Question of the day: lebih suka nonton apa baca novel yang di-filmin?
vote, komen dan follow akun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados
Thank you :)
🌟
Pasar adalah area ekspertise-ku. Ibu dulu sempat berjualan sayur di sana. Jika sedang tidak sekolah, aku akan membantu Ibu semenjak subuh. Menerima sayur-sayuran dari kuli panggul, lalu mendistribusikannya ke beberapa pelanggan Ibu yang sudah mengantre. Entah mereka gunakan untuk dijual kembali, atau untuk memenuhi pasokan rumah makan mereka.
Jika orang menyangka berjualan sayur hasilnya tidak seberapa, maka mereka salah besar. Penghasilan ibu lumayan utuk memenuhi hidup kami sehari-hari dan juga sedikit tabungan untuk kuliahku. Selebihnya, Ibu selalu memutarnya untuk membeli sayuran guna dijual kembali.
Kami tidak kekurangan. Terlebih hanya hidup bertiga dengan Ayah yang juga bekerja sebagai sopir. Kendati jarang pulang ke rumah, Ayah tidak pernah lupa mengabari melalui sambungan telepon untuk sekedar menanyakan kabarku dan bagaimana sekolahku hari ini.
Namun, semenjak sakit-sakitan, ibu terpaksa berhenti dan berjualan nasi uduk di rumah. Pendapatan kami otomatis menurun, terutama dengan tambahan satu mulut untuk diberi makan.
Mendatangi pasar membawa memori lama yang membuat kedua sudut bibirku naik ke atas. Tidak ada aroma parfum mahal di sini. Hanya bau keringat orang yang bercampur cologne murahan dan aroma amis dari daging. Tambahkan juga lalat berukuran besar yang hilir mudik bersama rombongannya, berdengung dari segala arah, dan suara manusia yang sibuk bercakap-cakap dan juga saling tawar.
Cowok di sebelahku, Benjamin, berusaha tampak santai dan melemparkan senyum setiap aku menoleh untuk memastikan dia mengekori. Dia tampak ingin membaur, tapi aku tidak sebodoh itu untuk tahu mana orang yang memang sering mendatangi pasar dan mana yang hanya berpura-pura. Aku veteran di perpasaran.
Benjamin masuk klasifikasi terakhir, jika dilihat dari hidungnya yang berkerut dan mulutnya yang terbuka untuk bernapas semenjak kami memasuki area pasar tradisional. Mendatangi area pasar untuk blusukan tentu berbeda dengan orang yang memang datang untuk berbelanja. Jadi, saat tadi dia ingin datang ke sini dengan kemeja, pantalon, dan sepatu mengilat seperti akan melakukan kampanye, aku terbahak. "Kita mau pura-pura belanja. Bukan mau cari simpatisan secara terang-terangan. Kita akan ke pasar tradisional. Kamu bisa pakai kaos, celana pendek, dan sandal saja." Yang langsung disetujui oleh Beau.
Jadi, Benjamin sekarang memakai tiga item yang tadi aku sebutkan, meskipun rambutnya masih anti badai karena gel yang kayaknya dipakai satu jar. Tidak heran dia lama sekali bersiap-siap tadi. Aku harus menunggu setengah jam untuk dia keluar kamar.
Bagian terbaik dari pasar adalah tidak ada orang yang memperhatikanmu. Mereka terlalu sibuk, sampai ada satu orang yang membuka mulut and all bets are off.
Satu bisikan dari ibu-ibu tempatku dan Benjamin membeli sayuran dan bumbu dapur yang menanyakan "Itu Benjo ya, Mbak?" Dan aku angguki membuat kerumunan ibu-ibu mengerubungi kami seperti lalat.
"Tuh, kan! Bener ini Benjo."
"Aduh, lebih ganteng dari di TV."
"Tinggi juga." Satu ibu berbisik ke yang lainnya yang ditanggapi dengan, "Iya, gagah banget. Kayak suami gue waktu muda."
Sedangkan cowok yang menjadi pusat perhatian setengah kaum hawa di pasar ini hanya mengangguk dan tebar pesona ke semua orang, tidak peduli usianya. Aku seperti kasat mata hingga ada seseorang yang menaruh perhatian ke sosok cewek yang ada di sebelah Benjamin, yaitu aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
How This Story Ends [FIN]
RomanceTAMAT & PART LENGKAP May contain some mature convos and scenes. Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai. Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar. Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
![How This Story Ends [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/342868945-64-k890247.jpg)