How This Story Ends - 38 - Foto Kaki & Malapetaka 18.1

9.2K 748 64
                                        


Question of the day: kekuatan super mata xray apa napas dalam air?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)

🌟

Benjamin mengurung diri di ruang kerjanya bersama Beau. Aku dan Karenina mengurung diri di dalam kamar. Lebih tepatnya duduk di pintu yang memisahkan dengan taman belakang yang sudah kami buka lebar. Pahaku menempel dengan dada, kedua tanganku memeluk kaki erat dan daguku menempel di dengkul.

Malu yang menjadi emosi paling besar bercokol di dalam dadaku. Sebelumnya ini tidak pernah aku rasakan. Aku tidak merasa melakukan hal yang salah. Itu hanya foto kaki. Aku tidak memamerkan dada atau bagian tubuh intimku dan menjadikannya konten. Itu hanya kaki dan itu pun hanya pergelangan hingga jari. Bukan dari betis atau paha.

Selain itu, rasa bersalah juga menusukku. Takut akan apa yang terjadi benar-benar akan menjegal langkah Benjamin di pemilu. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah menggelayutiku seumur hidup.

"Gue foto begitu kan juga bukan buat foya-foya, Re. Gue perlu buat uang sekolah Bora. Nyokap sakit-sakitan, jadi jarang jualan. Gaji bokap buat bayar utang. Gue mesti biarin Bora nggak sekolah dulu, gitu?"

Ini bukan hal yang dapat aku banggakan, tetapi kalau disuruh melakukannya lagi dengan alasan yang sama, aku akan mengulanginya. That's how desperate I am.

"Lo nggak perlu jelasin ke gue, Le. Gue kan tahu lo gimana. Minum dulu." Karenina menggeser cangkir teh lemon dan madu yang sudah kehilangan uapnya semenjak lima menit yang lalu. "Itu akun yang sama dengan yang bikin utas sebelum-sebelumnya. Seenggaknya jadi tahu kalau itu bukan Benjo, gue jadi yakin itu akal-akalan lawan politiknya."

"Jahat banget gue yang dikulik. Picik banget juga berita kayak gini dikeluarin waktu masa tenang."

"Sabar ya, Le." Karenina mengelus punggungku. "Benjo tadi bagaimana?"

"Dia langsung masuk ke ruang kerjanya. Gue nggak dikasih kesempatan buat jelasin." Aku membuang napas melalui mulut. "Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, sih. Dia juga nggak bakalan ngerti bagaimana rasanya terdesak dan nggak punya uang." Aku tidak tahu mana yang lebih parah sakitnya; waktu berita in tersebar, atau sewaktu Benjamin tidak memberikan ruang untuk penjelasan. Sisi rasionalku mengatakan kalau dia perlu mengatur rencana, tetapi hatiku tetap berdenyut nyeri.

Ponsel Karenina berbunyi, dia menunjukkan layarnya kepadaku. "Eyang dari tadi nggak berhenti hubungin gue dan tanya kabar lo." Nama Eyang muncul di layar panggilan.

"Gue lagi nggak mau ngomong sama orang."

"Gue sudah bilang itu, tapi ini kayaknya batas Eyang bisa sabar denger alasan itu, deh." Karenina memencet tombol hijau dan benar saja suara Eyang langsung membahana.

"Kamu bilang ke Lele, kalau nggak mau bicara di telepon, saya ke sana sekarang." Eyang menambahkan dengan cepat. "Lupain. Saya ke sana sekarang." Tidak ada yang sempat mengeluarkan suara dan Eyang sudah menutup panggilannya.

"Buset, ini nenek-nenek nggak mau denger omongan orang. Dia ngoceh sendiri, langsung tutup telepon."

"Cucu sama neneknya memang kayak pinang dibelah dua sifatnya."

**

Benjamin sampai malam di ruang kerjanya. Begitu tiba pun Eyang langsung masuk ke sana dan satu jam yang lalu keluar. Beliau duduk di salah satu kursi meja makan, diapit olehku dan Karenina. Beliau tidak banyak bicara. Hanya meminta teh dan buah potong karena tidak lapar saat aku tawari makan malam.

But I never like dancing around the elephant in the room. Udara yang menggantung di setiap sudut rumah ini juga membuatku sesak. Kalau mau nyebur, sekalian saja basah semuanya. "Eyang, aku nggak diceramahin? Eyang cuekin aku kayak Benjamin. Ini fatal ya, Eyang?"

"Dia cuekin kamu?" Eyang berdecak lalu menaruh cangkirnya di atas saucer. "Ngapain saya ceramahin kamu? Saya dari awal tahu kok kamu bikin apa yang anak-anak sekarang bilangnya?"

"Konten," sahut Karenina.

"Iya. Kamu kan sering foto di bathtub saya. Ini masalah sepele, buat ditutupin gampang karena nggak ada yang kasih lihat kalau itu beneran kamu. Dikasih isu artis juga langsung geser perhatian orang-orang. Benjo lagi gugup aja karena pemilu sudah tinggal tiga hari lagi. Cucu saya yang nggak berguna itu bilang apa?"

"Katanya aku melanggar norma dan adat timur kita."

"That little shit. Bisa-bisanya dia ngomongin norma dan adat timur."

Topik ini jika dibahas pagi tadi pasti sudah memantik rasa penasaran dan jiwa ghibahku, tapi sekarang aku bahkan tidak mau bertanya maksudnya apa, atau pun mengomentari Eyang yang memanggil cucunya sendiri little shit. Ingin menyetujui panggilan itu juga aku tidak ada minat.

"Kamu tenang saja. Ada berita lain yang lebih bermutu buat dibahas orang-orang. Kaki kamu sama sekali nggak menarik buat digosipin."

"Buat beberapa orang menarik, makanya ada yang rela keluar uang," belaku.

Eyang membulatkan matanya kepadaku. "Bisa-bisanya kamu sombongin itu sekarang."

"Tadi Eyang yang suruh aku tenang."

"Tenang, tapi tunjukin kamu menyesal juga."

"Tapi aku nggak menyesal," kesahku. "Kalau aku ada di posisi yang sama, I will do it again in a heart beat. Dari mana aku bisa cari uang jutaan buat keperluan Bora kalau tabunganku yang nggak seberapa juga ludes untuk bantu bayar utang Bapak? Aku sudah tanya bolak-balik ke Ibu soal uang sekolah Bora, katanya ada. Tapi seminggu sebelumnya Bora hubungin kalau uangnya nggak ada.

"Aku nggak hidup bergelimang harta dan makan pakai sendok emas kayak cucu Eyang. Opsi yang aku punya juga terbatas; itu atau terima tawaran gadun buat kencan. Pinjol nggak masuk ke radarku karena takut nggak sanggup bayar. Foto kaki paling harmless. Dulu juga nggak mikirin siapa yang bisa terluka dari foto begitu doang. People like me live for today's problem. I don't have the previledge to worry about tomorrow. It's a luxury I can't afford."

Eyang meneliti wajahku. Sinar matanya melembut dengan sedikit rasa bersalah bergelayut di sana. "Kamu mau saya apain dia? Umur saya sudah tua, nggak bakalan lama kalau ada di penjara."

Butuh tiga detik untuk aku memikirkan Eyang tengah bercanda atau tidak dan memutuskan kalau lebih memungkinkan yang pertama. Aku tertawa. "Eyang, nyeremin banget!"

"Untung juga lo nggak terima tawaran gadun, ya. Coba dulu lo ambil, padahal duitnya lebih gede dari foto kaki doang." Karenina yang selalu berusaha melihat sisi positif dari segala hal menimpali obrolan ini dengan lagak bijaknya.

"Kalau gue ambil, gue juga nggak bakalan di sini. Antara sudah ambil sekolah atau sibuk porotin glucose guardian dan jadi simpanannya. Gue lagi mempertimbangkan mana yang lebih mudah, jadi sugar baby apa istrinya politikus. Denger-denger kehidupan para sugar baby juga nggak mudah. Persaingannya ketat."

"Glucose guardian?" Eyang membeo ucapanku.

"Soalnya ini duitnya lebih banyak dari sugar daddy, jadi sebutannya glucose guardian. Ada klasemennya sekarang buat per-daddy-an."

🌶️🌶️🌶️

Haloo, aku repub cerita ini yaa. As usual ekstra part dan atau buku kedua akan ada di WP jika target bintang 3.2K dan komen 1.2K per part tercapai 6 bulan setelah part terakhir up. Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :(
Met baca!

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang