How This Story Ends - 43 - Awal & Akhir 22.1

13.1K 809 60
                                        



Question of the day: baca buku atau denger musik?

Vote, komen, share cerita ini, dan follow akun WP, TT dadodados + IG & X akudadodado. Thank you :)
🌟

Pelantikan Benjamin sudah berlalu tiga bulan yang lalu. Dia sudah mulai bekerja di Balai Kota dengan kesibukan yang lebih parah dari dugaanku. Benjamin akan berangkat pukul enam tepat dan pulang tidak pernah kurang dari pukul delapan malam. Aku yang terbiasa tidur dengan Benjamin, sudah dapat dipastikan akan menunggunya pulang setiap malam. Yang omong-omong, lebih sering di pukul sebelas malam.

Gebrakan yang diberikannya, berupa program yang semuanya serba mengandalkan komputer dan minim interaksi dengan masyarakat. Guna mengurangi praktik uang yang marak terjadi. Itu sudah menjadi rahasia umum dan baru beberapa hari bekerja, Benjamin berencana mengoreksi semuanya. Dia menjadi sosok penuh kontroversi dengan kebijakannya.

Sabtu juga digunakan Benjamin untuk bekerja. Minggu untuk membaca aduan masyarakat ke nomor hotline yang disediakannya. Atau dia membuka media sosialnya dan membalas tweet netizen yang mengadu. Semua media sosialnya berisi aduan, hingga dia memiliki satu asisten khusus untuk mencatat aduan dan mengurutkan tingkat kepentingannya untuk didahulukan.

Beberapa program dari gubernur sebelumnya pun ada yang tidak dilanjutkan oleh Benjamin. Dengan terang-terangan dia mengatakan kalau program itu tidak menguntungkan masyarakat dan dia akan menggantinya dengan program lain. Aku memang tidak tahu banyak mengenai politik, tapi setelah itu, serangan banyak dilancarkan ke Benjamin.

Aku ingat bagaimana Beau menggambarkan Benjamin sebagai sosok yang vokal, dan ini semakin membuatku takut. Politik bukan tempat yang bersih. Jegal menjegal banyak dilakukan dengan berbagai cara. Terutama dia tidak memiliki backing partai politik yang kuat.

"Kamu nggak istirahat dulu? Aku amaze kamu belum kena tipus, padahal istirahatnya dikit banget. Kalau kamu sakit bagaimana?" Aku mengurut bahu Benjamin yang sangat kaku.

Benjamin menepuk tanganku yang ad di bahunya sekali. "Bagaimana nggak kuat kalau kamu pastiin intake aku sehat, camilan juga nggak ada yang nggak sehat. Sepuluh menit, ya? Setelah itu aku tutup tablet."

Tepat di menit kesepuluh, Benjamin meletakkan tabletnya di atas coffee table. Tumit telapak tangannya menutup kedua mata.

"Kamu mau jus?" Berat Benjamin turun. Itu membuatku khawatir.

"Enggak. Thank you. Kamu istirahat saja. Kata Kare kamu lagi lemes akhir-akhir ini." Benjamin menarik tanganku agar duduk di sebelahnya.

"Aku nggak nyangka kalau kamu bakalan terusin program dapur umum dengan skala yang lebih besar dan kita juga dapat sponsor, aku sampai sekarang nggak tahu siapa sponsornya, nggak terlalu peduli juga, sih. Terus tambahan karyawan tetap untuk masak dan prepping bahan." Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Benjamin. Tangannya langsung bermain dengan rambutku. "Terus aku harus datang juga ke beberapa acara sebagai Ibu Gubernur. Itu aja bikin aku capek, bagaimana kamu yang beneran kerja dan muncul di mana-mana. Aku kalau tanya Beau kamu lagi di mana pagi, sejam lagi jawabannya bisa beda."

"Kamu kontak Beau buat tanya aku di mana?"

"Kontak kamu bakalan dibalasnya berjam-jam kemudian," cibirku bercanda.

"Sori, ya?"

"Aku bercanda." Aku menyikut perut Benjamin.

"Kamu juga kerja. Pagi-pagi di rumah Beau. Siang sampai malam di dapur umum. Kalau kurang orang, kamu tambah saja. Biar nggak terlalu capek."

"Nanti aku lihat dulu." Aku tiba-tiba teringat Eyang yang belakangan ini aku kunjungi karena khawatir. Beliau jarang mengangkat telepon dan tidak membalas pesan, jadi satu-satunya cara mengetahui kabarnya adalah dengan berkunjung ke rumahnya. "Kamu sudah lama nggak kunjungin Eyang kayaknya, ya?"

How This Story Ends [FIN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang