TAMAT & PART LENGKAP
May contain some mature convos and scenes.
Leah memerlukan uang agar cita-citanya tercapai.
Benjamin memerlukan istri untuk memuaskan sponsor agar karier politiknya semakin lancar.
Mereka setuju untuk membantu satu sama lain. Sa...
vote, komen dan followakun WP ini + IG & X akudadodado & Tiktok dadodados
Thank you :)
🌟
Aku dapat libur dari Beau untuk dua hari. Begitu pula dengan Karenina yang mau tidak mau tidak pergi ke rumah Benjamin. Tidak lain karena rumah sahabatku yang dibanjiri wartawan di depan rumah, dan tidak ada pintu belakang untuk kabur diam-diam. Skalanya lebih parah dari kali pertama mereka memenuhi depan pagar.
"Lo kenapa nggak bilang-bilang kalau berita soal pertunangan lo sama Benjo bakalan naik hari ini? Tahu gitu gue bisa nyetok camilan dulu." Karenina mengintip dari balik tirai. "Ini abang ojek online juga nggak bakalan bisa lewat. Atau kalau bisa pun, kita nggak bisa ambil tanpa difoto."
Aku duduk di karpet, menonton series karena tidak ada hal lain yang dapat aku kerjakan. Internet terlalu menakutkan untuk dibuka sekarang. Terutama media sosialku yang kebanjiran permintaan teman dari orang-orang yang tidak aku kenal. Kalau pun kenal, hanya satu sekolah, tanpa pernah mengobrol sebelumnya.
"Itu makanya lo dari pagi sudah dandan dan pakai baju cantik gini padahal di rumah doang?" Aku meneliti penampilan Karenia dari atas sampai bawah. Dia memakai peplum top dan pencil skirt. Kakinya yang sudah jenjang terlihat makin jenjang karena dia menggunakan high heels. "Gue pikir yang jauh doang yang mau ikutan riding the wave, ternyata yang deket yang lebih parah."
"Lo nggak lihat orang-orang di luar sana siap hujanin blitz ke siapa aja yang buka pintu?" Karenina menunjuk dengan ibu jari yang melewati bahu. "Gue juga berkorban buat lo. Kalau ada paket yang datang, atau kita pesen makan, lo pikir siapa yang bakalan ambil?" Ibu jari itu kini pindah ke depan hidungnya.
"Lagak lo. Bilang aja lo juga mau tampil depan kamera."
"Emang. Gue kan perlu cari calon suami juga. Mumpung ada media nasional yang ngeliput dan kemungkinan wajah gue bakalan ada di mana-mana kalau dipotret, itu berarti kesempatan calon suami gue bakalan lihat, gue mau tampil paripurna. Siapa tahu ada politikus yang mau minang gue juga."
"Ada. Noh, bapak-bapak buncit yang mau jadiin lo istri keempat. Itu baru melimpah di luar sana."
"Yang bener aja jadi istri keempat. Dia mokat, gue nggak dapet apa-apa lagi selain ampasnya doang."
"Atau lo bersihin pampersnya kalau ntar dia boker."
"Yap. Nope. Gue kalau nikah sama bapak-bapak buncit juga maunya jadi istri satu-satunya biar bisa jadi cougar."
"Masa depan lo sudah tertata rapi ya mau kayak gimana."
"Tentu. Setelah lulus sekolah kuliner, gue mau dibukain restoran sama gadun gue."
"Cari gadun yang malam pertama kalau gerak langsung ilang napasnya."
Karenina diam selama dua tarikan napas lalu terbahak. "Berengsek. Gue jadi bayangin sama aki-aki yang buat narik napas aja perlu bantuan oksigen. Belum ngapa-ngapain gue mesti ngatur oksigennya."
"Garansi uang kembali berkali-kali lipat. Seengaknya lo jadi kayak Eyang."
Karenina masih tertawa saat duduk di sebelahku. "Gue nggak berani buka internet gara-gara lo, nih."
"Same, Sis. Gue bahkan nggak berani buka ponsel. Lo bayangin aja, sepupu gue yang nikah sama Edo bahkan sampai hubungin gue."
Mata Karenina membulat seakan mau keluar. Aku menunjukkan ponselku yang berisikan ratusan pesan singkat dari banyak orang, dan memilih nama sepupuku untuk kuperlihatkan kepada Karenina. "Setelah selingkuh diam-diam, hamil bikin rusuh, sekarang dia baru hubungin gue dan nanya kabar."
"Selingkuh mah emang diam-diam kali, kalau ramean jadi musyawarah warga."
"Bener juga." Aku mematikan ponselku yang sekali lagi berkedip tanpa pesan singkat masuk. "Gue mau bales, tapi ngeri dia screenshoot terus masukin ke medsos. Orang sekarang ngeri-ngeri. Apa-apa dimasukin twitter buat cari clout."
"Tapi, ya, kalau gue jadi lo, gue bakalan manfaatin ini buat cari clout. Misalnya lo mulai bikin konten apa gitu. Lo nggak lihat banyak banget sekaran istri-istri orang penting yang terjun ke medsos juga?"
"Lo nggak lihat juga itu yang bikin suaminya kena kasus korupsi?"
"Siapa yang nyuruh lo buat pamer duit? Duitnya aja lo nggak punya. Main cantik, dong. Pamer kemampuan. Mumpung lo lagi jadi sorotan. Ini free marketing. Lo lakuin apa pun bakalan jadi bahan omongan." Sahabatku mengambil ponselku dan membuka salah satu akun media sosial yang aku punya. Dia menarik napas dari mulut dan terdengar seperti orang bengetk. "Nih, lihat. Lo punya banyak banget request. Lo habis ini harus tag gue kalau post foto berdua."
"Bentar, gue mau lihat akun lo yang lain." Jari sahabatku bergerak-gerak di atas layar dan lagi-lagi dia bengek. "Gila, twitter lo juga kebanjiran orang-orang."
"Errr, Le. Kayaknya lo nggak bakalan suka sama yang ini."
"Apa?"
Karenina menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu menyerahkan ponsel kepadaku. "Gue benci banget bawa kabr buruk ke lo. Tapi, menurut gue yang ini keterlaluan."
Aku membaca berita di link yang disematkan di salah satu utas twitter. Dari sana ada Id yang memberikan cerita mengenai: "Leah memiliki adik tiri hasil perselingkuhan Ayahnya." Aku tersedak air liurku sendiri hanya dengan membaca judulnya saja.
Karenina kabur dan kembali dengan segelas air minum yang langsung aku tenggak. "Lo beneran di pretelin, Le."
2/8/23
Haloo, aku repub cerita ini yaa. As usual ekstra part dan atau buku kedua akan ada di WP jika target bintang 3.2K dan komen 1.2K per part tercapai 6 bulan setelah part terakhir up. Jadi, ada atau enggak tergantung yang baca mau komen dan pencet bintang atau enggak yaa, jangan protes ke aku :( Met baca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.