Nomor lima kalau gitu."

Maisy diam karena tahu maksud Dion, nomor empat pasti Ayahnya Freya yang sudah meninggal bukan?

"Pokonya aku aja belom masuk prioritas, enak aja nih anak cowok udah caper," dumel Dion.

Maisy tertawa, "Freya tuh lebih seneng kamu jadi abangnya deh kayaknya, ketimbang jadi Bapaknya."

Dion menatap Maisy dan berkata, "Kamu aja bisa jadi Mamanya atau Kakaknya, ya sama. Aku juga bisa jadi Papanya atau Abangnya. Fleksibel aja lah aku. Asal bisa tetep sama Mamanya."

Ucapan Dion mendapat respon ledekan dari Maisy, namun Dion yang melihat ekspresi wajah istrinya malah gemas dan berakhir dengan memeluk Maisy dengan erat. Dia bahkan mengunci tubuh Maisy dengan kakinya, membuat Maisy berkali-kali memukuli tangannya, memintanya untuk melepaskannya.

"Yang nanti—"

"Bundaaa!"

Refleks, Maisy menjauhkan tubuhnya dari Dion. Ia bangkit dengan cepat dari sofa dan berjalan menuju pintu sementara Dion mengerjapkan matanya. Astaga, memang sulit untuk bermesraan dengan istri ketika ada anak di antara mereka.

Bangkit dari posisinya, Dion berjalan dengan cepat, menyusul langkah Maisy dan mencium pipinya tiba-tiba, "Biar aku aja yang buka pintunya," katanya.

Maisy tersenyum. Ya sudah, kalau Dion yang mau membuka pintu. Maisy memutuskan untuk diam di belakangnya sementara Dion membuka pintu dan menyapa Freya yang baru saja pulang sekolah.

"Halo anakku!"

Freya menatapnya dengan ekspresi wajah yang menganga.

"Gimana sekolahnya? Seru nggak? Kalau nggak seru, biar Om buatin sekolah!" ujarnya.

Freya menatap Dion dengan ngeri kemudian menatap Ibunya, namun Maisy hanya memberikan isyarat tangan di keningnya, "Nggak usah dianggep, emang rada-rada kan dia," kata Maisy seraya berlalu dari hadapan mereka.

Dion hanya terkekeh seperti orang bodoh. Tetapi dia melihat ekspresi wajah Freya yang tak seceria biasanya, "Eh? Kok cemberut? Jangan cemberut gitu cantik. Sini, cerita sama Om. Siapa yang bikin anak Om cemberut gini pas pulang sekolah?"

Freya menghela napasnya, "Masa aku dibilang sasimo," adu Freya.

Memang lucu sebenarnya, tingkah Freya benar-benar tak bisa ditebak. Ada saat di mana Freya seperti orang yang masih belum bisa menerima Dion, tetapi ada saat di mana dia juga seperti ini, kadang bisa mengadu padanya. Dan ... bagaimana ya, rasanya menyenangkan ketika Freya bisa mengadu seperti ini padanya. Mau menjawab pertanyaannya saja sudah luar biasa, apa lagi mengadu seperti ini.

"Sasimo apaan? Siapanya Sasimi?" tanya Dion polos.

Mendengar pertanyaan Dion, Freya menatapnya dengan tajam, "Bukan makanan!" protesnya. Ia mengerucutkan bibirnya, "Bunda! OM DION NGGAK ASIK!" teriak Freya.

From HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang