TAMAT & PART LENGKAP
May contain some mature convos and scenes.
Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai.
Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar.
Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
vote, komen dan followakun WP ini + IG & X & Tiktok @akudadodado. Thank you
🌟
"I honestly don't give a flying shit. Yang gue bingung, peran kita di pembicaraan ini apa?" bisikku gemas. Perhatianku ke tiga orang yang asyik mengobrol sudah hilang di kata dinasti politik. Aku tahu tidak ada satu pun pembicaraan ini yang menyangkut diriku atau pun Karenina.
"How the heck would I know. Selama Eyang kasih dress YSL, gue bakalan duduk anteng di sini."
"Murah banget hidup lo."
Karenina terkesiap mendengar ucapanku, kemudian menatapku tajam. "Nggak ada yang murah dari dress ini," desis Karenina dan aku tahu kalau aku akan menerima ceramah dua SKS mengenai dress yang ada di tangannya itu jika saja kami tidak mendengar dehaman yang memecahkan gelembung dunia kami.
Aku menggeser bokong agar dudukku yang semula sudah menghadap sahabatku, kembali ke depan.
"Di sini masuknya mereka," ucap Eyang yang membuatku kebingungan. Apa yang aku lewatkan? Aku dan Karenina masuk ke mana?
Mataku lari ke Benjamin lalu Beau yang sama-sama terdiam. "Ada apa?" Aku berbicara pelan ke Beau yang masih juga tutup mulut. Aku dan Karenina hanya dapat melongo saat tiga pasang mata fokus ke arah kami. Menaruh perhatian penuh pada setiap gerakan kecil yang kami buat, seakan kami adalah kelinci percobaan.
"Kita sudah background check kan sebelum memperkerjakan mereka? Mereka harusnya sudah aman." Beau akhirnya membuka suara. Tapi yang iutarakannya bukan apa yang memuaskan rasa penasaranku.
"Jadi ini maksud Eyang waktu memaksa kami memperkerjakan personal chef?" ketus Benjamin yang sudah menengadah menghadap langit-langit rumah dan lehernya bersender di bagian atas punggung sofa. "I should have seen this coming. Nggak mungkin Eyang ngelakuin sesuatu kalau nggak ada sesuatu di baliknya."
Sementara itu aku panik sendiri dengan kondisi seperti ini hingga tanganku dingin dan berkeringat. Aku tidak tahu apa yang mereka bahas, tapi bulu kudukku berdiri di sepanjang tangan. Aku lagi-lagi menyenggol Karenina, tetapi dia juga sama bloonnya denganku. Seharusnya aku ingat ucapan guruku sejak dulu kalau mengborol sendiri selama orang lain berbicara akan membuatmu terlihat bodoh. Karena sekarang aku merasa benar-benar tolol.
"Eyang," kesah Benjamin putus asa, "yang benar aja? Karenina personal chef-ku. Orang-orang akan berprasangka yang tidak-tidak kalau tahu. Nggak bisa profesional lah, cinlok lah."
Untuk kali ini, Beau menangguk. Pertanda dia setuju dengan Benjamin.
"Siapa yang bilang Karenina? Maksud saya itu Leah."
Jariku otomatis naik dan menunjuk diri sendiri tepat di hidung. "Aku? Aku kenapa?"
Tiga orang itu mengabaikanku dan masuk ke dalam pembicaraan ini lebih dalam.
"Eyang. Apa bedanya mereka sama orang-orang yang Eyang benci? Mereka tipe yang menikah untuk mengubah nasib dan sudah pasti karena uang."
Benang yang menjuntai di obrolan ini akhirnya menyatu dan aku sadar muara dari obrolan ini ke manaKesabaranku menghadapi cowok ini putus dan aku membalas ucapan yang tidak ditujukan padaku. "Siapa juga yang mau menikah sama dia? Enggak, terima kasih. Mending aku jadi perawan tua."
"Lo yang bilang dia ganteng dan banyak yang suka."
"Bukan berarti gue mau nikah sama dia juga. Ogah amat. Lagian, Eyang juga maunya lo kok, bukan gue. Iya, kan, Eyang? Aku masih kemudaan buat nikah, terus juga beda umurnya..." Karenina tidak menggenapi ucapannya yang aku sambar dengan cepat.
"Dia ketuaan. Kayak nikah sama om-om. Lagian lo sama gue beda usia juga cuma dua tahun. Gue juga masih kemudaan buat nikah."
"Saya sudah punya anak waktu seumuran kalian," sahut Eyang.
"Tapi itu abad keberapa?" balasku yang dihadiahi delikan Eyang dan tawa Beau.
"Kalau dua orang ini saja menolak kamu, bagaimana sama orang lain?" sindir Eyang kepada Benjamin.
"Sebentar, kenapa kedengerannya aku sama Kare standar terendahnya, ya?"
Eyang mengabaikan pertanyaanku dengan kibasan tangannya. "Kalau kamu tidak mau, dana kampanye yang kamu minta tidak akan saya berikan."
Benjamin menepuk pahanya dan berdiri. "Kalau memang tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku dan Beau pulang dulu."
"Saya kasih kamu waktu satu minggu untuk kamu berpikir. Kalau tidak mau, saya akan kasih dana kampanye ke lawan politikmu."
Tubuh Benjamin berhenti bergerak selama satu tarikan napas lalu dia menggelengkan kepalanya dan pergi diikuti oleh Beau. Untuk aku yang buta politik, ini ancaman yang sudah pasti akan membuat Benjamin ketakutan. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak dapat memahami hal sesepele ini. Bahkan tanpa konteks pun aku dapat tahu pasti. Terutama karena aku sempat mendengar kalau dana kapanye Benjamin yang macet dari sponsor lain.
"Aku juga mau pulang," gumamku.
"Kamu bisa sekolah masak sesuai yang kamu mau kalau kamu menikah sama Benjo." Eyang memberikan jeda sebelum melanjutkan, "Adik kamu juga bisa sekolah kedokteran sampai selesai koas. Bahkan lebih dari itu. Ibumu nggak perlu berjualan lagi."
14/7/23
Wkwk ditolak mentah-mentah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.